Baptisan, Ketaatan dan Kasih: Renungan Natal 2019

0
236

Oleh: Tedi Kholiludin (Direktur YPK eLsa)

Minggu (22/12/19) pagi saya tiba di Paroki Gereja Santo Petrus Krisologus di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) Semarang. Persis jam 10.00. Saya datang untuk ngobrol dan srawung dengan anak-anak muda di paroki yang baru seumur jagung itu. Di sekeliling gereja, jemaat baru saja keluar mengikuti misa.

Saat hendak berjalan menuju aula yang rencananya kegiatan digelar disana, tanpa sengaja saya melihat masih ada proses di dalam gedung gereja. Tujuan berubah. Lama tak mengikuti misa dan ibadah di gereja, saya berjalan masuk melalui pintu samping yang kebetulan terbuka lebar.

“Halo Mas Tedi,”salah seorang panitia menghampiri. “Hai mas. Saya ikut misa dulu ya? Acara diskusinya belum dimulai kan?,” saya menyapa balik. Panitia diskusi menerangkan bahwa misa regular sudah selesai dan acara diskusi teman-teman muda akan dimulai 30 menit kemudian.

“Ini baptisan, mas. Ada 6 orang yang dibaptis; 5 anak dan satu dewasa,” kata panitia yang juga seorang petugas kesehatan tersebut. “Wah ngepasi dong. Saya belum pernah ikut baptisan langsung,” saya semakin bersemangat.

Baca juga:  Pelayanan Negara “Pilih Kasih”

Saya mengambil posisi di baris kedua paling depan. Selain karena memang tak banyak yang mengikuti misa baptisan, saya ingin melihat dari dekat bagaimana seorang mengikrarkan diri untuk taat pada ajaran Katolik.

Sesekali, jemaat yang hadir di gereja mengarahkan pandangan ke saya dengan rasa heran, meski kemudian diakhiri dengan melempar senyuman. Wajar. Saya ikut misa dengan berpeci plus memakai sarung hadiah lebaran dari mertua. Berbaju batik yang sama saat saya mengisi acara di gereja ini 3 bulan yang lalu.

Saya membalas senyum mereka sembari sesekali mengabadikan ritus penting ini dengan kamera handphone yang baru dua bulan lepas dari jerat cicilan.

“Sanggupkah saudara memberikan teladan yang baik kepada anak saudara serta menentang kejahatan dalam diri saudara sendiri dan dalam masyarakat?,” Romo Yakobus Sudarmadi, Pr yang memimpin Baptisan memberi pertanyaan tentang peneguhan Iman. “Ya, kami sanggup,” jawab jemaat sembari berdiri. “Percayakah saudara akan Allah Bapa yang Mahakuasa pencipta langit dan Bumi?”. “Ya, kami sanggup”.

Baca juga:  Membumikan Alam Sebagai Subjek Hukum

Prosesi baptisan pun dimulai.

Sembari memegang air dalam wadah yang sudah diberkati, Romo Dharmadi satu per satu dari mereka yang dibaptis. Dua wanita muda berjalan di belakangnya. Romo menyirami kepala demi kepala mereka dengan tetesan air berkat ini. “aku membaptis engkau demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,” kata Romo.

Saya menyaksikan dengan khidmat prosesi itu. Turut larut dalam detik pertama dimana seseorang mengikatkan diri pada kehendak Tuhan.

Dalam terang keyakinan iman, baptisan adalah tanda tentang banyak hal. Tanda tentang manusia yang sungguh kecil di hadapan Tuhan. Tanda tentang ketaatan, karena dengan taat kepadaNya, disitulah kasih terjaga. Ketika Yesus memohon dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Ia beralasan, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15).

Selamat Merayakan Natal Teman-teman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here