Gus Mus: Saridin, Intinya Agama

0
213
Foto bersama sejumlah tokoh yang hadir dan turut memeriahkan acara puncak Dies Natalis ke 49 UIN Walisongo dalam acara Ngaji Budaya dan Peluncuran Buku Kiai Saridin, Sabtu (6/4/2019)./Foto: Addib Justisia

Semarang, Justisia.com – Ngaji Budaya dan peluncuran buku Canda Kiai Saridin jadi peringatan malam puncak Dies Natalis UIN Walisongo Semarang ke 50. Buku karya Rektor UIN Walisongo Prof. Muhibbin tersebut diluncurkan didedah di Gedung Serba Guna (GSG) UIN Walisongo, Sabtu (6/4/2019).

Muhibbin mengatakan bahwa isi buku Kiai Saridin bukan tentang sosok tokoh Kiai Saridin yang familiar di masyarakat Pati. Melainkan Kiai Saridin sebagai simbol semangat sosok kiai kampung yang oleh karena peran dan jasaya, Muhibbin berkenan untuk mengaktulisasikan kembali di masa sekarang hal-hal demikian melalui bukunya .

“Buku saya memang tidak ada kaitannya dengan Syeh Saridin (Kiai Jangkung) di Pati. Namun di sini saya megambil nama Saridin untuk menapilkan kebali sosok kiai kampung yang sangat memiliki banyak jasa di era sekarang,” ujar pria asal Demak.

Muhibbin mengatakan betapa besar peran dan jasa kiai-kiai kampung selama ini. Maka sudah sepantasnya kita tetap mempertahankannya. Terlebih saat ini munculnya ustaz-ustaz yang tidak memiliki peran sebesar kiai kampung.

“Yaitu kiai yang betul betul mumpuni yang dia punya ilmu, ekonomi, dekat dengan semua pihak, peduli dengan semua orang dari berbagai kalangan. Ini menjadi momen kita untuk membela kiai kiai kampung, yang saat ini sering kita lupakan karena munculnya ustaz-ustaz baru,” ujarnya menjelaskan.

Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sambutannya mengapresiasi pengambilan tema Kiai Saridin. Penggunaan nama Kiai Saridin sebagai tokoh dalam buku tersebut sebagai pembawaan kembali semangat dan karakter kiai yang sesuai untuk hadir dalam kondisi seperti saat ini.

“Tema Kiai Saridin tidak lagi menjadi legenda yang diperdaya, tapi sudah menjadi tokoh yang menasihati banyak orang. Kiai Saridin digunakan sebagai gagasan Pak Muhibbin untuk dijadikan sebagai semangat. Saridin itu sari, artinya inti, din itu agama. Maka intinya agama,” terang Gus Mus dalam sambutannya.

Selain itu tampak juga hadir beberapa tokoh budayawan, akamdemisi, keagamaan dan sebagainya. Seperti di antaranya; Cak Kirun, Sosiawan Leak, Prie GS, dan Timur Suprabana yang turut tampil dalam acara ini. (Rep: Mufti/Red: Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here