Bertahan dengan Cara Sendiri

0
78
Sumber foto: prelo.co.id

Judul Buku : ENTROK
Pengarang : Okky Madasari
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit : 5 April 2010
Tebal Buku : 288 hlm; 20 cm
Peresensi : Sonia Khotmi Rosalina

Entrok merupakan novel pertama Okky Madasari yang terbit pada April 2010 karena dorongan untuk memulai dan keyakinan untuk menyelesaikan novel dari suaminya. Kisah dalam novel ini sebenarnya sederhana, yaitu perjalanan hidup sepasang ibu dan anak yang bernama Marni dan Rahayu yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan pada masa Orde Baru. Yang membuat novel ini menarik adalah tema besar yang diangkat, yaitu feminisme, pluralisme, sosial, politik, militer, profesi, kepercayaan, toleransi, serta agama.

Marni, perempuan Jawa miskin dan buta huruf yang masih memuja leluhur dan melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya dan memanjatkan harapannya. Tak pernah sekali pun dia mengenal Tuhan yang sesungguhnya. Dia bertahan hidup dengan caranya sendiri, dengan menukar keringat untuk sepeser demi sepeser uang. Karakter Marni mulai terbentuk saat ia mulai menginjak dewasa ketika mulai tumbuh buah dada yang membuatnya ingin memakai entrok seperti saudaranya yang sebaya dengannya. Keinginannya memang sederhana, tetapi apa boleh kata, entrok adalah barang mewah yang tak terbeli oleh keluarganya karena ia terlahir dari keluarga miskin yang tinggal bersama ibunya yang bekerja sebagai pengupas singkong di pasar. Tetapi, Marni tak menyerah dengan keadaannya itu. Setiap hari, dia membantu simboknya mengupas singkong di pasar demi sebuah entrok. Di akhir Bab I, diceritakan penulis bahwa Marni berhasil membeli sebuah Entrok, pengalamannya ini membentuk persepsi pada dirinya bahwa sebuah mimpi bisa diraihnya asal mau berusaha dan bekerja keras. Hal inilah yang membentuknya menjadi wanita ulet yang tak menyerah bergitu saja pada segala keterbatasannya.

Rahayu, anak tunggal Marni, adalah pemeluk agama Tuhan yang taat. Pribadi barunya dibentuk oleh sekolah formal dan berbagai kemudahan hidup yang berasal dari ibunya. Beranjak remaja, dia mulai melawan leluhur dan ibu kandungnya sendiri. Dia merasakan hal yang dipuja ibunya, Mbah Bumi Ibu Bapa Kuasa adalah sesuatu yang salah. Sesajen yang sering disediakan ibunya juga ritual-ritual yang dijalankan terasa sangat mengganjal dalam akal sehatnya ketika teman-temannya mulai merundungnya di sekolah. Juga guru agamanya yang sampai memberinya nilai rapor yang jelek. Setelah lulus SMA, Rahayu pindah ke Jogja untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Hal ini membuatnya semakin menjauh dari ibunya.

Setelah kepergian Rahayu, ibu dan anak itu menjadi orang yang asing satu sama lain. Kejadian-kejadian menimpa hidup Marni dan Rahayu yang sudah berpisah. Meskipun mengalami kejadian yang berbeda, mereka sama-sama menghadapi orang-orang atas yang berkuasa dan memegang senjata dengan mengatasnamakan negara.

Novel ini memiliki beberapa tema besar yang dibahas seperti feminisme, pluralisme, sosial, politik, militer, profesi, kepercayaan, toleransi, serta agama, namun semua tema itu berdampingan dengan baik sehingga menghasilkan kisah yang utuh, mengalir, dan terasa sangat nyata. Dalam hal judul, judul novel ini memang menarik sekali, “Entrok”, mudah diingat dan membuat penasaran pembacanya. Entrok atau pakaian dalam wanita memang menjadi dasar dari Marni untuk meraih mimpinya tapi sayangnya kisah Entrok ini hanya terdapat di bab pertama, setelah itu Entrok tak lagi disebut-sebut. Entrok tidak menjadi simbol dari kehidupan Marni dan Rahayu, ia hanya sebuah benda kenangan yang pernah diimpikan Marni. Karenanya, Entrok itu sendiri seakan kurang menguasai novel ini sampai akhir. Tetapi, sampul buku ini sangat merepresentasikan judul dengan baik dengan cara menggambarkan pungung dan tangan seorang wanita yang sedang melepas pakaian dalam yang bernama entrok atau orang Jawa biasa menyebutnya dengan kutang. Ilustrasi itu membantu pembaca untuk memahami arti dari judul Entrok.

Dengan kekurangan dan kelebihan yang ada, novel ini tetap menarik untuk dibaca. Kisah Marni dan Rahayu mengalir dengan apik dan terasa nyata. Dengan dukungan penulisan yang baik, kita terasa di bawa ke setting waktu yang digunakan yaitu pada tahun 1950-1990an. Kita bisa membayangkan dan merasakan sendiri betapa kerasnya kehidupan pada masa orde baru. Bagaimana menurut pembaca yang lain?