Oleh: Ayu Rahma

Semilir angin membelai pipi gembul anak kecil yang sedang duduk di bawah pohon mangga menatap hamparan padi yang masih hijau. Ditemani dengan burung-burung yang bernyanyian mendukung suasana untuk tidur di siang hari, meski sang surya sedang bersemangat menyapa bumi dan isinya.

Pikiran gadis itu berkelana menjelajah masa yang akan datang, masih bisakah mata bulatnya mengagumi pemandangan di depannya? Masih bisakah telinganya mendengar nyayian burung di bawah pohon yang rindang? Masih adakah pekerja bercapil sambil memikul pacul? Entah mengapa pikiran gadis kecil itu berkelana sampai ke sana.

Mungkin karena gadis itu terlalu cinta dengan pemandangan di depannya, hamparan padi yang masih hijau, di tengahnya ada penjaga terbuat dari jerami yang bertugas menakut-nakuti burung nakal, dan tidak lupa langit cerah dengan lukisan awan yang sangat mengagumkan.

“Sekarang aku udah tau cita-citaku, cita-citaku akan menjadi petani yang sukses.” Ucapnya dengan riang, meski gadis kecil itu tidak tahu apa arti sukses yang sebenarnya. Dia hanya menganggap kata sukses itu adalah kata yang baik, kata yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Setelah itu dia melanjutkan aktivitas sebenarnya, yaitu membaca. Gadis itu memang membawa buku dari rumah untuk menghilangkan rasa jenuh saat menunggu sang bapak, bapaknya sedang berputar-putar sawah untuk mengecek padi yang telah ia tanam beberapa minggu lalu. Bapaknya hanya seorang petani desa yang beruntung memiliki sawah sendiri, meski sawahnya tak sebesar sawah-sawah disampingnya. Bapaknya juga kadang menjadi buruh tani di sawah orang lain yang membutuhkan jasanya.

“Nay, ayo pulang!” ajak pria berumur 30-an itu sambil mengusap peluh yang menetes dari keningnya.

“Bapak udah selesai?” tanya anak kecil itu sambil membersihkan bajunya yang kotor karena duduk di tanah tanpa alas. Bapak dan anak itu pun pulang dengan sang anak duduk di atas boncengan sang bapak.

***

Hembusan nafas berat keluar dari hidung seorang gadis dewasa setelah keluar dari gedung pencakar langit. Dengan pakaian rapi ala pegawai kantoran gadis itu berjalan ke mobil pribadinya. Raut gadis itu tidak menunjukkan gurat kebahagiaan, yang ada malah guratan kejenuhan. Entah kenapa wajah itu menggambarkan gurat itu, padahal gadis itu memiliki pekerjaan dengan pangkat dan gaji yang tinggi di usianya yang baru menginjak 26 tahun, pekerjaan yang sangat enak di mata orang-orang yang melihatnya.

Mobil itu masuk ke tol yang menuju luar kota, tepatnya dia akan pulang ke kampung halaman. Meski habis bekerja dan hanya libur 2 hari, dia tetap meluncur ke kampung halaman karena sudah tidak kuat menanggung beban rindu yang sudah membumbung tinggi. Dia masih mempunyai orang tua lengkap di kampung halaman, sang bapak yang sudah mulai menua dengan tanda kerutan dan rambut yang mulai putih, sang ibu pun demikian.

Beberapa jam kemudian mobil itu sudah terparkir di halaman rumah yang habis direnovasi. Muncullah gadis dewasa dari dalam mobil itu, meski air muka lelah sangat tampak di wajah cantiknya tapi senyuman lega terpancar dari mata dan bibirnya setelah melihat sosok kedua orang tuanya. Senyuman tiga jari pun terpampang di wajah kedua orang tuanya, gadis dewasa itu mengucapkan salam dan langsung menyalami tangan kedua orang tuanya tanpa lupa denga peluk hangat dia berikan.

“Sehat nak?” tanya sang ibu sambil menuntun sang anak ke dalam rumah. Rumah yang dulunya terbuat dengan dinding kayu yang sudah rapuh dan sering banjir kini berubah menjadi rumah bertembok dengan model sederhana tapi modern.

“Alhamdulillah bu, Nayla sehat, ibu sama bapak sehat kan?” tanya balik sang anak.

“Bapak sama ibumu ini sehat nduk. Gimana pekerjaanmu Nay? Lancar kan?” tanya sang bapak.

“Alhamdulillah pak.” Jawab Nayla dengan raut wajah agak sedih yang hanya dirinya yang tahu.

“Nay, mandi dulu ya pak, bu.”

“Yaudah, ibu siapkan makan malam dulu, ibu masak Kreco, makanan kesukaanmu.”

***

Sang mentari sangat bersemangat bersinar di atas kepala. Daun pun tak menari-nari menandakan tidak adanya angin, meski pohon mangga itu lebat. Seorang gadis sedang berjalan menuju ke dalam rumah berdinding kayu.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.” Jawab pasutri yang menyandang gelar orang tua dari gadis yang mengucapkan salam tadi.

“Pak, bu. Nay kan mau kelulusan, Nay ingin melanjutkan kuliah.” Adu Nayla kepada orang tuanya dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya.

“Alhamdulillah, mau kuliah jurusan apa Nay?” tanya sang bapak.

“Nay, mau kuliah teknik pertanian pak.” Jawabnya dengan riang. Berbalik 180 derajat dengan kedua orang tuanya.

“Kenapa ambil teknik pertanian nduk? Kok tidak jurusan yang lain, kamu kan pandai.” Tanya dan saran ibunya.

“Nay ingin jadi petani yang berilmu agar jadi petani sukses bu, kar…..”

“Jangan aneh-aneh Nay, untuk apa kamu jadi petani. Petani itu susah, melarat Nay, cukup bapak sama ibumu saja yang susah, kamu jangan! Cita-cita itu ya mbok jadi guru, dokter, pegawai kantoran, pejabat, lah ini kamu malah mau jadi petani Nay Nay.” Sela bapaknya dengan sedikit emosi, sang bapak tidak habis pikir, bisa-bisanya anak satu-satunya ingin jadi petani yang susah bin melarat sepertinya.

“Maka dari itu pak, semua petani selalu di cap susah, miskin, rendahan. Padahal tanpa adanya petani, orang-orang kaya di kota tidak bakal bisa merasakan padi, jagung dan singkong lokal., para pejabat negara pasti kesusahan melakukan impor beras dari luar negeri. Petani itu pahlawan untuk bangsa pak, makanya Nay ingin jadi petani, petani yang pandai dalam teori dan mahir dalam praktek, terus nay bisa membagi ilmu Nay ke petani lain, agar petani di Indonesia lebih makmur hidupnya pak.” Jawab Nayla panjang lebar.

“Jangan aneh-aneh Nay, bapak sama ibu hanya merestui kamu kalau ambil jurusan lain dan menjadi orang-orang sukses, bukan petani.” Tegas bapaknya.

“Petani juga bisa sukses pak.” Kekeh Nayla.

“Semua petani itu susah Nay, miskin, melarat. Kamu tidak tahu apa-apa soal petani, bapak dan ibumu ini yang sudah makan manis pahitnya hidup jauh sebelum kamu, jadi lebih tahu dan paham daripada kamu. Bapak ingin kamu jadi orang kantoran Nay, biar kamu bisa hidup enak, pokoknya kamu harus ambil jurusan lain.” Putus bapaknya sambil meninggalkan anak dan istrinya.

“Tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah nduk, bapak sama ibu ingin melihat kamu bahagia di masa mendatang.” Ucap ibunya sambil mengelus lengannya.

Kelopak mata seorang gadis terbuka. Setelah tebersit kenangan masa lalu menyapa ingatannya. Di dalam mobilnya sang gadis dewasa yang bernama Nayla sedang duduk termenung sambil menatap megahnya gedung pencakar langit yang dihuni para manusia berkantong tebal.

Di tempat yang sama saat dulu dia kagumi saat kecil, meski pohon mangga yang sudah menghilang dan pemandangan sawah yang sudah musnah. Ketakutannya di massa kecil pun menjadi nyata, mata bulatnya sudah tidak bisa mengagumi indahnya padi dengan lukisan awan di atasnya. Gadis itu pun pergi meninggalkan perhotelan dan cita-cita yang terpendam di bawah timbunan semen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here