Menyebut nama Ambarawa, yang terlintas pertama kali tentu langsung tertuju pada kata; sejarah, legenda, perjuangan, pertempuran, dan pesona alamnya. Demikianlah faktanya, selain keindahan panorama bentang alamnya, Ambarawa adalah saksi bisu sejarah perjuangan negeri ini. Sebagai bagian dari sejarah, kota kecil ini ternyata memiliki beberapa peninggalan sejarah yang berhubungan erat dengan perjuangan kemerdekaan.

Keberadaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut hingga kini masih kokoh berdiri dan menjadi saksi bisu dari peristiwa demi peristiwa yang pernah terjadi di Ambarawa. Sebut saja; Monumen Palagan Ambarawa di tengah kota, kemudian Museum Kereta Api Ambarawa, dan Fort Willem I atau lebih dikenal dengan sebutan Benteng Pendhem Ambarawa.

Ya, keberadaan Benteng Pendhem Ambarawa adalah salah satu saksi bisu, betapa Ambarawa dulunya adalah kota militer, sebuah kota yang oleh Belanda dijadikan sebagai basis militer, basis pertahanan, basis logistik atau sekedar kota penghubung antara kota satu dengan kota lainnya. Dan kali ini kita akan menguak sejarah tentang Benteng Fort William I tersebut.

Baca juga : Apakah Jual Beli Data Pribadi Melanggar Hukum?

Akses Lokasi

Fort William I merupakan salah satu peninggalan era kolonial Belanda. Peninggalan ini juga seringkali disebut Benteng Pendem Ambarawa. Benteng ini berada di Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng ini dapat ditempuh sekitar satu jam dari Kota Semarang.

Benteng yang dibangun pada tahun 1834 dan selesai pada tahun 1845 ini berada dekat dengan Museum Kereta Api Ambarawa, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Akses menuju benteng ini sulit-sulit mudah, anda harus melewati jalan lingkar ambarawa setelah terminal bawen, lalu ketika anda melihat benteng disebelah kanan jalan yang sekitarnya merupakan sawah-sawah, telusuri jalan kecil disebelah kanan tersebut hingga melewati jalan kecil di sebelah timur RSUD Ambarawa. Akses jalan itu tidak terlalu luas sehingga paling pas untuk sepeda motor. Nantinya jalan itu akan sampai di pintu masuk benteng. Terdapat area memarkir kendaraan dengan tarif Rp 5.000. Atau lebih mudahnya cari di Google Map, dan jikalau tersesat jangan malu untuk betanya.

Baca juga : Cara KOSTI Mengenang Sejarah Indonesia

Sejarah Singkat

Secara geografis, letak Ambarawa terbilang cukup strategis, berada pada jalur pertemuan antara tiga kota yaitu Semarang, Yogyakarta dan Solo. Posisi yang cukup strategis inilah yang dimanfaatkan oleh Belanda pada waktu itu untuk membangun basis kekuatan militernya. Tak hanya di Ambarawa, Belanda juga membangun benteng-benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Tujuannya tak lain adalah agar tetap dapat berhubungan dengan Kerajaan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di kota-kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa.

Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, terdapat barak militer dan penyimpanan logistik militer. Namun baru pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Fort Willem I atau Benteng Willem I yang pembangunannya berakhir pada tahun 1845. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927, Fort Willem I digunakan sebagai barak militer KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Baca juga : Pesan Muhibbin ; Kemajuan UIN Walisongo Lebih Penting untuk Dikedepankan Bersama

Bentuk Arsitektur

Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsip defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Sering dijumpai pula dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan. Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan. Kemungkinan adalah untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada bekas bekas lobang di puncak puncak dinding seperti halnya pada benteng benteng peninggalan Portugis yang dirancang untuk memasang meriam. Namun jika melihat letaknya yang tidak jauh dari Stasiun Kereta Api, benteng ini juga berfungsi sebagai penyimpanan logistik militer.

Dahulu, Benteng Pendhem ini rata tertutup oleh tanah. Hal ini merupakan suatu bentuk kamuflase sebagai bagian dari fungsi dan design arsitekturnya. Pada awalnya, benteng ini berada di bawah permukaan tanah, terkubur sebagai salah satu strategi melawan musuh. Hal inilah yang menjadikan Benteng Willem I atau Fort Willem I lebih dikenal dengan sebutan Benteng Pendhem (Jawa : Benteng yang Terpendam).

Lalu Bagaimana Nasib Saksi Bisu Tersebut Kini ?

Benteng yang dimakan usia ini ternyata masih difungsikan hingga saat ini. Setengah bagian benteng sekarang menjadi Lembaga Pemasyarakatan ( LAPAS ) Kelas II A Ambarawa. Kawasan benteng hanya bisa dikunjungi hanya di sisi utara saja. Kondisi benteng sebelah utara pun seolah masih otentik. Keaslian bangunan masih tetap sama seperti zaman dahulu. Benteng ini memiliki dua tingkat, tetapi pengunjung hanya bisa menjangkau lantai dasar. Hal itu dikarenakan lantai dua benteng digunakan untuk tempat tinggal pegawai lapas. Selain itu, kondisi bangunan benteng yang sudah tua bisa saja membahayakan. Oleh karena itu, lebih baik memang patuh kepada peraturan yang ada. Memang kondisi benteng sisi utara sudah rapuh dan termakan usia.

Selesai dibangun pada tahun 1845, usia benteng ini kini sudah lebih dari satu abad. Namun satu hal positif adalah sebagian arsitekturnya masih asli sejak pembangunannya. Arsitektur khas Belanda di Benteng Pendem Ambarawa. Keunikan inilah yang membuat banyak pengunjung gemar berfoto dengan latar belakang arsitektur unik khas Belanda.

Tak hanya itu, Benteng Pendem Ambarawa juga cukup sering digunakan untuk sesi foto model atau foto pre wedding. Berfoto di antara reruntuhan benteng tua ini akan memunculkan sisi estetiknya yang khas. Saat ini pengelolaan benteng memang masih belum dikhususkan untuk wisata. Namun ada rencana ke depan untuk mengembangkan benteng ini agar menjadi salah satu destinasi wisata andalan Ambarawa. Benteng ini sangat recommended buat kalian yang suka Hunting Foto.

Andai saja bangunan-bangunan kokoh itu bisa berteriak, Benteng Pendem tentunya akan menjadi yang paling lantang meneriakkan kesaksian bisu dari panjang dan berlikunya sejarah negeri ini. Penjajahan oleh Kolonial Belanda selama tiga setengah abad, kemudian disusul oleh Negara Matahari Terbit, Jepang, selama tiga setengah tahun, pertempuran demi pertempuran, semua dapat kita rasakan sensasinya di kawasan Benteng ini.

Penulis : No See

Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here