Judul: Joker
Genre: Drama, Thriller
Durasi: 122 menit
Sutradara: Todd Phillips
Penulis Naskah: Todd Phillips, Scott Silver
Pemeran : Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy, Brett Cullen
Studio Produksi: DC Films, Village Roadshow Pictures, Bron Creative, Joint Effort
Studio Distribusi: Warner Bros. Pictures
Peresensi: M. Ainul Yaqin

 “Aku selalu berpikir bahwa hidupku adalah sebuah tragedi, tapi sekarang aku sadar bahwa hidupku adalah komedi,” ucap Arthur yang dalam film ini menjadi sosok Joker. Ya, kata-kata tersebut yang selalu kuingat setelah menonton film ini. Film Joker memang salah satu film yang patut untuk diapresiasi. Film ini sendiri dibintangi oleh Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck/Joker, Robert De Niro sebagai Murray Franklin, Zazie Beetz sebagai Sophie Dumond, dan Frances Conroy sebagai Penny Fleck, ibu Arthur.

Film yang membawa kita kembali menyelami kota Gotham di tahun 1981 ini, menceritakan awal mula kekacauan kota Gotham. Jika dalam film-film sebelumnya kita selalu disuguhkan Gotham sebagai kota yang hancur dan gagal, di sini kita akan melihat bagaimana itu semua bermula.

Kita dibawa masuk ke dalam rusuhnya kota yang sering kita jumpai; hama tikus yang menyerang kota, sampah di mana-mana, orang jahat berkeliaran, perbedaan si kaya dan si miskin, dan kekecewaan terhadap pemerintah. Arthur adalah salah satu orang yang gagal bereaksi terhadap itu. Mirisnya, ia harus menghadapi semuanya seorang diri.

Arthur bekerja sebagai badut sewaan dan tinggal di apartemen sederhana bersama ibunya. Cita-cita Arthur hanya satu, ingin menjadi komika. Sayangnya, dia punya penyakit saraf yang membuatnya bisa sering mendadak tertawa sendiri tak hentinya. Kondisi yang belakangan menjadi ironi ketika dia gagal melucu saat akhirnya berkesempatan tampil di atas panggung sebuah klub untuk melawak.

Namun, suatu hari dia diundang tampil live di studio bersama Murray sosok idola komikanya. Inilah awal pertama kalinya ia tampil memakai nama Joker. Tampil eksentrik dengan riasan make-up badut, jas warna-warni, dan rambut dicat hijau, sang Joker kini penuh percaya diri dan akhirnya bisa tersenyum lebar pada dunia.

Psikologi Joker
Joker sendiri merupakan representasi absolut dari kekacauan (chaos) dan mengikrarkan diri sebagai musuh bebuyutan Batman yang mewakili ketertiban (order). Oleh karenanya banyak yang menilai film ini kontroversi, karena berdampak pada mental para penontonnya.

Kegilaan Joker sebenarnya dapat ditinjau dari pisau psikoanalisis Sigmund Freud. Freud percaya bahwa manusia pada dasarnya mempunyai  hasrat besar untuk melakukan kekerasan. Namun, karena membahayakan kelangsungan hidup, masyarakat sepakat membuat seperangkat aturan untuk mengekang pelampiasan hasrat tersebut. Inilah cikal bakal peradaban dan seperangkat normanya.

Hal tersebut kurang lebih sama dengan gagasan Thomas Hobbes mengenai “Leviathan” atau monster yang kejam. Bermula dari ketidakpercayaannya mengenai konsep “Illusory Superiority” (sebuah bias dalam pikiran manusia yang memandang hal baik dalam dirinya secara berlebihan).

Hobbes menganggap manusia secara naluriah adalah mahluk amoral. Maka dari itu diperlukan aturan-aturan yang bersifat memaksa agar mereka tidak saling berbuat jahat yang merugikan kehidupan bermasyarakat.

Kendati gagasan Freud dan Hobbes dianggap berguna demi kehidupan kolektif, efek pengekangan yang berasal dari norma atau aturan tersebut dapat menimbulkan depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Untuk melampiaskannya, manusia pun mencari alternatif, salah satunya kekerasan verbal. Itulah kenapa lelucon yang menertawakan cacat tubuh dapat membuat sebagian orang tertawa terbahak-bahak.

Pada level yang ekstrem, efek pengekangan tersebut melahirkan sosok dengan karakter seperti Joker. Sebab hanya (orang seperti) dirinya yang berani mengonfrontasi apa yang disebut Carl Jung sebagai “Shadow” (insting kebinatangan yang disembunyikan di balik persona) lalu menjadikannya sebagai identitas diri. Ditambah dengan segala kepahitan hidup yang ia alami, Joker dengan terang mempersetankan segala aturan di luar dirinya seraya menggugat kemapanan.

Transformasi tersebut membuat Joker dapat ditafsirkan sebagai apa yang dikatakan oleh Nietzsche “Ubermensch” atau makna sebuah dunia. Selain karena ia telah mencapai level sempurna dalam “kehendak untuk berkuasa”, Joker juga melambangkan mentalitas Dionysian (kebudayaan yang mengagungkan unsur kekacaubalauan dan keacakan berpikir), antitesis dari mentalitas Apollonian yang melulu tertib dan serius, sesuatu yang dengan jelas direpresentasikan oleh Batman.

Maka perlukah diherankan jika Joker percaya betul bahwa “satu-satunya cara paling waras untuk bertahan di dunia adalah tanpa aturan”? Sebuah sikap yang secara tak langsung menerjemahkan konsep Nietzsche mengenai “Kematian Tuhan”.

Badut dalam Cerita Rakyat Amerika

Dilansir dari CNN, bagi masyarakat Amerika Serikat, ini bukan pertama kali terjadi gelombang penampakan badut yang telah jadi cerita rakyat di sana. Ben Radford, penulis buku Bad Clowns (2015) yang menulis sejarah badut dalam budaya populer, mencatat penampakan badut-badut di jalan AS sempat terjadi di Amerika pada 1980 dan 2013.

“Badut selalu menjadi karakter ambigu. Badut tidak pernah benar-benar baik, sehingga tidak akurat untuk menanyakan kapan badut berubah jahat. Mereka tidak pernah mengklaim untuk menjadi baik,” tulis Radford, seperti dikutip dari The Guardian.

Badut kadang digambarkan sebagai sosok baik hati dalam iklan burger atau pesta ulang tahun, ketika Charlie Chaplin mengambilalih bioskop pun badut terlihat bagai sosok kocak nan ceria. Tetapi kadang ia digambarkan jahat. Karakter Joker di kisah fiksi Batman diperlihatkan gembira merayakan anarkisme di kota Gotham.

Dualitas pada karakter badut ini sekarang sedang menjadi pembicaraan di media massa Barat yang turut menelusuri asal-usul badut dari sejarah budaya populer.

Pada abad ke-19, badut juga sempat digambarkan sebagai kesedihan, bukan kejahatan. Karakter badut sering dimainkan ceria di atas panggung teater tetapi dalam ceritanya menggarisbawahi realitas kesedihan mereka di dunia nyata.

Representasi Perlawanan

Dalam film ini kita disuguhkan sebuah realita kehidupan dalam alam semesta raya yang begitu kapitalistik, pemenang dan pecundang adalah keniscayaan. Mustahil membayangkan keadilan terlahir dari sistem ini, karena yang dianggap benar hanya dilegitimasi oleh siapa yang punya privilese dan kuasa.

Film ini juga mewakili bentang politik saat ini. Time Out menyebut film ini “visi mimpi buruk kapitalisme era lanjut” dan IndieWire menyatakan film ini membahas “tentang efek dehumanisasi sistem kapitalistik yang menjalankan tangga-tangga ekonomi”.

Arthur seorang pria yang berprofesi sebagai badut, lajang yang miskin, polos, mengalami ganguan kejiwaan dan tanpa perlawanan adalah gambaran bagi masyarakat miskin kota yang terisolasi oleh oligarki sebuah tatanan sistem pemerintahan yang busuk.

Sedangkan menjadi Joker, adalah sebuah bentuk perlawanan yang dipilihnya. Mendobrak sebuah kemapanan sistem yang mengekangnya. Joker bisa jadi sebagai bentuk representasi masyarakat kelas bawah di berbagai negara dunia ketiga: mengalami kemiskinan dan pekerjaan di ujung tanjuk, terpinggirkan oleh sistem pemerintahan dan negara, hingga dikhianati oleh keluarga dan teman sendiri.

Pengalaman hidup membikin mentalnya menjadi-jadi. Baginya menjadi orang baik saja tak cukup untuk bisa menyelesaikan segala masalah kehidupannya.

Arthur menjadi Joker yang politis: anti-kapitalis, sinis dan muak terhadap para konglomerat yang mencoba menjadi pejabat publik, yang enggan berada di bawah otoritas pemerintahan. Ia menjadi manusia tanpa rasa takut.

Di tengah kedaruratan demokrasi dan kesejahteraan sosial kota Gotham, ia bangkit. sedikit memicu gelombang protes masyarakat yang kadung makin benci dengan pemerintah yang oligarki. Dengan mencoba menggerakkan massa lewat aksinya tampil di sebuah acara komika Murray untuk memprovokasi massa agar turun ke jalan melawan penindasan. Layaknya menjadi seorang pahlawan yang disanjung dan dijunjung oleh masyarakat miskin kota.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here