Gus Dur dan Pemikiran Keislaman

0
77
Gambar: boombastis.com

Oleh: Nur Hikmah

Sekilas profil Dr. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur. Lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940 di lingkungan keluarga pesantren yang kental dengan budaya nahdliyin. Beliau meninggal di Jakarta pada usia 69 tahun pada 30 Desember 2009. Ia juga pernah menjadi orang nomor satu di negeri ini interval tahun 1999 hingga 2001.

Ia menggantikan Presiden B.J Habibie setelah dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat hasil pemilu tahun 1999. Mandatnya pun dicabut oleh MPR pada tanggal 23 juli 2001. Gus Dur juga pernah menduduki jabatan Ketua Tanfidziyah (badan eksekutif) Pengurus Besar Nahdhatul Ulama di tahun 90 an. Serta merupakan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB.

Pemikiran Gus Dur

Salah satu tokoh muslim Indonesia ini mempunyai gagasan dan pemikiran yang terus dikaji, dipikirkan kembali, sekaligus diikuti bahkan setelah ia tiada. Tokoh kenamaan seperti K.H Mustofa Bisri, Ahmad Tohari, Marsilam Simanjuntak serta yang lainnya adalah yang memiliki kekaguman terhadap gaya Gus Dur juga pemikirannya.

Dalam hal ini setidaknya ada sembilan nilai utama Gus Dur yang diekstrak oleh sahabat dekat dan muridnya; yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, keseteraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatria, dan yang terakhir adalah kearifan lokal. Sembilan nilai ini tidak lepas dari sejarah hidupnya mulai dari mengajar di pesantren, mengurus dan merawat organisasi Nahdlatul ulama, hingga menjadi politikus dan Presiden.

Bagi para Gusdurian, murid-murid, dan pengagum Gus Dur yang ada di berbagai kota di Indonesia; seperti Semarang, Malang, dan lainnya mereka bertekad untuk terus melanjtukan garis pemikiran dan perjuangan Gus Dur.

Salah satu tokoh yang mendalami pemikiran Gus Dur, Greg Barton, menyebutkan bahwa gagasan dan pemikiran Gus Dur terklasifikasi menjadi 5 bagian, yaitu kekuatan Islam tradisional dan sistem pesantren, kelemahan Islam tradisional di Indonesia saat ini, dinamisasi tanggapan terhadap modernitas, pluralisme, dan yang terakhir adalah humanitarianisme dan kebijakan sosial politik.

Menurut Greg, pengklasifikasian Gus Dur ini meneguhkan diri sebagai orang yang senantiasa melakukan pembaharuan dengan tetap berlandaskan sekaligus mendayagunakan khazanah intelektual Islam tradisional yang ada.

Sisi penting dari pemikiran Gus Dur mengenai Islam

Bahwa orientasi keislaman yang dikembangkan Gus Dur adalah Islam yang pada tradisi kelokalan sekaligus kekinian bukan Islam yang berorientasi pada pemurnian atau purifikasi. Secara kultural masyarakat Islam di Nusantara berhasil mendialogkan tradisi Islam dengan tradisi lokal dan melahirkan beragam ekspresi kebudayaan seperti arsitektur bangunan, tari, dan berbagai perayaan keagamaan. Hal-hal seperti itulah yang menurut Gus Dur perlu didinamisasikan sepanjang waktu.

Pada dasarnya gagasan dan pemikiran yang dicetuskan Gus Dur berpijak pada pondasi tradisi dan kultur Islam yang sudah ada. Inilah salah satu alasan mengapa ia menjadi mudah diterima dikalangan pesantren dibanding pembaharu-pembaharu Islam lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here