Problematika pertemuan antara agama dan filsafat mungkin menjadi diskursus yang menarik bahkan kontroversial.

Dalam buku filsafat banyak ditemui pandangan dan komentar para tokoh yang pro-kontra terhadap pertemuan antara agama dan filsafat ini. Demikian adanya karena bisa dikatakan bahwa kontroversi pertemuan antara agama dan filsafat berawal dari karakter keduanya yang saling bertolak belakang.

Agama, di satu sisi menekankan aspek kepercayaan atau keimanan terhadap suatu entitas-entitas transenden yang dianggap paling mempengaruhi kehidupan, seperti Tuhan, kitab suci, takdir, surga, neraka dan lain sebagainya. Dalam beragama intinya adalah keyakinan, tanpa harus tahu mendalam apakah yang diyakininya itu benar atau salah dalam konteks secara rasional. Nilai keimanan atau keyakinan dalam agama menjadi suatu yang sangat dihargai.

Sementara di sisi lain, filsafat bertumpu pada aspek keingintahuan dan eksplorasi intelektual. Dalam filsafat orang tidak diperkenankan mengambil suatu keputusan tanpa tahu hal tersebut secara mendalam antara baik-buruknya, benar-tidaknya, layak-tidaknya. Seorang filosof tidak akan ragu terus mempertanyakan hal yang belum diketahui sampai jelas duduk permasalahannya.

Dalam sejarahnya, antara filsafat dan agama saling berebut dominasi atas kehidupan umat manusia. Bisa dikatakan sejak kemunculannya di masa Yunani kuno. Mula-mula orang Yunani mempertanyakan kebenaran keyakinan mereka terhadap hal-hal mitologis yang selama itu berkembang, seperti dewa-dewa, atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain dan dianggap benar-benar terjadi. Ada suatu transisi kehidupan dari nalar mitos menuju logos. Akibatnya minat terhadap keyakinan beragama berkurang. Dari sinilah filsafat bermula.

Melewati abad pertengahan, keyakinan berupaya merebut dominasi kembali, para sejarawan barat modern menganggap era abad pertengahan ini perkembangan filsafat sangat dipengaruhi oleh teologi Kristianitas, kebutuhan berlebihan akan nilai-nilai transenden pada akhirnya mempengaruhi cara pandang manusia terhadap dunia semakin dekaden.

Namun, pada abad pertengahan ini segala hal dalam kehidupan secara tidak langsung diatur oleh otoritas gereja. Akibatnya, manusia semakin gerah dengan pola kehidupan yang serba diatur oleh keyakinan transenden. pada fase ini dunia Islam tengah mengalami kemajuan yang luar biasa dalam segala bidang pengetahuan.

Atas dasar ketidakpuasan manusia terhadap keyakinan transenden yang malah memberikan efek pada kehidupan yang semakin dekaden dan tidak mampu memenuhi ekspektasi kehidupan yang lebih maju di abad pertengahan. Akibatnya, manusia terpacu mencoba kembali mendayagunakan kemampuan intelektualnya, lahirlah jargon cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada) dari seorang pemikir (barat) Rene Descartes dan paham tersebut cukup mampu menjadi signifikansi bahwa manusia sebagai ukuran universalitas.

Totalisasi terhadap keyakinan transenden seperti yang dialami pada abad pertengahan mulai dirobohkan. Babak masa modern telah dimulai, dengan segala paham humanisme, rasionalisme, positivisme, empirisme, dan lain sebagainya.

Berikutnya muncullah fase pemikiran ke empat, jika pada pemikiran modernisme semua hal universalitas bertitik tumpu pada manusia, maka selanjutnya muncul pandangan baru sebagai bentuk pembaruan dari era pencerahan yang banyak memiliki kelemahan. Atau biasa disebut dengan post modernisme yang menekankan terhadap sisi Subjektivitas, Setiap individu dapat membentuk sendiri kebenaran sesuai dengan konteks, waktu, dan tempatnya masing-masing. Bukan objektivitas seperti yang ada pada modernisme.

Terlihat bahwa agama dan filsafat saling bergantian berebut dominasi atas kehidupan manusia, singkat cerita pada masa Yunani kuno akal kelihatan menang, lalu pada abad pertengahan terjadilah suatu fase di mana kepercayaan terhadap hal mistik kembali terulang seperti pada masa Pra Yunani kuno, maka dengan berhasilnya kembali merebut dominasi kehidupan keadaan ini memicu munculnya abad pencerahan dengan semangat rasionalitasnya dan menjadikan agama jatuh ke titik nadhirnya. Lantas selanjutnya modernisme mendapatkan kritik keras dari pemikir kontemporer (Post-modernisme).

Sebenarnya, baik agama maupun filsafat sama-sama berkarakter normatif, dalam konteks berupaya mencari tahu apa yang harus dilakukan. Namun, dasar dari normatifitas keduanya sangat bertolak belakang. Agama mengharuskan untuk melakukan sesuatu atau tidak, harus disandarkan kepada otoritas tertinggi yang berada di luar diri sendiri, seperti Tuhan, atau orang yang menguasai urusan keagamaan. Sedangkan filsafat mengandalkan melakukan sesuatu atau tidak atas dasar intelegensinya sendiri, kelurusan bernalar, dan ketepatan intelektual yang ada pada dirinya sendiri.

Sikap filsafat yang demikian, dianggap mengancam eksistensi agama jika dilihat dari sudut pandang agama, karena eksistensi agama berakar dari berbagai hal misterius yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh intelegensi manusia. Sedangkan dengan mengikuti anjuran filsafat yang mengajak membahas segala sesuatu tanpa pandang bulu, tentu tidak menutup kemungkinan dapat mengguncang keyakinan beragama yang selama ini dianggap benar tanpa harus tahu argumennya.

Sebenarnya sudah banyak filosof yang membahas tentang problem pertemuan antara agama dan filsafat. Mulai dari komentar pro-kontra sampai dengan yang miring, ternyata banyak filosof yang juga dari kalangan beragama menganggap bahwa keduanya itu tidak bertentangan, dapat dilihat dari keduanya yang sama-sama berusaha menunjukkan kebenaran kepada manusia, meski jalurnya berbeda. Seperti yang telah penulis ungkapkan di muka tadi.

Pandangan bernada positif tersebut bukan satu-satunya tipe jawaban atas pertanyaan besar pertemuan antara agama dan filsafat, meskipun pandangan seperti ini banyak ditemui dalam pemikiran seseorang yang ingin mendamaikan antara agama dan filsafat. Menurut catatan Rob Fischer dalam buku Aprroaches to the Study of Religion, setidaknya ada lima pandangan mengenai pertemuan antara agama dan filsafat sejak zaman klasik hingga kontemporer, antara lain:

1. Filsafat sebagai agama tersendiri
Tipe pandangan pertama hubungan agama dan filsafat ini bersifat dikotomik, meskipun agama dan filsafat menempuh jalur berbeda dalam mencari kebenaran, akan tetapi, sering kali materi kajiannya sama. Maka, pada saatnya filsafat akan mampu menjadi “agama” tersendiri yang menyaingi agama resmi-formal yang dianut banyak orang.

Suatu saat filsafat akan merumuskan metodologi agama sendiri dengan praktis dan sistematis, atas dasar intelegensi manusia sendiri tentang apa yang harus dipahami, diyakini, dan dilakukan oleh manusia, dengan kebenaran teoritis metodologis inilah pada saatnya filsafat mampu menjadi agama baru. Pandangan-pandangan filsafat inilah yang akan menjadi tandingan agama.

Kajian-kajian tentang Tuhan, akhirat, hari pembalasan, malaikat, kitab suci dan hal-hal metafisik lainnya dikaji secara mendalam dengan mengandalkan akal saja berdasarkan prinsip-prinsip rasionalitas. Istilah Teologi natural milik David Hume kiranya mewakili ini.

2. Filsafat sebagai “penopang” agama
Kalau yang pertama filsafat akan menjadi rival agama, maka yang kedua ini filsafat justru diletakkan di bawah posisi agama. Segala hasil aktivitas eksplorasi akal budi manusia digunakan untuk mendukung dan menguatkan agama. Agama tak perlu merasa khawatir, karena pada akhirnya seluruh aktivitas kefilsafatan akan menguatkan kebenaran-kebenaran dalam agama. Kajian ilmu kalam atau teologi dalam agama Islam kiranya mewakili ini.

3. Filsafat “memberi ruang” kepada agama
Tipe pandangan yang ini melihat bahwa antara agama dan filsafat tidak mungkin memiliki titik temu. Meskipun visi keduanya sama-sama menemukan kebenaran, akan tetapi jalur yang dilalui keduanya sangat berbeda. Segala aktivitas kefilsafatan akan sia-sia jika bertemu dengan hal-hal misterius metafisika dalam agama, karena misteri tersebut hanya bisa disikapi percaya–tidak–percaya.

Sereflektif apapun kegiatan filsafat pasti masih mungkin sekali dibantah oleh agama yang mendasarkan diri atas kepercayaan atau keimanan. Oleh karena itu, filsafat seharusnya memberi ruang kepada agama dalam dimensi percaya–tidak–percaya ini. Maka hanya ada satu hal yang pasti dalam beragama: percaya atau tidak. Filsafat silakan mengkaji wilayahnya sendiri begitu pun juga agama.

4. Filsafat sebagai studi analistis terhadap agama
Tipe hubungan ke empat ini filsafat menempatkan agama sebagai obyek kajiannya sesuai dengan posisi dan proporsi ajaran agama dalam kehidupan nyata manusia. Filsafat lebih menjadi alat analisis, dengan mendekatinya secara analisis diharapkan menemukan porsi dan proporsi agama dan ajaran-ajarannya dalam realitas kehidupan manusia yang multi-dimensional.

Dengan analisis filosofis demikian, diharapkan menemukan beberapa aspek agama dapat dipahami sekaligus bisa ditentukan dimensi mana yang dapat digarap menggunakan akal manusia dan dimensi mana yang bisa digarap namun tidak memuaskan karena sifatnya spekulatif, dan dimensi mana yang benar-benar tidak bisa digarap dengan akal manusia.

5. Filsafat sebagai studi tentang penalaran yang digunakan dalam agama.
Tipe terakhir ini, filsafat hanya sebagai alat analisis terhadap bagaimana sebenarnya nalar orang beragama, hanya sebatas yang bisa dinalar. Tugas filsafat hanya mencermati, mengamati, memahami, memetakan sebenarnya cara bernalar orang beragama seperti apa karakternya?

Jika diibaratkan, jalur agama dan filsafat adalah dua jalan yang berbeda menuju satu tempat yang sama yaitu kebenaran, maka filsafat di sini hanya berusaha mengetahui bagaimana cara melewati jalur itu? Mengapa bisa begitu? Bagaimana dasarnya? Logika seperti apa yang dipakai? Dan lain sebagainya.

Bagaimana sikap kita sebagai seorang beragama yang juga ingin berfilsafat? Filsafat hanyalah sebuah alat. Dengan alat yang sama kita bisa merumuskan gugatan-gugatan yang dialamatkan kepada agama. Dengan alat yang sama pula kita bisa mempergunakannya untuk meneguhkan keyakinan-keyakinan agama. Mari dayagunakan akal budi untuk berefleksi.

Daftar Referensi :

Faiz, Fahruddin. 2014. Sebelum Filsafat. Yogyakarta: FA PRESS.

Tafsir, Ahmad. 2005. Filsafat umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Penulis : Ruzda K. Zaman

Editor : Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here