Faris (19) pukul 3:00 dini hari sudah berangkat dari rumahnya  Kendal, Senin (19/8/2019), Ia diantar oleh ayahnya untuk mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Keguruan (PBAK) UIN Walisongo Semarang

“Tadi saya diantar bapak, soalnya kalo bawa motor sendiri tidak dibolehin mas,” Jelas dia di tepi lapangan Pembukaan PBAK.

Faris terdaftar sebagai Mahasiswa UIN Walisongo Semarang setelah perjuangan panjangnya dalam melanjutkan studinya. Hingga akhirnya mendapati dirinya diterima di UIN Walisongo melalui jalur UJian Mandiri. Ia merupakan salah satu mahasiswa baru di Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan.

Dari pihak dema Fakultasnya ia diwajibkan agar jam 5:30 sudah berada di kampus, akhirnya pagi dini hari Faris bersama ayahnya menerabas gelapnya malam, menyongsong fajar PBAK. Bagi dirinya berangkat pagi tidak membuatnya menyesal berkuliah di UIN Walisongo, ia malah tambah semangat dan senang.

Berangkat pagi baginya adalah latihan disiplin dan kepatuhan. “Kan nanti setelah menjadi mahasiswa pasti banyak tugas, jadi berangkat pagi bagi saya adalah sebagai latihan mas.” ujarnya.

Tamara (18), Mahasiswi baru Prodi Psikologi, juga sudah standbay di kampus sedari pukul enam pagi, ia berangkat menggunakan Ojek Online( Ojol) dari kosnya. “Tadi saya sempat telat bang, soalnya nunggu Ojolnya lama akhirnya telat lima menit. Saya sampai sini 6:35,” kata perempuan asal Tuban.

Para mahasiswa baru (maba) sangat antusias untuk berangkat pagi-pagi, pada pukul 6:15 bising-bising suara mahasiswa sayup-sayup terdengar, walau halaman masih nampak remang-remang tapi sebagian banyak sudah baris sesuai fakultasnya masing-masing. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) berkumpul di depan gedung G, sedangkan untuk Fakultas prikologi dan Kesehatan (FPK) kumpul di samping gedung M, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) kumpul di depan Gedung Serba Guna (GSG).

UIN Walisongo Sebagai Pilihan

Dengan visi, Universitas Islam riset terdepan berbasis kesatuan ilmu untuk peradaban dan kemanusiaan pada tahun 2038, memiliki daya tarik sendiri di hati para siswa yang baru menyelesaikan pendidikanya di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya, Misalnya Austa (19).

Austa sebelumnya sempat nyantri di salah satu pondok pesantren di daerah Tegal, memilih UIN Walisongo sebagai pilihan untuk melanjutkan studinya. Karena menurutnya UIN Walisongo bagus. “UIN Walisongo Semarang merupakan Universitas Islam negeri, dan saya sendiri ingin memperdalam ilmu agama,” katanya.

Senada dengan Austa, Tamara memilih UIN Walisongo semarang, selain karena Menjamin pengembangan Ilmu agama yang pasti ada, akses UIN Walisongo Juga dekat dari kota asalnya, Demak.

Durin, perempuan asal Pati biasa dipanggil Arin. Sama halnya dengan Faris dan Austa. Pagi itu, Arin berangkat dari kosnya sekitar pukul lima lebih, setibanya di kampus ternyata sudah banyak teman-teman yang datang, ia pun langsung masuk barisan.  Arin yang sejak lama senang mengajari anak tetangganya, kini melanjutkan studynya di jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).

“Saya lulusan SMK mas, tapi saya pernah mengajar. Mengajar anak tetangga gitu mas,” ujarnya saat ditemui di kantin Kampus 3 UIN Walisongo Semarang.

Arin memilki cita-cita ingin menjadi guru, karena baginya guru adalah pekerjaan mulia.

Reporter: Zain
Penulis : Zain
Editor : Inunk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here