Udara pagi yang sejuk diikuti matahari bersinar dengan cerahnya. Aku segera meninggalkan lautan kapukku dan membuka jendela kamarku untuk menghirup udara yang sangat segar. Sekitar 15 menit aku termangu di depan jendelaku.

Tanpa sadar aku larut dalam lamunanku, dengan senyum-senyum sendiri seketika melintas di pikiran: siapakah jodohku nantinya? Perkenalkan namaku Tio Yusqol, biasanya orang memanggilku Yusqol.

Tiba-tiba lamunan itu buyar oleh teriakan tante yang memanggilku untuk segera keluar kamar; mandi, sarapan pagi, dan berangkat sekolah. “Yuss, cepetan turun! Mandi, sarapan, pergi sekolah nanti kesiangan! Tuh, tante udah siapin gorengan buat kamu,” teriak tanteku dari dapur.

Aku memang tinggal dengan tante dan omku semenjak 5 tahun lalu saat kecelakaan mini bus merenggut nyawa kedua orang tuaku.

Waktu menunjukkan pukul 06.00, setiap pagi selalu terdengar teriakan tante karena kebiasaanku yang senang sekali duduk termangu di depan jendela.

Hari-hari aku lalui seperti biasanya. Akan tetapi untuk pagi ini rasanya beda semua ini karena sebentar lagi akan ada peringatan hari jadi desaku.

Setelah pulang sekolah aku segera makan siang dan mengerjakan seluruh tugas sekolah. Sekitar pukul 19.00, aku pergi menuju sebuah tempat rapat para panitia hari jadi desa.

Saat itu aku termasuk salah satu anggota organisasi tersebut. Setibanya di sana, telah banyak orang yang datang termasuk keenam sahabatku. Sinos, Nafa, Lina, Maman, Eca, Joni. Aku duduk di samping mereka semua.

Rapat pun dimulai. Rencana acara hari jadi desaku seperti biasanya. Ada perlombaan, hiburan, dsb. Perlombaannya pun sudah tidak ada yang asing didengar seperti panjat pinang, balap karung, lomba masak, dll. Rencana acara untuk hiburan diserahkan pada panitia bagian hiburan. Rapat pun selesai tepat pukul 21.00.

Tidak terasa hari ini tanggal 10 juli, seluruh rangkaian acara yang telah disusun jauh hari pun terlaksana dengan sukses. Warga setempat terlihat antusias. Hampir seluruh orang di daerahku ikut serta dalam acara tersebut. Saat aku tengah sibuk memberikan pengarahan tata aturan lomba pada peserta tiba-tiba, sesosok wajah yang mengalihkan pandanganku.

Aku terheran-heran serta mengagumi wajahnya. Dia adalah seorang perempuan yang sedang senyum manis padaku. Aku tak bisa membohongi perasaanku yang menyukainya pada pandangan pertama, dia adalah cinta pertamaku karena aku belum pernah pacaran. Belum ada yang bisa membuatku melamun seperti dia.

“Yus, jangan melamun dong,” tegur salah satu temanku. “oh, maaf,” jawabku dengan nada malu dan tersenyum tipis. Wajah itu terus saja menatapku hingga acara perlombaan selesai. Akupun sempat curi-curi pandang padanya. Setelah acara selesai seluruh panitia, peserta, dan warga pulang. Aku pun segera pulang.

Setibanya di rumah, aku langsung menuju kamar. Lamunanku pun kembali seperti biasanya, namun yang kali ini aku pikirkan adalah siapa pria tadi? Diri ini melamunkannya hingga tertidur pulas.

Pada pagi harinya adalah hari yang paling disukai oleh orang-orang karena hari ini adalah hari minggu. Kumulai kebiasaanku setiap hari minggu yaitu bermain futsal dengan teman-teman sekolah dari mulai jam 08.30 hingga jam 10.00 pagi, itu pun karena sahabatku Maman menelfon. “Ada apa man pagi-pagi udah nelfon? Aku masih futsalan nih,” gerutuku.

“Yaelah jangan sewot dong bosku, aku cuma ngasih tau kalau ada sepupuku yang baru pindah dari Padang. Namanya Dewi. Aku mau kenalin dia ma kalian semua. Nanti jam 12.00 datang ke rumah akuya. Wajib loh, gak bakalan nyesel deh. Hehe,” kata Maman panjang lebar. “Iya gimana ntar aja ya, aku masih mau futsalan nih,” jawabku sedikit kesal.

“Ah pokoknya kamu harus datang, kalau gak berarti parah banget,” balasnya. Belum sempat menjawab, telfonnya telah ditutup. Dengan langkah sigap aku segera pamitan dan meninggalkan lapangan futsal, sesampainya di rumah aku segara mandi dan sarapan. Masih ada waktu satu setengah jam lagi menuju pukul 12.00. “Enaknya ngapainya? Ah, Maman sih nelfonnya kecepetan,” gumamku. Lalu kuputuskan saja untuk menonton televisi.

Akhirnya pukul 12.00 aku pergi ke rumah Maman. Di sana sudah ada Sinos, Nafa, Eca, dan juga Lina. Kita hanya menunggu Joni. 5 menit telah berjalan, tapi Joni belum datang juga, setelah 20 menit kemudian, akhirnyabia pun datang. “Lama banget sih, kita udah gk sabar nih pengen tau Dewi yang mana,” omel Nafa. Lina hanya 35 cengar cengir gk karuan. Maman segera memanggil sepupunya yang sedari tadi ia suruh menunggu dapur.

“Dewiiii, sini!” teriak Maman. Kemudian seorang gadis muncul dari balik pintu kamar, seluruh sahabatku heran dengan kecantikannya. Begitu pula aku, aku pun ikut heran sekaligus kaget. Ternyata gadis kemarin yang memperhatikanku dan aku pun sempat curi curi pandang padanya itu adalah Dewi, sepupunya Maman. Pantas aku tidak mengenalnya.

Aku tidak menyangka akan bertemu lagi dengan cinta pertamaku. Jantungku berdetak begitu kencang, dia memperkenalkan diri dan menyalami satu persatu. Dan tiba saatnya ketika dia menyalamiku kutatap wajahnya dengan penuh rasa grogi kulihat kulitnya yang putih langsat dengan tatapan tajamnya hidung yang mancung senyumnya menampakkan keindahan gingsul dan rambut panjang terurai seraya berkata “saya Dewi”. “Yusqol,” jawabku.

Akan tetapi dengan jantung yang serasa deg deg serrr tanganku terasa sulit untuk melepas salaman tanganya hingga si Maman menepuk pahaku, “husttt,” kata Maman. Dengan kagetnya badanku terdorong ke belakang hingga menempel di sandaran sofa. Tanganku terlepas dari tangannya dan tak sengaja mengenai gelas yang ada di atas meja. Seketika airnya mengenai roknya dan semua orang serempak berkata “yaah basah,” lalu semua ngakak bersamaan.

Aku hanya bisa tersenyum malu tapi tak apalah setidaknya senyumannya masih membekas di hati.

Beberapa saat setelah perkenalan, kami semua langsung akrab. Tidak terasa hari menjelang sore, aku dan teman-teman bergegas pulang. Kami pamit pada Maman dan juga Dewi.

Tepat pukul 22.00 saat aku akan pergi tidur, hp ku berdering. Ada nomor yang tidak aku kenal menelfonku. “Hallo, siapa ya?” tanyaku. “Hallo juga ini Yusqol? Aku Dewi,” jawabnya. “Oh kamu Wi, tau nomerku pasti dari mamanya? Ada apa Wi?” tanyaku lagi.

“Gk ada apa-apa kok, aku cuma bete aja. Mau temani aku ngobrol?” kini giliran dia yang bertanya. “Iya boleh,” kataku senang. Kurang lebih hampir sejam Dewi menelfonku.

Sejak pertemuan itu, hari demi hari aku dan Dewi semakin dekat. Hingga suatu hari aku menyatakan perasaan cintaku padanya dan ia pun senang mendengarnya akhirnya kita pun jadian di hari itu.

Pagi-pagi sekali, aku kembali mengawali rutinitasku dengan membuka jendela kamarku melamun. Kali ini yang aku renugkan bukan lagi siapa jodohku? Melainkan kali ini adalah tentang awal pertemuanku dan Dewi pada acara perlombaan desaku. Dan lamunanku pun buyar oleh teriakan tanteku. “Yusss, cepet mandi sarapan.”Iya tan,” jawabku dengan semangat.

Mulai sekarang, aku akan memulai hariku dengan penuh senyuman. Semua ini berawal berkat perlombaan hari jadi desaku. Terimakasih desaku, batinku.

Penulis: Yusuf Nur Qolbi
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here