Cintaku Kalah dengan Oreng Kapalan

0
349

Di Pulau Bawean, orang yang bekerja di kapal atau yang sering disebut dengan Oreng Kapalan dalam bahasa Bawean mendapat tempat tersendiri di hati oleh sebagian Oreng Bhebian (sebutan bagi penduduk Bawean). Bisa dikatakan, pekerjaan yang mengharuskan tinggal di kapal ini menjadi salah satu pekerjaan primadona yang sangat dielu-elukan di pulau yang berada di utara Laut Jawa itu. Bahkan sampai ada satire dalam bahasa Bawean yang mengatakan “Mola oreng akerje kapal, la nyaman mun asare bini” (terjemah: “Jika sudah bekerja di kapal (Pelaut), sudah gampang kalau cari istri”).

Tidak berlebihan jika menyikapi satir di atas dengan serius, serta tidak salah pula jika beranggapan bahwa pekerja kapal dijadikan sebagai standar kecukupan materi dan pekerjaan menjanjikan bagi pemuda yang berasal dari Pulau Bawean, sehingga bisa dengan mudahnya para jebolan kapal ini mencari dan mendapatkan pasangan karena anggapan tersebut.

Selain upah yang lumayan dan gelar Oreng Kapalan yang sangat “wah” ungkapan satir yang beredar di tengah kehidupan masyarakat tersebut, menjadikan Pelaut sebagai pekerjaan yang dianggap eksklusif di Bawean. Dengan kata lain, ungkapan satir tersebut bisa dikatakan benar adanya berdasarkan fakta dan anggapan yang akan dipaparkan berikutnya.

“Tidak ada satupun orang tua yang menginginkan anaknya tidak bahagia,” ungkapan itu benar adanya, tak terkecuali di Bawean. Celakanya, yang menjadi ukuran bahagia atau tidak bahagia adalah materi atau non-materi, serta kaya atau miskin. Saat ini, sangat jarang sekali orang tua yang mengenyampingkan penghasilan, kendaraan, rumah, atau sesuatu yang sifatnya materiel lainnya sebagai standar diterimanya seorang pria menjadi menantu, misalnya.

Baca juga:  Dimanakah Tempat yang Aman untuk Perempuan ?

Tarik benang merah dari beberapa statement di atas yang menyatakan bahwa di Bawean yang menjadi standar kecukupan materi dan pekerjaan menjanjikan adalah seorang pelayar. Gabungkan dengan statement yang menjelaskan banyaknya orang tua mengambil menantu berdasar dari segi materi saja. Iya benar sekali, bisa dikatakan bahwa orang tua di Bawean banyak yang mencarikan dan menjadikan menantu dari kalangan Oreng Kapalan.

Sebagai pengecualian, tidak semua orang tua yang menjadikan Oreng Kapalan ini sebagai menantu hanya memandang dari segi materi saja, sudah jelas yang menjadi perhatian adalah kesediaan si putri untuk dipasangkan dengan Oreng Kapalan ini atas dasar suka sama suka dan beberapa pertimbangan diterimanya seorang pelaut sebagai menantu, misalnya nasab.

Namun, dengan banyaknya kasus di Bawean sendiri yang menghadirkan fakta bahwa ini soal materi, bisa diambil kesimpulan bahwa ini mengenai penyanderaan kata “kebahagiaan” kepada materi dengan mengabaikan pertimbangan yang lain.

Cap Jangkar, Materialistik dan Adu Gengsi

Mungkin subjudul ini dapat dikatakan terlalu keras dan menohok untuk sebagian orang dengan perilaku yang telah dipaparkan di atas. Tapi faktanya, kita tidak bisa mengelak bahwa di era sekarang, yang menjadi standar bahagia dan kesuksesan adalah materi, dan tentu saja yang disinggung adalah Oreng Kapalan ini.

Ya, ini tentang uang, bukan perihal cinta dan kasih sayang atau lainnya, juga bukan tentang rasa iba kepada seorang putri dengan mengharapkan kebahagiaan. Ini tentang anggapan sebagian orang tua yang menyandarkan pendefinisian kata “bahagia” kepada uang, jabatan, profesi, dan hal materi lainnya.

Baca juga:  Pelintiran Kebencian, dan Fenomena Masyarakat yang Memakluminya

Secara sederhana, materialisme sendiri memiliki pengertian pandangan hidup yang semata-mata hanya mencari kesenangan dan kekayaan/kebendaan merupakan satu-satunya tujuan atau nilai tertinggi. Juga mengesampingkan nilai-nilai rohani, bahkan materialisme tidak mengakui adanya budaya immaterial atau adanya Tuhan.

Analogikan dengan realitas yang ada di era sekarang dengan mengambil sample para orang tua yang mengangkat seorang Pelaut sebagai seorang menantu. Akan tetapi, disini tidak menyebutkan bahwa orang tua yang menangkat menantu pelaut tidak mengakui adanya Tuhan. Sama sekali tidak!.

Namun riilnya, banyak para orang tua yang mengenyampingkan persoalan moral, pendidikan agama, dan kemampuan intelektual si calon menantu dari kalangan pelayar. Akan tetapi, tidak sedikit pula para pelaut di Bawean yang mafhum dalam persoalan agama, serta tidak mengesampingkan nilai-nilai religiusitas dalam pekerjaannya. Sekali lagi, pasti ada pengecualian dari pernyataan-pernyataan yang telah dirangkum tadi.

Yang lebih dikhawatirkannya lagi adalah hedonisme, pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Jadi, singkatnya, akan banyak anggapan di Bawean yang menyatakan “Menikah dengan Oreng Kapalan adalah salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan”.

Akan tetapi, jika boleh berpendapat, jangan terlalu berstigma bahwasanya orang tua menerima seorang Pelaut dari sisi materi saja dan menggadaikan cinta sebagai tolak ukur bahagia, karena banyak dari para orang tua memliki kriteria tersendiri dan berbeda dalam memutuskan pendamping bagi putrinya. Jadi, pertimbangan orang tua dalam menentukan calon menantu tergantung dengan pribadi masing-masing.

Baca juga:  Presidential Threshold dan Pesta Demokrasi 2019

Menyoal perihal adu gengsi, memiliki menantu Oreng Kapalan bagi para orang tua dan pacar Oreng Kapalan bagi Paraben Bhebian (terjemah: wanita muda/lajang di Bawean) memiliki kesan dan merupakan kebanggaan tersendiri di kalangan penduduk Bawean. Sehingga, banyak dari beberapa kalangan yang begitu mengagung-agungkan Oreng Kapalan ini. Terkhusus bagi orang tua yang anaknya sudah menyelesaikan pendidikan akademik perkapalannya dan sudah naik ke kapal, tidak jarang yang terlalu berlebihan membangga-banggakan anaknya.

Bagi para sebagian remaja Bawean, bekerja sebagai pelaut merupakan sesuatu yang dielu-elukan, bahkan tak jarang melakukan segala cara demi memuluskan niat demi mendapatkan job di kapal. Alasannya beragam, salah satu alasan tersebut karena melihat dari beberapa kerabat atau teman yang mencapai kesuksesan dalam bekerja sebagai pelaut, sehingga banyak dari pemuda yang tertarik dengan pekerjaan ini.

Contoh lain dari perjuangan pemuda Bawean dalam merealisasikan keinginannya menjadi Oreng Kapalan adalah seperti saat menamatkan pendidikannya di Akademi Kapal, mulai dari perjuangan dalam estimasi pendidikan hingga kekuatan fisik yang benar-benar diuji dalam proses belajarnya. Dan inilah juga salah satu faktor yang menjadikan Oreng Kapalan memiliki standar gengsi tersendiri di tengah-tengah kalangan pemuda di Bawean.

Penulis: Moh. Zakariyah
Mahasiswa dari Pulau Bawean.
Jurusan Hukum Pidana Islam, Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Walisongo Semarang.
Editor: Nur Hikmah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here