Oleh: Winda Puspitasari

Namaku Tyke. Itulah nama yang diberikan oleh pelatih dalam sirkus yang aku tempati selama bertahun-tahun ini. Aku adalah gajah Afrika betina yang mereka tangkap semenjak aku masih sangat kecil. Selepas itu, mereka membawaku dan menjadikanku sebagai bagian dari pertunjukan sirkus mereka sampai sekarang ini.

CTARR!!

Aku sudah terbiasa dengan suara benda itu berbunyi, disertai teriakan kesakitan dari teman-teman sirkusku yang lain. Aku tidak sendiri, aku besar dan tumbuh bersama mereka yang sudah pasti merindukan kebebasan hidup, begitupun aku. Aku sadar, tempat kami bukan di sini. Hidup di tempat sempit dengan rantai-rantai yang mengikat pergerakan kami. Aku tidak tahu harus sampai kapan bertahan seperti ini.

Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana manusia-manusia itu memperlakukan teman-temanku dengan kasar. Demi uang dan keserakahan, mereka sudah tutup hati pada mahkluk lain untuk dijadikan korban. Kami tumbuh dengan penuh rasa ketakutan dan kekangan. Mereka memaksa kami untuk melakukan hal-hal yang bukan sepantasnya kami perbuat. Mereka akan menyakiti kami dengan benda-benda yang mampu membuat kami menuruti setiap perintah mereka. Takut, sakit, lelah, sudah pasti sangat.

Aku tahu, mereka para manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna, memiliki akal dan perasaan. Namun, kadang mereka lupa jika binatang juga makhluk hidup Tuhan yang memiliki perasaan. Walau kami tidak bicara dan hanya bisa meraung semestinya, kami juga bisa merasakan sakit secara mental dan fisik, takut, juga bingung harus bagaimana lagi untuk melindungi diri.

***

Hari ini adalah latihan keras bagi kami sebagai hewan sirkus. Manusia-manusia itu sudah siap dengan alat-alat yang mampu membuat kami tunduk. Berbagai macam gerakan yang sulit, mereka ajarkan pada kami secara paksa. Kami tidak dibiarkan beristirahat dan berhenti melakukan gerakan-gerakan aneh yang mereka inginkan.

Jika itu terjadi maka kesakitan dan kelaparan yang akan kami dapat. Bahkan raja hutan yang terkenal menakutkan mampu bertekuk lutut di bawah perintah manusia-manusia tak berperasaan itu. Aku selalu ketakutan jika mereka sudah melakukan pemaksaan dengan benda-benda yang mereka bawa itu.

Temanku, Beruang, mereka memukulinya dan mengikat mulutnya untuk bisa berdiri tegak, Orang Utan, manusia-manusia itu menggunakan alat berbentuk kotak untuk menyengatnya dengan listrik, dan yang sejenis denganku, agar bisa menurut, manusia-manusia itu menggunakan benda-benda tumpul untuk memukul kami dan menarik kami dengan rantai. Kami dididik dengan rasa takut dan penderitaan. Sangat sakit..

Aku melihat kera, teman kecilku dipukuli di sana. Dia hanya berhenti sejenak karena lelah, tapi wanita jahat itu memukulinya tanpa ampun. Hal itu juga sebagai gertakan untuk hewan yang lain. Mereka sengaja berbuat kasar di hadapan kami agar kami takut untuk berbuat salah. Mereka juga mendandani kami seperti badut.

Kami tidak suka, tapi harus bagaimana lagi? Demi uang, itulah manusia. Aku sudah bertahun-tahun hidup sebagai hewan sirkus, sudah puluhan kali pula menyaksikan sebagian besar teman-temanku mati karena sakit dan trauma. Terlebih teman-teman kecilku. Jeritan pilu, raungan putus asa, dan derita selalu menghiasi hari-hari kami.

Setiap pertunjukan, setiap sorakan dan tepuk tangan meriah dari penonton adalah hal yang aku benci. Mereka tidak tahu dan tidak mau tahu kenapa kami bisa melakukan hal-hal yang membuat mereka kagum. Mereka selalu menunggu aksi-aksi kami tanpa peduli bahwa di balik semua itu, kami menderita, kami stress berat bahkan sebagian tidak bisa bertahan dan mati.

Tuhan.. kapan keadilan berpihak pada kami? Kenapa Engkau memberikan manusia-manusia seperti mereka itu akal dan perasaan, tetapi mereka tidak menggunakannya. Tidak bisakah mereka melihat tatapan memohon kami untuk berhenti menyakiti kami? Demi lembaran itu, sampai mati hati menjadikan kami sebagai budak pertontonan, hiburan, melakukan aksi-aksi berbahaya. Manusia bersenang ria, sedangkan kami?

Walaupun hanya binatang dan tidak sesempurna manusia, tidak pantaskah kami untuk mendapatkan hak? Hak untuk hidup bebas.. Lelah.. sangat lelah. Banyak luka yang sudah tertoreh. Ingin sekali aku pergi dari tempat yang kejam itu. Pergi jauh, merasakan sesuatu yang semestinya kudapatkan, yaitu kebebasan.

***

Siang itu, saat aku hendak tampil di depan banyak orang kembali, aku tidak tahan, aku ingin bebas. Sangat lelah menjadi apa yang mereka mau. Kukumpulkan semua keberanian yang aku miliki untuk melawan. Wajah-wajah manusia dihadapanku ini sangat memuakkan, ingin kuhancurkan agar mereka tahu bagaimana rasanya disakiti.

Hancur! Semua orang berlarian menghindar karena kemarahanku. Aku melawan karena aku ingin merampas hakku kembali. Walau semua tenaga kukerahkan untuk berusaha pergi dari tempat terkutuk itu, ketakutan yang amat besar selalu mengiringi.

Aku terus berlari menyusuri jalanan yang tidak kukenal. Aku tidak tahu harus pergi kemana. Kakiku terus saja berlari untuk menghindar dari orang-orang yang berusaha menghalangiku pergi. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, orang-orang berseragam menghalangiku bergerak. Mereka membawa dan mengarahkan benda panjang kepadaku. Aku tahu benda apa yang mereka bawa. Itu adalah senapan, dan benda itu sangat mengerikan.

Ketakutan yang amat besar, bingung, dan sedih menjadi satu. Aku hanya bisa memandang sendu manusia-manusia yang mengarahkan senjatanya padaku. Apa mereka tidak bisa memahami apa yang aku rasakan saat ini? Aku mohon.. jangan halangi aku. Beri aku jalan, dan biarkan aku pergi.. Aku hanya ingin bebas. Aku berjanji tidak akan menyakiti kalian jika kalian tidak menyakitiku.

Sakit.. sangat sakit saat peluru-peluru itu masuk menembus kulitku. Aku ingin lari kembali, namun mereka semakin menghujaniku dengan peluru yang kurasa sudah mengoyak seluruh isi tubuhku. Apa salahnya seekor binatang sepertiku merindukan rerumputan yang hijau dan luas? Bermimpi menikmati segarnya air mengalir, dan berteduh di bawah pohon-pohon rindang. Bermain bersama sekawanan binatang yang sejenis maupun berbeda jenis denganku. Kemudian… menghabiskan sisa hidup dengan kebahagiaan berada dalam lingkunganku yang sebenarnya.

Aku bisa membayangkan itu. Sungguh hidup yang amat kuimpikan..

selesai

Cerita ini diadaptasi berdasarkan kisah nyata memilukan dari seekor gajah betina Afrika bernama Tyke yang hidup menderita selama 14 tahun dalam lingkungan sirkus. Gajah betina yang malang berusia 20 tahun tersebut mati dalam keadaan 87 butir peluru bersarang di dalam tubuhnya saat berusaha kabur dari tempat yang bukan habitatnya. Kejadian tersebut terjadi di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 20 Agustus 1994.

Tyke ditangkap di hutan saat masih bayi dan dibawa menuju Honolulu, Hawaii, untuk dijadikan salah satu hewan sirkus. Penderitaan dan penyiksaan sudah lama Tyke peroleh selama menjadi bagian dari anggota sirkus. Pada 20 Agustus 1994, sirkus tempat Tyke berada, mengadakan pertunjukan besar yang bernama Circus Internasional.

Tiba saat Tyke masuk, gajah betina tersebut mengamuk dan menendangi semua yang ada di hadapannya, termasuk sang pelatih dan instruktur. Awalnya penonton mengira aksi Tyke itu termasuk dalam pertunjukan. Namun keadaan menjadi semakin tidak kondusif karena Tyke ternyata benar-benar mengamuk dan beringsut keluar melarikan diri.

Setelah 30 menit keliling jalan raya dengan keadaan takut dan kebingungan, tidak tahu harus pergi kemana. Pelarian semakin berat lantaran polisi mengepung Gajah betina tersebut agar tidak menimbulkan keresahan berlanjut. Mereka ikut menembaki tubuh Tyke bertubi-tubi tanpa ampun. Akhirnya gajah malang tersebut mati dengan total 87 peluru berada dalam tubuhnya.

Kisah Tyke menjadi sejarah terkenal di Honolulu. Kisah kemalangan seekor Gajah betina yang ingin lepas dari penderitaan dan merindukan sebuah kebebasan. Bisa kita lihat bagaimana tatapan pilu Tyke saat berada di penghujung akhir hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here