Suara ketok palu berbunyi pada ruang hampa. Sekujur tubuhku lemas, bahkan inginku mati saja detik itu juga. Tapi bagaimana, ruang sel menungguku. Tak ada yang dapat menolongku, ataupun memberi semangat kepadaku sepatah kata saja. Justru mereka mengatakan, “dasar pembunuh miskin”.

***

Aku terpogoh-pogoh mengejar bus kota terakhir malam ini. Jam di lengan kiriku sudah menunjukan pukul 21.00. Namun sayangnya, Bus penuh sesak dengan manusia yang baru saja pulang kerja.

Macam zombie, mereka terlihat kekelahan. Akupun dengan terpaksa berdiri dengan satu tanganku memegang alat pegangan di atas.

Aku baru saja pulang berkelana mencari pekerjaan. Ternyata untuk lulusan sarjana pun masih tetap sulit mendapatkan pekerjaan. Sudah seminggu ini aku berputar mengelilingi kota, dari ujung utara hingga ujung selatan, tapi tetap nihil.Tak ada yang membutuhkanku untuk saat ini.

Aku semakin frustasi, ketika tadi pagi ibu kosku menggedor pintu dengan keras bahwa aku harus membayar uang sewa untuk bulan ini. Bagaimana membayar uang sewa kamar, untuk makan saja aku jamak jadi satu di malam hari. Ya ampun, mengenaskan sekali diriku ini.

Tiba-tiba, aku merasakan ada yang menyentuh pinggang sebelah kananku. Hanya sepersekian detik kemudian tangan itu lepas. Aku menoleh kebelakang.

“Eh, maaf, maaf. Saya nggak sengaja,” ucap seorang lelaki dewasa yang posisinya sama denganku, berdiri sembari memegang pegangan atas bus. Akupun tak memperdulikan ucapan lelaki tersebut dan kembali menghadap depan.

Selang beberapa menit, aku kembali merasakan tangan yang memegang tubuhku. Bukan pinggang. Kali ini pahaku yang disentuh. Kali ini aku meraskan sedikit lama, telapak tangan itu mendarat di pahaku. “Aku harus membuat perlawanan,” batinku.

“Sedang apa kau” ucapku keras sembari memukulnya dengan tasku.

“Ada apa mbak? Kenapa? Apakah ada copet? Atau ada apa?” semua orang menanyaiku.

“Di…di…dia melakukan pelecehan,” tanganku menunjuk lelaki dewasa dibelakangku. Aku dengan gagap menjelaskan, bahkan tanpa sadar air mataku menetes.

Lelaki itu terlihat mundur, dan mengelak.

“Enak saja kau menuduh. Sok cantik sekali,” seorang wanita muncul dari belakangnya.

Ternyata ia pacar lelaki itu. Ia bahkan membela mati-matian lelakinya. Tak hanya itu, lelaki itu justru berdalih “tak sengaja menyentuh” dan bodohnya semua orang di bus percaya.

Pertengkaranpun terjadi, antara aku, pacar wanita kurang ajar itu, hingga ibu ibu yang berada dekat denganku.

“Makanya mbak. Kalo pake baju itu yang bener. Baju kurang bahan kaya gitu kok dipake,” celetuk seorang lelaki dari arah belakangku yang membuatku spontan memperbaiki rokku yang tingginya di atas lutut.

“Udah mbak, kamu turun saja dari bus ini,” yang lain menambahkan.

Lututku lemas, aku tak dapat membuat pembelaan apapun lagi. Aku memutuskan turun dari bus di tengah perjalanan.

“Aku suruh menutup tubuhku. Lantas dia yang mata kranjang itu harus menutup apanya. Sungguh tak adil. Aneh!,” aku marah-marah sendiri, di tepi jalan.

Tiba-tiba ada suara siulan, ketika aku menoleh ternyata segrombolan lelaki ada di sampingku.

“Sendirian aja mbak, mau dianter nggak?” celetuk salah seorang lelaki dari gerombolan itu.

Dengan segera aku mempercepat langkah kakiku.Aku segera membaringkan tubuhku ketika sampai di kamar yang berukuran satu petak ini, sempit, pengap.

Tiba-tiba nomor tidak dikenal muncul di layar handphoneku, “malam nona cantik. Bagaimana keadaanmu hari ini?”.

Ternyata yang menelepon pegawai dari perusahaan tempatku melamar pekerjaan. Ia yang melakukan wawancara padaku pagi tadi.

Sebenarnya, satu langkah lagi aku akan diterima di sebuah perusahaan tersebut. Tetapi ya seperti itulah, tak ada manusia waras yang aku temui hari ini. Lelaki yang menelponku ini, dengan beraninya memegang tanganku, ketika wawancara. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan untuk tak bekerja di perusahaan itu.

Dengan cepat aku menekan tombol merah di layar handphoneku, lantas melanjutkan istirahatku.

Aku terbangun, ketika suara ibu kosku menggedor kembali pintu kamarku. Ia lagi-lagi menagih uang bulanan kamar kepada orang yang sedang miskin ini. Aku menjadi teringat ucapan temanku. Satu pekan yang lalu ia menawarkan padaku sebuah pekerjaan. Cukup membuatku bimbang dan ingin menolaknya, tetapi aku paham diriku sendiri yang sedang diambang kelaparan.

“Hanya menemani mereka karaoke, tak lebih tak kurang,” ucap Dani, temanku itu lewat telepon.

Malam pukul 21.00 Aku menginjakan kakiku pada sebuah gedung yang asing bagiku. Aku disambut oleh Dani, kawanku itu.

“Ya tuhan, mendengar siulan saja aku merasa risih, bagaimana dengan ini,” aku mengela nafas.

Aku dituntun pada sebuah ruangan. Tak gelap, tak terang juga. Remang-remang. Warna merah kuning hijau menjadi satu di ruangan itu.

“Tak usah kau hiraukan jika mereka aneh-aneh. Aku di luar, tenang saja,” ucap Dani sembari keluar meninggalkanku bersama seorang om berpakaian rapi, mengenakan jas.

Aku mencoba duduk di samping om yang berada di ruangan. Kemudian menuangkan bir ke dalam gelas. Tadi, setiba di sini, Dani dengan cepat memberiku instruksi bagaimana caraku bekerja.

Setelah minum bir yang aku tuangkan, Dengan begitu percaya dirinya, ia mulai menyanyi dengan posisi berdiri. Aku sembunyi-sembunyi menutup telingaku. Sama sekali tak nikmat di dengar. Aku menyenderkan punggungku. Dan bergumam ternyata kerja seperti ini begitu mudah, hanya menuangkan minum, lalu selesai. Mereka akan menikmati malamnya sendiri.

Om itu mendekatiku. Meminta kepadaku untuk dituangkan lagi bir ke dalam gelasnya. Aku kaget bukan main, ketika tiba-tiba merasakan ada tangan yang meraba pahaku. Seketika aku menumpahkan bir yang berada ditanganku itu tanpa sengaja ke bajunya.

“Apa-apaan ini? Kerja tak becus,” bentak lelaki itu.

Aku berkali-kali mengucapkan kata maaf tetapi ia justru semakin mendekat dan memaki-maki.

“kau mau apa?,” ucapku lirih ketika jarakaku dengan lelaki itu hanya sejengkal.

Aku mencoba mundur ketika posisku duduk. Namun sayang, kursi ini ada batasnya. hingga aku benar-benar berhenti. Mataku menyapu ruangan ini. Benar-benar tak ada siapapun selain om jelek ini. Tubuhku benar-benar lemas, bibirku pucat pasi, serta keringat bercucuran. Pikiranku seolah berjalan ke belakang, ketika kejadian di bus kemarin.

Aku mencoba beranjak dari posisi dudukku. Tetapi gagal, tubuhku justru dibanting olehnya ke sofa. Tanganku dipegang erat sekali, hingga aku benar-benar tak dapat bergerak. Aku meronta-ronta kesakitan sebab cengkraman tangannya kuat sekali. Tak lama, ia justru membuka jasnya serta gesper yang ia kenakan.

“Mau apa kau, lelaki tua,” bentakku.

Ia menamparku. Serta memakiku lagi. “Dasar pelacur miskin”.

Entah dari mana, aku akhirnya memiliki tenaga yang besar. Aku mencoba kabur. Mendorongnya hingga tertidur di meja. Seluruh botol dan gelas pecah berhamburan. Tetapi ia tak patah semangat. Ia menggapai tanganku, lalu membantingku kembali ke sofa. Sepertinya amarahnya sudah tak dapat terkendali, hingga ia merobek baju bagian bawahku.

Aku berteriak meminta tolong. Tetapi tak ada tanda-tanda bahwa seseorang akan masuk ruangan ini. Bahkan si Dani, yang katanya mengawasiku, nyatanya ia diam saja. Lelaki itu mulai menjamah tubuhku, mencium leherku, hingga aku benar-benar tak dapat berkutik. Aku mengibas-ibaskan kepalaku, namun tenagaku tak sebanding dengan lelaki ini.

Mataku menemukan sesuatu di atas meja. Sebuah benda putih di samping buah-buahan.

“pisau,” batinku.

Penulis: Nona Senja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here