Internasional Semarang Night Carnival (ISNC) yang diadakan untuk merayakan hari jadi kota Semarang pada hari Rabu malam kemarin menyuguhkan parade dari berbagai kota. Ada 98 kota anggota Apeksi (Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia) yang mengikuti acara tersebut. Bukan hanya dari pribumi, pesertanya pun ada dari luar negeri seperti: Nanjing Tiongkok, Belanda, Jerman, dan Australia. Karena itulah acara tersebut dilabeli Internasional. 

Setiap kota menyuguhkan “defile” budaya kota masing-masing. Mulai dari baju adat, alat musik, sampai tradisi setiap daerah di suguhkan untuk memeriahkan acara tersebut. Beberapa jam sebelum acara dimulai, tempat-tempat sekitar balai kota sudah tumpah ruah oleh para penonton. Mulai dari anak kecil hingga yang sudah tua. Dari acara ISNC, para penonton bisa mengetahui budaya dari beberapa kota di Indonesia.

Banyak juga mahasiswa rantau yang rela berdesak-desakan untuk melihat acara tersebut. Mereka menunggu-nunggu defile dari kota asalnya untuk mengobati rasa rindu dengan kampung halaman. Tidak hanya para mahasiswa, anak-anak pun tak kalah antusiasnya melihat acara karnaval tersebut. Beberapa dari mereka berkomentar dan tanya-tanya kepada orang tua tentang budaya yang disuguhkan di depannya, seperti, “Pekanbaru itu mana bu?”, “ma, itu apa?”, “itu dari mana ma?”, dan masih banyak lagi. 

Budaya Pembentuk Karakter

Pengenalan budaya kepada anak sejak dini memang sangat penting di zaman digital ini. Pada zaman digital ini anak-anak semakin mudah mempelajari segala hal. Hanya dengan modal kuota dan handphone, mereka bisa menemukan dan mendapatkan apapun, dari yang baik sampai yang buruk. Setiap anak belajar dari apa yang mereka dengar dan lihat. Maka peran orang tua sangat dibutuhkan untuk melindungi penerus bangsa dari pengaruh budaya yang tak selaras dengan budaya Indonesia.

Pesatnya arus informasi mancanegara yang dengan mudah diakses oleh anak-anak juga membawa budaya asing yang telah mempengaruhi karakter mereka. Anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh budaya lain yang pernah mereka lihat dan dengar tanpa memilah terlebih dahulu, dan orang tualah yang bertugas memilah apa yang ditonton dan didengar anaknya. Pengaruh budaya asing pun melekat pada diri anak zaman now sehingga budaya sendiri mulai lenyap dari pengetahuannya. Padahal anak-anak adalah penerus bangsa Indonesia.

Menurut Budayawan Jose Rizal Manua, budaya asing, khususnya dari Barat berhasil mempengaruhi pelajar Indonesia. Itu terlihat dari kamar pribadi hingga ruang-ruang privasi mereka yang dihinggapi budaya luar negeri. Budaya asing yang serba instan tersebut akhirnya mampu menggantikan budaya tradisional yang seharusnya dipegang teguh para pelajar.

Karena itu menurut psikolog anak dan keluarga, Ayoe P Sutomo, ragam budaya bangsa harus diperkenalkan pada anak sejak kecil. Apalagi Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang membuat seni budayanya semakin beragam. Ada banyak jenis tari, pakaian, hingga kesenian daerah yang dimiliki Indonesia. Pengenalan akan budaya bangsa bisa dimulai dengan nilai terkecil seperti sopan santun dan etika seperti mengucapkan terima kasih pada orang yang memberi bantuan kepada kita.

Banyak cara untuk memperkenalkan anak tentang budaya Nusantara. Mengajak anak melihat acara Internasional Semarang Night Carnival kemarin Rabu malam juga termasuk caranya. Lewat buku, jalan-jalan ke tempat bersejarah, mengajarkan lagu tradisional atau bercerita langsung dengan anak juga termasuk cara untuk mengenalkan budaya Nusantara ke anak sejak dini. Seperti dalam jurnal pendidikan anak, Yulfrida Rahmawati memaparkan tentang pengenalan budaya melalui bercerita untuk anak usia dini.

Lewat bercerita juga dapat mengasah imajinasi anak. Setiap anak akan merespon apa yang mereka dengar dan membayangkannya. Mengenalkan anak dengan budaya bangsa juga dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah airnya. Anak-anak akan bangga dengan budaya Indonesia yang sangat beragam dan indah. Dari mempelajari budaya Nusantara yang beragam ini juga dapat membentuk karakter anak menjadi seseorang yang menghargai keberagaman. 

Ketika anak telah mengenal budaya bangsanya, mereka diharapkan bisa menghadapi benturan konflik sosial sejak sedini mungkin. Anak yang telah mengenal perbedaan budaya dengan baik, mereka akan lebih menghargai segala perbedaan yang ada di sekitarnya. Anak juga bakal lebih menghormati dan merasa simpati maupun empati terhadap orang lain di sekitarnya.

Undang-Undangnya Sudah Ada

Bukan hanya anak kecil, pemuda sampai orang dewasa pun banyak yang kurang mengetahui tentang budaya Indonesia. Bahkan banyak anak muda yang lebih mencintai budaya idolanya daripada budayanya sendiri, contohnya menyukai budaya Korea karena mengidolakan K-pop. Tidak keliru mengidolakan artis mancanegara, itu adalah hak setiap orang dan juga bisa menambah pengetahuan tentang budaya negara lain. Tetapi akan keliru ketika 100% mengetahui budaya luar dan 0% pengetahuan tentang budaya bangsa sendiri.

Keragaman budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah di Indonesia menjadi salah satu aset yang harus dipertahankan. Dari masing-masing budaya tersebut pasti memiliki cara dan pola dalam kehidupan, sehingga hal tersebut menjadi suatu kearifan lokal (local wisdom) pada masyarakat tertentu. 

Seharusnya hal ini yang menjadi landasan dalam pembentukan karakter pada manusia Indonesia. Setiap daerah memiliki kearifan lokal tersendiri, yang akan membantu karakter seseorang terbentuk mulai dari lingkungan terkecil di sekitar mereka.

Di era globalisasi ini yang menjadi salah satu faktor mudahnya kebudayaan bergeser yaitu tingkat konsumerisme masyarakat yang sangat tinggi. Karena dalam memenuhi kebutuhannya masyarakat tidak berpikir lagi apakah itu sesuai dengan norma atau budaya yang berlaku di tempatnya.

Karena pentingnya pengenalan dan pemahaman budaya sampailah terbentuk UU No. 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. Undang- Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan ditandatangani Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2017 dan diundangkan di Jakarta pada 29 Mei 2017 dalam lembaran negara Tahun 2017 Nomor 104.

Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan lahir dalam rangka melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kebudayaan Indonesia, pemerintah bersama dengan Komisi X DPR RI akhirnya mengeluarkan UU Pemajuan Kebudayaan RI. Pada awalnya yang diajukan adalah Undang-Undang dengan judul UU Kebudayaan, namun pada akhirnya menjadi Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan karena dalam UUD 1945 Pasal 32 ayat 1 berbunyi:

“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Dengan adanya UU tersebut berarti pemerintah juga risau atas keberlanjutan budaya di Indonesia. Jika anak-anak, pemuda, dan orang dewasa di Indonesia tidak mengenal budaya bangsa sendiri tidak menutup kemungkinan budaya Indonesia akan lenyap. Mungkin juga budaya Indonesia masih ada tetapi sudah melenceng jauh dari norma karena terpengaruhi oleh budaya negatif dari luar.

Dari Sabang sampai Merauke bersebaran budaya-budaya di setiap titik kota. Budaya yang berbeda-beda dengan ciri khas masing-masing membentuk keberagaman yang indah. Tidak ada yang bisa menjamin budaya Indonesia yang indah akan terus ada jika budaya dari luar tidak disaring dengan benar oleh setiap masyarakat dan jika semua masyarakat masih enggan mengenal budaya.

Pengenalan budaya memanglah sangat penting untuk memupuk rasa cinta tanah air dan rasa cinta akan keberagaman. Dan acara ISCN hari Rabu (3/7/2019) kemarin sukses menjadi salah satu cara menumbuhkan rasa cinta dan ingin tahu terhadap budaya Indonesia.

Penulis: Ayu Rahma
Editor: A.M

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here