Desa Mbah Warno

0
128
Sumber foto: pelukis Kuat Casmoro

Oleh: Sadad Aldiyansyah

Pagi yang indah, sang surya sudah memberi salam manis dengan fajar shodiqnya. Orang-orang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang lebih tepatnya para petani, yakni desa Kauman yang begitu terkenal subur, tenteram, dan nyaman. Banyak orang mengagumi desa tersebut, desa yang seharusnya tandus dan panas berbalik fakta dengan takdir. Begitulah tanggapan masyarakat sebelah tentang Kauman. Namun semua itu tak seperti apa yang dibayangkan mereka.

Masyarakat Kauman merasa kurang nyaman semenjak kedatangan mbah Warno, lelaki paruh baya dengan penampilan kumuh, rusuh dan suka membuat onar di desa tersebut. Nama mbah Warno sendiri adalah sebutan dari masyarakat setempat, berawal dulu ada tetangga pak lurah yang namanya Warno, ia terganggu jiwanya karena sang istri pergi keluar kota dengan meninggalkan 3 anak, dan tak sanggup mengurusinya. Lebih kejamnya sang istri menjual seluruh tanah milik Warno.

Dengan keadaan seperti itulah Warno menjadi gila sehingga anak-anaknya dibunuh hidup hidup oleh Warno. Kejadian itu membuat warga resah, dan takut. Setelah berpikir panjang, warga bertindak keras dengan Warno. Ia diusir dari desa Kauman dengan digiring warga menuju seberang desa. Kabarnya Warno sudah meninggal karena pecutan dan lemparan batu yang mengenai tubuhnya.
Begitulah sejarah nama julukan mbah Warno berasal. Sampai sekarang warga belum mengetahui nama pribadinya. Warga memberi embel-embel mbah bukan berarti karena mbah Warno umurnya sudah tua, melainkan karena tingkah lakunya sangat berbeda dengan orang gila pada umumnya.

Gangguan jiwa mbah Warno sangat tidak bisa diterima oleh akal sehat. Pernah terjadi pada malam hari. Pak Rahmat seorang saudagar padi yang kaya raya, yang seharusnya besok pagi menjual 25 karung beras dengan keuntungan yang melimpah malah diambil oleh mbah warno 10 karung dan dibuang di sungai dan disebar begitu saja di emperan jalan. Batapa bodohnya mbah Warno, dengan hal seperti itu Pak Rahmat banyak mengeluarkan kata bijak kepada mbah Warno, “wong edyan!, gooblok!”.

Tidak halnya itu, keseharian mbah Warno pun juga sangat tidak memungkinkan akal. Kenapa tidak, setiap pagi sampai sore mbah Warno pasti keliling desa Kauman dari ujung hingga pangkal desa. Ia melewati rumah-rumah warga, hal yang dilakukan mbah Warno ketika melihat jemuran warga ia jatuhkan entah dalam keadaan basah atau kering. Jikalau melihat rumah yang tertutup rapat mbah Warno melempari batu ke teras rumah atau membasahi teras dengan air comberan.

Hal seperti ini sudah berulangkali diulanginya. Pak lurah tetap membiarkan mbah Warno masih tinggal desa Kauman. Dengan keadaan seperti ini warga memutuskan melakukan hal keji seperti Warno yang dulu. Dicambuk dan dilempari batu lalu digiring ke perbatasan desa. Dan dipimpin oleh pak Rahmat berdasarkan kerugian terbesar yang diperolehnya.

Hari sudah berganti tepat fajar shodiq tiba, kini saatnya warga Kauman melontarkan aksi yang tak sepantasnya kepada orang ganguan jiwa. Mereka berjalan berbondong-bondong layaknya domba-domba gimbal tak berakal yang haus akan rumput. Mbah Warno tinggal di rumah kosong tepat di tengah-tengah desa. Singkat waktu warga sudah sampai dipersembunyian mbah Warno. Mayoret pak Rahmat mengangkat cambuk setinggi-tingginya. “Wahai si bangka Warno, keluarlah kamu!”, gemuruh jawaban prajurit pak Rahmat menggebu di telinga kiri dan kanan. Suara lantang pak Rahmat terus terucap dari mulutnya, sehingga membuat tangan tak segan untuk gerang dan mengepal batu seukuran gelas.

Sudah sekian lama warga menunggu kedatangan mbah Warno, namun tak ujung keluar dari sarangnya. Di sinilah ide-ide warga mulai bermunculan, dari ujung timur mengusulkan untuk membakar rumahnya. Tapi tidak terealisikan. Dan keputusan terakhir dengan cara halus salah satu dari mereka mendobrak pintu rumah.

Satu dua sampai empat dobrakan tidak menggoyahkan pintu tersebut. “Daaar!!”, setelah dobrakan kelima robohlah pintu reok tersebut.

Warga kebingungan dengan semua ini. Alam berubah dengan seisinya, langit mulai hitam pekat, kilat menyambar di mana-mana. Matahari tertutup rapat seperti halnya gerhana. Badai angin menghembus kencang ingin merobohkan pohon kelapa.

Masyarakat bingung, tetapi tidak menggoyahkan niat mereka untuk mengusir mbah Warno, justru mereka berfikiran mbah Warno akan mati tertelan bencana alam.

Hati Mereka keras kepala masuk rumah. Setelah masuk, rumah itu sangat gelap hitam pekat tidak ada satu pun hanya biusan matahari yang menembus dinding rumah. Radius 6 meter terlihat orang tua kumuh bersila sambil menangis menggiling tasbih ditemani 2 orang kanan kiri yang amat tinggi dan bersinar memakai baju putih berjenggot panjang.

Warga bingung teramat sangat, mula-mula dengan keadaan alam yang berubah dan kejadian yang tak diterima akal. Tangan kokohnya sudah tak berdaya. Batu, cambuk mulai berjatuhan menindas kakinya, tubuhnya gemetar diam bisu tersimpu tak bergerak sedikitpun. Mbah Warno beranjak menuju warga dan sujud sembari berkata dengan tangisan deras “yaa roob, engkaulah penguasa di atas segala-galanya. Hamba lemah dan hina, hamba masih cinta dengan desa ini, hamba tidak sanggup meninggalkan desa ini, tapi jika engkau sudah menghendaki semua ini, hamba tidak bisa apa-apa, hamba hanya meminta cabut nyawa ini dan izinkan kembali di tanah ini”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here