Semarang, Justisia.com – Aksi tolak mahalnya UKT kembali terulang di UIN Walisongo Semarang. Dinding tembok pagar menjadi sasaran coretan protes mahasiswa terkait UKT yang mahal. Adalah pagar tembok belakang perpustakaan pusat kampus 3. Yang bertuliskan: UKT MAHAL, DIEM AJA, GOBLOK!

Coretan serupa juga ditemukan di dinding belakang perumahan warga di pinggir jalan penghubung kampus 2 dengan kampus 3. Dua tempat coretan tersebut berada di posisi yang strategis karena berada di jalur penghubung antara kampus 3 dan kampus 2. Di samping itu merupakan akses jalan utama untuk keluar kampus, sehingga tidak menutup kemungkinan semua mahasiswa dan pegawai kampus melewati jalan tersebut.

Coretan-coretan dapat menjadi polemik di dunia kampus sehingga memunculkan sejumlah opini yang berbeda dari mahasiswa, seperti yang dikatakan oleh mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi jurusan Manajemen Dakwah (FDK) Abdul Majid. Ia setuju dengan coretan tersebut, majid juga mengatakan bahwa kampus ini mahal.

“Kalau saya sih bagus [coretan seperti itu]. Soalnya kampus sini mahal. Terus anak-anak yang mau ikut kuliah yang dari orang tidak mampu masih mikir-mikir kslau UKT segitu,” ujarnya saat saya jumpai, Kamis (4/4/2019).

Senada dengan Majid, mahasiswa semester 4 jurusan PAI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Iftahfiya menanggapi bahwa coretan-coretan tersebut adalah sebagai respon yang wajar dari mahasiswa terhadap UKT yang mahal.

“Saya sih no problem ada tulisan itu. Karena mungkin itu respon mahasiswa karena UKT mahal. Karena pihak birokrasi tidak ada respon apa-apa. Ya itu mungkin itu salah satu ekspresi dari mereka. Ya saya kira sah-sah saja. Soalnya namanya juga mahasiswa ada sikap […] kritisnya,” terangnya, Kamis (4/4/2019).

Tangapan serupa juga di kemukakan mahasiswa semester 6 dari Fakultas Ushuludin Dan Humainora jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Falah. Ia menanggapi bahwa coretan tersebut merupakan kritikan mahasiswa terhadap birokrasi. Ia menceritakan dulu ketika OPAK pada tahun 2016 ada demo tolak UKT, karena dengan sistem UKT biaya kuliah meningkat drastis.

“Itukan slah satu bentuk kritikan mahasiswa kepada birokrasi. Ini sebenarnya kasusnya mirip dengan dulu 2016. Sudah pernah ada tulisan tulisan tolak UKT itu rame-ramenya pada angkatan awal 2016 itu bahkan ada demo-demo ketika masa OPAK sekarang PBAK. Itu ada demo tolak UKT. Itu setelah acara di lapangan juga banyak mahasiswa yang mebwa tulisan tolak ukt. Itu menurut saya wajar sih kalau sekarang banyak yang protes, karena berubah secara drastis,” ujar Falah, Kamis (4/4/2019).

Komentar lain juga dilontarkan oleh mahasiswa FSH (Fakultas Syari’ah dan Hukum) mengenai hal tersebut. Ia berpendapat bahwa itu adalah sebuah gertakan untuk para mahsiswa jika UKT di kampus tidak sesuai dengan fasilitas yang ada.

“Itu sebuah gertakan dari pihak mahasiswa kepada temen temen supaya sadar bahwa ukt kita itu mahal fasilitas minim,” ujar Santoso yang masih semester 2.

Mengenai tentang coretan tersebut, Susanto berharap supaya untuk ke depan lebih baiknya diadakan audiensi untuk kejelasan tentang UKT.

“Ya diadakan audiensi tentang transparansi ukt, uangnya itu kemana saja biar tidak ada tanda Tanya besar bagi mahasiswa sendiri,” ucapnya.

Coretan yang bertulis “UKT MAHAL DIEM AJA GOBLOK” sampai berita ini diterbitkan belum diketahui siapa yang menjadi pelaku atas itu. Namun, selang beberapa hari melakukan wawancara jajak pendapat dengan mahasiswa, tim Justisia sudah tidak menemukan tulisan tersebut lantaran sudah dilapisi dengan cat berwarna hijau. (Rep:Sadad,Sidiq,Noosy/Red:Am)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here