Mendengar kata kuliah pasti sudah tidak asing lagi di telinga maupun di dalam otak kita. Bersekolah tinggi yang sepertinya bakalan menaikkan derajat diri dan mudah dalam mendapatkan pekerjaan, lalu mapan dan seterusnya menikah. Mudah sekali rasanya untuk mencapai target-target hidup kalau selesai kuliah. Bukankah seperti itu gambaran awal kita ketika masih sekolah menengah tingkat atas?.

Namun ternyata tidak sebegitu mulusnya bakalan tercapai, Ferguso. Akan banyak hal-hal yang ternyata menjadi kendala mahasiswa untuk bisa lulus di perguruan tinggi. Tapi di sini kita tidak membahas faktor-faktor mahasiswa terlambat lulus ya. Kita bahas sedikit tentang gambaran umum dari efek samping menjadi seorang mahasiswa saja. Hah??? Kayak obat saja ada efek sampingnya. Makanya, yuk tetap scroll ke bawah.

Jika kalian sudah menjadi mahasiswa atau paling tidak pernah kuliah, kalian pasti masih ingat masa-masa orientasi mahasiswa. Ya kan?. Saat itu kita didoktrin oleh senior-senior bahkan dosen bahwa kuliah tidak sama dengan bersekolah. Sistem perkuliahan menuntut kita untuk mandiri, tidak untuk mengharap “disuapi” materi oleh para dosen layaknya kita masih sekolah dulu.

Mungkin masih banyak yang melihat sepertinya para mahasiswa itu banyak santainya. Masuk kelas tidak dari pagi sampai sore seperti sekolah, di akhir pekan mendapat gratis libur selama 2 hari, atau kalau lagi beruntung, mahasiswa bisa memilih menumpuk 2-3 hari saja masuk kuliah saat pengambilan Kartu Rancangan Studi (KRS) sehingga bisa mendapat tambahan hari libur secara cuma-cuma.

Gambaran-gambaran yang sepertinya menyenangkan seperti itu nyatanya tidak bisa kita generalisasikan pada semua mahasiswa. Banyak juga ternyata mahasiswa yang stres hingga lulus telat dan bahkan DO. Kira-kira mereka itu kenapa?

Jawabannya adalah karena mereka belum sadar kalau kuliah itu bukan untuk belajar. Karena kita sudah dari kecil merasakan sistem pendidikan dari jenjang dasar hingga menengah atas para guru selalu memberikan materi pelajaran kepada siswa, maka pengalaman masa lalu itu ternyata turut hadir di dalam pikiran dan sanubari kita ketika ingin menyerap ilmu.

Maka selanjutnya kita akan terkaget-kaget dengan sistem perkuliahan yang ternyata tidak seperti yang pernah kita rasakan di masa lalu sehingga ketika masih di awal-awal semester kita memerlukan adaptasi dengan sistem perkuliahan terlebih dahulu.

Dari masa-masa adaptasi inilah berlaku hukum alam, siapa yang kuat dia yang menang. Maksudnya barang siapa yang bisa beradaptasi dengan kondisi perkuliahan niscaya akan terbuka baginya akses ilmu pengetahuan lalu tidak ada ketakutan baginya dan ia tidak merasa sedih. Eh!

Di masa-masa adapatasi inilah sebagai mahasiswa, kita harus memahami bahwa berkuliah tidak untuk mengharapkan ilmu pengetahuan dari pengajar atau dosen saja. Jika tetap berprinsip seperti ini, apa bedanya kita dengan para siswa yang habis sekolah lalu bermain dengan teman-teman hingga pulang menjelang magrib yang disambut omelan dari emak?.

Para pemuda-pemudi yang selalu berharap dompet tetap berisi di akhir bulan…
Ketahuilah, bahwasanya ketika kita sudah merelakan diri dengan segenap hati serta setelah merengek kepada orangtua untuk menjadi mahasiswa, kita dituntut untuk selalu mandiri dalam menjalani kehidupan perkuliahan yang tidak kekal ini.

Kita tidak boleh berharap hanya yang diberikan dari dosen di kelas saja. Namun kita harus mencari sendiri materi-materi pengetahuan yang menjadi tuntutan akademik dari kampus. Jika cuma masuk kelas saja lalu pulang untuk bermain game, hal itu hanya akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga. Malahan hanya mendapatkan keletihan tanpa adanya tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi diri kita.

Kita harus mempersiapkan segala amunisi ilmu pengetahuan sebelum kita bertanding adu argumentasi di kelas dengan para mahasiswa lain dan bahkan juga dosen. Jadi asumsi dasar dari kuliah adalah dosen tidak sepenuhnya benar serta bisa dipercaya dan para mahasiswa sudah mempersiapkan segala materi yang akan dibahas pada saat itu. Sehingga jika asumsi ini sudah teraplikasikan, maka akan tumbuh partisipasi dalam diskusi yang menjadi spirit utama dalam menuntut ilmu di perguruan tinggi.

Saya pernah iseng bertanya ke beberapa teman tentang apa saja yang telah didapatkan selama berkuliah. Jawabannya rata-rata hampir sama, yakni tidak ada atau begitu-begitu saja. Parahnya ada yang sampai tidak mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dari kuliah yang selama ini dijalani.

Hal ini memang lumrah terjadi karena kita masih berada di masa-masa transisi dari sistem sekolahan yang beberapa tahun kita temui. Jika kita masih merasa yang demikian, berarti kita sebenarnya belum siap untuk mengganti status diri dari siswa menjadi mahasiswa.

Semoga kita yang sudah terlanjur menjadi mahasiswa ini bisa terus mengevaluasi diri serta terus meningkatkan kualitas akademik dan kepada para mahasiswa baru semoga cepat beradaptasi dengan lingkungan belajar yang baru. Karena mahasiswa adalah harapan negeri untuk terus berkarya dan berkontribusi di segala lini kehidupan. NKRI, Harga Mati!!!

Penulis: Harlianor
Editor: Sasti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here