Anda kedinginan? Beberapa hari ini banyak yang merasakan suhu udara lebih dingin dari biasanya. Bukan hanya di kawasan dataran tinggi, di kawasan yang dikenal dengan suhu panas juga demikian. Padahal tidak ada hujan dan belum masuk musim hujan. Dan dari perkiraan BMKG, seharusnya bulan ini adalah musim kemarau. Apakah ada yang salah?

Tidak ada yang salah, dan perubahan suhu tersebut memang biasa terjadi jelang musim kemarau. Di Indonesia ketika memasuki musim kemarau memang suhu udara di beberapa wilayah di Pulau Jawa terkadang justru terasa semakin rendah atau lebih dingin dari biasanya.Tidak hanya terjadi di wilayah Jawa saja, massa udara dingin ini semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara pada malam dan dini hari yang juga melanda Bali, NTB, dan NTT. Fenomena tersebut dipengaruhi oleh angin monsun dingin Australia atau orang sering menyebutnya angin timuran. Orang Jawa biasanya menyebut perubahan suhu itu dengan istilah “Bediding” (baca: mbediding).

Mengenal Si Monsun

Iklim di Indonesia dikendalikan oleh berbagai faktor: Massa udara, Pias Pumpun Antartropik (PPAT), dan yang paling dominan adalah monsun. Di beberapa daerah misalnya di Jawa bagian timur, Bali, Nusa tenggara serta daerah lain yang berdekatan dengan Australia, variasi musiman suhu maksimum dan minimum juga terlihat jelas.

Secara tradisional, istilah monsun digunakan untuk merujuk pada iklim yang terlihat secara nyata berubah secara musiman dikerenakan pergantian angin kuat diantara musim dingin, dan musim panas, khusunya di wilayah tropis seperti Asia, Australia, Afrika, dan Samudera Hindia. Penggunaan istilah ini lalu dipakai secara lebih spesifik untuk merujuk pada wilayah dengan perubahan jelas antara musim dingin yang kering, dan musim panas yang basah. 

Angin monsun (musim) merupakan angin laut dan angin darat dalam skala besar (sampai ratusan ribu kilometer persegi) yang bergerak bolak balik antara daratan dengan lautan, yang periodenya musiman atau tahunan pada daerah beriklim tropika.

Monsun merujuk pada siklus tahunan yang membedakan secara tegas keadaan atmosfer selama fase kering dan fase basah. Siklus tahunan ini membagi fase kering dan fase basah menjadi dua periode. Fase kering dipengaruhi oleh musim dingin yang terjadi di berbagai benua dengan massa udara di atmosfer yang bersifat dingin dan kering (Webster dkk., 1998 dalam Yulihastin, 2010).

Sebaliknya, fase basah dipengaruhi oleh musim panas dengan udara yang bersifat lembab. Daerah monsun meliputi wilayah yang dibatasi dengan Lintang 35 Derajat LU – 25 Derajat LS dan Bujur 30 Derajat BB – 170 Derajat BT. (Ramage 1971 dalam Tjasyono, 2004). Wilayah tersebut mencakup sebagian Afrika, seluruh India, sebagian Asia (Asia bagian timur dan selatan), Indonesia, sebagian Australia (Australia bagian utara).

Kawasan Indonesia memang bukan sumber monsun, tetapi terletak dalam daerah kekuasaan monsun, yakni monsun Asia Selatan, monsun Asia Tenggara, dan monsun Australia. Terdapat dua monsun global yang secara utama mempengaruhi kondisi monsun di wilayah Benua Maritim Indonesia. Dua monsun global tersebut adalah monsun Asia musim panas (Asian summer monsoon) dan monsun Australia musim dingin (Australian winter monsoon). Ketiganya saling berinteraksi membentuk sistem monsunal Indonesia. 

Pada saat terjadi musim panas di Benua Asia, terbentuklah pusat tekanan rendah di Benua tersebut. Pada saat yang bersamaan, di benua Australia terjadi musim dingin sehingga atmosfer di atas benua tersebut memiliki tekanan yang tinggi. Akibat dari dua perbedaan tekanan ini, terbentuklah angin yang bergerak dari Australia menuju Asia melalui kawasan benua Maritim Indonesia. Angin yang dingin dan kering dari Australia tersebut telah mengakibatkan Indonesia mengalami musim kemarau, seperti sekarang ini. 

Faktor Lain

Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto mengatakan, wilayah Jawa Timur (Jatim) terkait suhu dingin yang terjadi juga dikarenakan langit tidak tertutup awan pada saat musim kemarau. Sehingga, radiasi yang dipancarkan oleh matahari akan dihempaskan pada malam hari tanpa ada penghalangnya berupa awan. Karena hampir tidak ada awan saat malam hari di musim kemarau, sehingga suhu jadi dingin.

Sedangkan menurut kepala Unit Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa ada faktor lain selain angin monsun timur, yaitu pada musim kemarau didominasi oleh langit cerah dan tidak ada tutupan awan, kondisi ini mengakibatkan pelepasan radiasi panas dari bumi ke atamosfer pada malam hari terjadi tanpa halangan. Dan pada Juni posisi matahari dalam gerak semu tahunan berada hampir di garis balik utara atau 23.5 LU. Ini berdampak pada menurunnya intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Indonesia bagian selatan. 

Monsun Dingin Australia ini diperkirakan berlangsung dari Juni hingga puncak musim kemarau September mendatang. Untuk Jawa Tengah sendiri, berdasarkan prakiraan cuaca menurut BMKG, tempat-tempat di daratan tinggi mengalami penurunan suhu udara. Tercatat di sejumlah wilayah seperti. Banjarnegara, Magelang, Purbalingga, Purwokerto, Salatiga, Temanggung dan Wonosobo, suhu terendahnya bisa mencapai 17-21 derajat Celcius.

Meskipun demikian, suhu tubuh akan hangat di kala siang, namun hembusan angin membuat bulu kuduk berdiri. Demikian dengan suhu air tanah, bisa jadi lebih hangat, karena panas tubuh yang cenderung rendah. Namun, jika mandi, bisa terasa lebih dingin dari yang dibayangkan, dan bisa menggigil jika terkena angin yang datang.

Jadi fenomena bediding ini sudah biasa dan alamiah, tidak ada yang salah. Bawalah pakaian yang hangat, agar terhindar dari serangan bediding ini. Dan jangan terlalu lama mandi supaya terhindar dari penyakit hipotermia.

Penulis: Ayu Rahma
Editor: A.M.

Referensi Bacaan
1. Rinto Heksantoro, Pulau Jawa Memasuki Musim Dingin Terpengaruh Monsoon di Australia, https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4591406/pulau-jawa-memasuki-musim-dingin-terpengaruh-monsoon-di-australia, (diakses pada tanggal 25 Juni 2019).
2. Soerjadi Wirjohamidjojo dan Yunus Swarinoto, IKLIM KAWASAN INDONESIA (Dari Aspek Dinamik-Sinoptik), (Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik, 2010)
3. Sekilas Sistem Monsun Asia-Australia Sandy Hardian. S. H., Program Studi Meteorologi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Labtek XI.
4. Tim Penyusun, Buku Ajar Klimatologi (Suatu Pengantar), (Makassar: 2009).
5. Erma Yulihastin, MEKANISME INTERAKSI MONSUN ASIA DAN ENSO, Berita Dirgantara Vol. 11 No. 3 September 2010.
6. Ardiansyah Fajar, Suhu Surabaya dan Sekitarnya Mendadak Dingin, Ini Penjelasannya, https://jatim.idntimes.com/news/jatim/ardiansyah-fajar/suhu-surabaya-dan-sekitarnya-mendadak-dingin-ini-penjelasannya/full, (diakses pada tanggal 27 Juni, pukul 10.30)
7. Hendra Setiawan, Anomali Dingin di Kala Panas Itu Bernama Bediding, https://www.kompasiana.com/hendra.setiawan/5b64231d6ddcae7898086472/bediding-anomali-dingin-di-kala-panas?page=all, (diakses pada tanggal 27 Juni 2019, pukul 10.33).
8. Yogi Anugrah, Jogja Dingin, BMKG Jelaskan 3 Faktor Penyebabnya, https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2019/06/21/510/1000209/jogja-dingin-bmkg-jelaskan-3-faktor-penyebabnya, (diakses pada tanggal 27 Juni 2019, pukul 10.51).
9. Dythia Novianty dan Dinar Surya Oktarini, Berasa Suhu Udara Lebih Dingin? Ini Penyebabnya, https://www.suara.com/tekno/2019/06/21/061105/berasa-suhu-udara-lebih-dingin-ini-penyebabnya
10. Reza Gustav Pradana, Merasa Dingin Akhir-akhir Ini? Wilayah Jateng 17-21 Derajat Celcius, BMKG Ungkap Penyebabnya, https://jateng.tribunnews.com/2019/06/21/merasa-dingin-akhir-akhir-ini-wilayah-jateng-17-21-derajat-celcius-bmkg-ungkap-penyebabnya., (diakses pada tanggal 26 Juni 2019, pukul 19.30).
11. Hendra Setiawan, Anomali Dingin di Kala Panas Itu Bernama Bediding, https://www.kompasiana.com/hendra.setiawan/5b64231d6ddcae7898086472/bediding-anomali-dingin-di-kala-panas?page=all, (diakses pada tanggal 27 Juni 2019, pukul 10.33).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here