Dimanakah Tempat yang Aman untuk Perempuan ?

0
410
Website | + posts

Perempuan, satu kata yang dapat melahirkan opini beragam dari publik. Mulai dari opini positif hingga negatif bermunculan di setiap waktu. Seolah-olah perempuan adalah sosok yang harus selalu dalam jangkauan pengawasan, baik diranah domestik maupun publik. Bagaikan hewan liar jika tidak diawasi akan mengancam setiap orang disekitarnya, keberadaan perempuan selalu diawasi dari ujung rambut hingga ujung kuku.

“Sangkar Emas”, perumpamaan dari R. A. Kartini untuk menyebut rumahnya. Dahulu, Kartini dipingit di dalam rumah karena sebuah tradisi turun-temurun di Jawa. Sekarang para perempuan lebih bebas dari Kartini, mereka (perempuan) sudah dapat menuntut ilmu setinggi-tingginya dan bekerja sesuai dengan keinginannya. Namun, sejatinya mereka tidak sebebas seperti kelihatannya meski mereka sudah dapat menunjukkan eksistensinya di ranah publik.

Para perempuan masih harus menjaga dan mengatur tingkah lakunya mulai dari ujung rambut hingga ujung kuku. Karena pandangan masyarakat kita dewasa ini masih diselimuti oleh sistem patriarki. Perempuan saat di ranah publik pun masih sering terdiskriminasi oleh opini-opini berbias patriarki. Contohnya: perempuan dianggap nakal jika sering keluar malam, perempuan dianggap tidak layak jika bekerja di bengkel, perempuan dianggap genit jika berdandan, dan masih banyak stigma yang mendiskriminasi perempuan di ranah publik.

Sosiolog Inggris, Sylvia Walby membuat poin bahwa sistem patriarki telah berubah dari patriarki privat ke patriarki publik. Jadi perempuan tidak lagi dieksploitasi oleh individu patriarki, tetapi juga dieksploitasi oleh laki-laki kolektif melalui subordinasi mereka di area publik. Di zaman serba canggih ini, perempuan masih terbelenggu oleh sistem patriarki publik dan terancam oleh berbagai macam kekerasan.

Mengenal Kekerasan Seksual

Kekerasan yang sering dialami perempuan adalah pelecehan seksual. Sampai sekarang masih banyak yang mempertanyakan apakah kekerasan seksual dan pelecehan seksual itu sama atau tidak. Menurut Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Penghapusan Kekerasan Seksual oleh KOMNAS Perempuan, pelecehan seksual adalah salah satu jenis perbuatan kekerasan seksual.

Kekerasan seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender dan/atau sebab lain, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan terhadap secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.

Sedangkan pelecehan seksual adalah tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun nonfisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Tindakan yang dimaksud termasuk juga siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukkan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, dan gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

Menurut KOMNAS Perempuan, kekerasan seksual dibagi menjadi 15 bentuk, yaitu: pelecehan seksual, pemaksaan perkawinan, kontrol seksual, pemaksaan aborsi, ekploitasi seksual, perbudakaan seksual, prostitusi paksa, intimidasi seksual, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penghukuman tidak manusiawi bernuansa seksual, penyiksaan seksual, perkosaan, pemaksaan kehamilan, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, dan perdagangan perempuan untuk tujuan seksual.

KBGO

Seiring berkembangnya teknologi, kekerasan seksual bisa terjadi melalui media online, umumnya dikenal dengan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). KBGO adalah tindak kekerasan dengan niat untuk melecehkan korban berdasarkan gender atau seksual yang terjadi secara online atau difasilitasi teknologi. Perempuan sangat rentan mendapatkan KBGO, contohnya: honey trapping (kekerasan yang terjadi setelah adanya proses pendekatan secara online seperti dari situs kencan, kemudian terjadi kekerasan fisik yang sering disertai ancaman dan pemerasan pada saat bertemu secara offline).

Sepanjang 2017, setidaknya ada 8 bentuk kekerasan berbasis gender online yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan, yaitu pendekatan untuk memperdaya (cyber grooming), pelecehan online (cyber harassment), peretasan (hacking), konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringement of privacy), ancaman distribusi foto/video pribadi (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), dan rekrutmen online (online recruitment).

Sementara itu, dalam Internet Governance Forum dipaparkan bahwa kekerasan berbasis gender online mencakup spektrum perilaku, termasuk penguntitan, pengintimidasian, pelecehan seksual, pencemaran nama baik, ujaran kebencian dan eksploitasi.

Kasus KBGO memberikan dampak yang berbeda pada setiap korbannya. Para penyitas atau korban biasanya mengalami kerugian psikologis, keterasingan sosial, kerugian ekonomi, mobilitas terbatas dan sensor diri. Selain dampak pada individu, konsekuensi utama dari kekerasan berbasis gender online adalah penciptaan (opini) masyarakat di mana perempuan tidak lagi merasa aman secara online maupun offline.

Menurut Internet Governance Forum tentang penyalahgunaan online: Hal ini berkontribusi terhadap budaya seksisme dan misoginis online, serta melanggengkan ketidaksetaraan gender di ranah offline. Pelecehan online dan kekerasan berbasis gender merugikan perempuan dengan membatasi kemampuan mereka untuk mendapatkan manfaat dan peluang yang sama dengan yang didapatkan oleh laki-laki.

Publik atau Domestik ?

Bukan hanya melalui online, kekerasan secara offline pun masih belum dapat dijauhkan dari perempuan. Kekerasan seksual secara offline sering kali terjadi tanpa peduli tempat, cotohnya di masjid. Sekitar bulan Agustus lalu, warganet digemparkan oleh video kasus pelecehan seksual yang terjadi di dalam masjid. Dilansir dari MalangTimes.com, video viral tersebut terjadi di masjid Al-Qurba desa Ngijo, kecamatan Karangploso, kabupaten Malang. Berita yang dilansir SuaraJatim.id pada bulan September kemarin pun tidak kalah mencengangkan, seorang pengelola taman bacaan mencabuli anak umur 5 tahun.

Dari dua kasus tersebut menunjukkan bahwa tempat-tempat yang tidak terduga pun bisa terjadi kekerasan seksual. Karena berbagai macam kekerasan itulah memunculkan kembali opini bahwa perempuan tidak aman jika berada di area publik dan tempat paling aman perempuan adalah rumah (area domestik). Area publik bagaikan area terlarang untuk perempuan

Namun, area domestik yang dianggap aman untuk perempuan pun masih rentan terjadi kekerasan terhadap perempuan. Kenyataanya masih sering terdengar kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Bukan hanya perempuan dewasa, anak perempuan pun tak lepas dari jeratan kekerasan. Anak perempuan yang dicabuli ayah ataupun kakaknya sering kali terdengar di media berita manapun.

Jika area domestik yang dianggap aman ternyata mencekam dan area publik yang semakin mengancam, lantas dimanakah area yang aman untuk perempuan ?

Sumber Referensi:

Ellen Kusuma dan Nenden Sekar Arum. 2018. Sebuah Panduan Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online. SAFEnet.

Muda bersuara dan Perempuan Mahardhika. 2019. Modul Sekolah Perempuan untuk Pembebasan dan Kemanusiaan. Semarang.

https://jatim.suara.com/read/2019/09/21/110039/pengelolaa-taman-bacaan-di-surabaya- cabuli-bocah-saat-baca-buku
https://www.instagram.com/p/B5RqueLAVuj/?igshid=108ekp1g12x4p
https://www.malangtimes.com/baca/42848/20190815/203400/viral-ketika-salat-di-masjid- jamaah-putri-alami-pelecehan-seksual

Penulis: Ayu Rahma Faramadila
Editor: Nur Hikmah

Baca juga:  Nasib Sang Pedestriadan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here