Semarang, Justisia.com – Zaman modern seperti sekarang ini dampaknya sudah terasa khususnya bagi mereka yang tinggal di Pulau Jawa ataupun di kota-kota besar di Indonesia. Sementara bagi masyarakat pedalaman ke modern masih sebatas mimpi yang belum kunjung menghampiri.

Cecelia Bluwe’, perempuan suku Dayak Manyan asal Kalimantan ini ditemani suaminya, Moh Abdul Aziz di taman Kota Lama Semarang, untuk merehatkan badan sejenak setelah berjalan sepanjang beberapa kilometer dari Rumah Sakit Kariadi. Keduanya tampak saling beratatap muka bercerita sambil memandang taman yang indah dan suasana Kota Lama di pagi yang cerah.

Perempuan paruh baya tersebut baru selesai menjalani kemoterapi di Rumah sakit Kariadi untuk mengobati penyakit benjolan yang tumbuh di belakang kepalanya. Memilih periksa di Semarang sebab rumah sakit di tempat tinggalnya belum ada alat menyembuhkan penyakitnya. Akhirnya dengan dokter di rumah sakit di Kalimantan dirujuk ke Kariadi Semarang.

“Di sana, rumah sakit sudah ada, tapi peralatanya kurang. Makanya kita berobat ke pulau Jawa,” katanya dengan logat bahasa suku Dayak.

Sekali berobat ke RS Kariadi, Cecelia harus menggelontorkan biaya yang tidak sedikit untuk mengobati penyakitnya. Angka yang harus dibayar kira-kira 8 sampai 10 Juta-nan, selain itu membayar tiketĀ  transportasi yang jaraknya cukup jauh dari tempat asalnya ke tempat di mana ia berobat.

“Paling tidak kita dari rumah bawa 25 Juta, kadang itu habis dalam waktu 5 hari,” katanya saat ditemui di taman Kota Lama Semarang, Minggu, (28/7/2019).

Selama di Semarang, sehabis berobat Cecelia tidak lantas langsung pulang, terkadang dengan dokter disuruh balik lagi minggu depanya. Daripada bolak-balik dari Kalimantan ke Semarang, kedua pasangan suami istri tersebut memilih menginap di emperan Rumah Sakit Kariadi.

“Kalau ingin jalan-jalan, ya bermalamnya di tempat umum, seperti gelandang itu dah. Tadi malam saja, kita bermalam di Stasiun Tawang dengan jalan kaki pelan-pelan dari Kariadi,” katanya sambil tertawa.

Berprofesi sebagai pekebun Sawit di daerahnya, penghasilan Aziz lumayan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya sambil membiayai pengobatan istrinya, Cecelia.

“Alhamdulillah dengan menjadi pekebun, kita sudah cukup. Buat biaya kita ataupun buat menolong tetangga sebalah kalau mereka perlu, karena tradisi di suku sana, tetangga yang kekurangan seolah sebuah keharusan untuk saling bantu tanpa minta ganti, kasihan juga,” Cecelia menambahkan.

Cecelia yang ditemani Abdul Aziz, suaminya berobat di Semarang sudah memasuki dua tahun. Tepatnya pada 2017 bulan Oktober minggu ketiga.

Selain akses kesehatan yang sulit, juga pendidikan yang belum merata. Masih banyak ditemui di daerah Kalimantan utamanya di daerah pedalaman rumah Cecelia tinggal. Dengan tenaga pendidik yang kurang, akhirnya guru di sana mengampu banyak pelajaran meskipun bukan bidangnya.

Penerapan sistem Zonasi oleh pemerintah yang kemarin menuai perdebatan, bagi masyarakat Pedalaman di Suku Dayak Manyan kata Cecelia sistem tersebut sulit diberlakukan.

“Wong jalan dari rumah ke sekolah saja dua jam-an, kok mau diterapin zonasi,” tambahnya.

Mengharap Uluran Tangan Pemerintah

Supaya segala akses bisa terpenuhi laiknya di Pulau Jawa, masyarakat pedalaman Provinsi Kalimantan mengharap uluran tangan pemerintah menjamahnya. Karena, kata Cecelia, pemerintah sebelum Jokowi memang jarang menyentuhnya.

“Semoga periode pak Jokowi ke depan, segala keperluan bisa kita dapati sesuai dengan janji beliau,” Harapnya.

Ia merasa heran saat pertama kali tiba di kota besar, dengan segala akses yang mudah, lantas ia membandingkannya dengan daerah tempat tinggalnya yang sebagian belum dialiri listrik, minimnya angkutan umum, serta jalanan yang rusak.

Ia bercerita, pemerintahan itu ibarat pohon. Jika ingin pohon berbuah lebat dan tumbuh dengan subur, maka antara daun, batang, dan akar perlu saling dukung satu sama lain.

“Terkadang Pak Jokowi tidak didukung oleh akarnya yaitu bawahannya, seandainya didukung, maka nyaman orang yang berteduh di bawahnya. Karena daunnya yang rindang,” ia berandai.

Ada 3 hal yang diminta masyarakat pedalaman Suku Dayak Manyan kepada dua periode masa kepemimpinan Jokowi. Ia mengharap listrik di daerah setempat dialiri, angkutan umum dimaksimalkan, dan jalanan dibenahi.

Karena listrik belum memadai, masyarakat pedalaman masih menggunakan tenaga disel untuk menyinari rumahnya agar tidak redup. Tapi menggunakan disel biayanya cukup mahal.

“Kisaran pembayaranya kalau listrik setahun, namun untuk dibayar desel berlaku satu bulan,” kata dia.

“Makanya kita mengharap listrik, kalau listrik sudah masuk, jalanan sudah bagus, dan angkutan umum sudah seperti di tanah Jawa walaupun sedikit, yang penting buat anak sekolah saja sudah cukup, mungkin janji beliau selama dua periode bisa terpenuhi,” imbuhnya sambil mengulang harapannya.

Seperti tradisi yang sudah dipelihara masyarakat pedalaman Suku Dayak Manyan, kehidupan sosial masyarakat setempat mempunyai tenggang rasa sangat tinggi. Buktinya dari dulu sampai sekarang angkutan umumnya menggunakan mobil pribadi. Entah milik pejabat tinggi, polisi, ataupun sesama masyarakat setempat.

“Makanya tinggal di Jawa kita orang sana merasa bingung. Karena budayanya jauh, di sana kalau ada orang naik mobil entah siapun yang naik, pejabat ataupun orang biasa bila di jalan bertemu pejalan kaki atau duduk, pasti diajak naik ke mobil dan dihantarkan ke tujuan,” pungkas Cecelia. (Rep:Ink/Ed:A.M)

Reporter : Inunk
Penulis : Inunk
Editor : Afif

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here