Aku Fadli, seorang mahasiswa semester 5 Jurusan Psikologi salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Aku Bersama salah seorang temanku bernama Rais. Aku dan Rais sedang melepas stres karena tugas-tugas dari kampus yang begitu banyak. Di hari itu kami sedang iseng menjelajahi salah satu gang di tengah keramaian kota Yogyakarta.

Aku dan temanku baru tersadar. Dan kami sudah berada di sebuah lokalisasi, dalam kamar bersama seorang pelacur yang memiliki kulit putih bening, rambutnya panjang dengan cat warna merah tua, bibirnya merah merona, buah dadanya terlihat begitu besar dengan pakaian yang serba ketat, dan bodinya bak gitar spanyol. Ketika pelacur itu hendak melepas pakaiannya sendiri, spontan kami tersentak kaget.

“Tunggu…tunggu. Apa-apaan ini,” kataku .
“Lho, bukankah kalian berada di sini untuk ini?” jawab pelacur itu yang juga kebingungan. Sialan, kataku dalam hati. Aku menyalahkan diri sendiri.

“Jadi begini mbak, sebenarnya keberadaan kami di sini tanpa kami sadari. kami tidak mengerti, kenapa secara tiba-tiba sudah berada di tempat ini,” ujar Rais mencoba menjelaskan keberadaan kami.

“Ha..ha…ha mas jangan berpura-pura. Emangnya kalian berdua dibawa dedemit, lantas diletakkan di kamar ini?”
“Beneran mbak, kami sungguh tak menyadarinya,” Aku tetap mencoba meyakinkan pelacur di depanku.

“Okelah, jika mas memang tak menyadarinya. Tapi mas mau kan?” pelacur itu lantas mulai membuka kancing bajunya sembari melirik genit kepadaku.
“Hai…hai, saya bukan tipe lelaki macam itu,” cegahku setengah berteriak.
“Kamu gimana sih?” pelacur itu mulai gusar. “Kalau memang nggak mau, ya sudah cepat keluar sana. Buang-buang waktu saja.”

Hal yang membuat pelacur marah karena sudah hampir seminggu dia tidak mendapat tamu. Sedang ada dua lelaki di depannya malah seolah mempermainkannya. 

“Sungguh mbak, kami benar-benar tidak mengerti mengapa bisa sampai di sini. Tapi karena kami sudah terlanjur membuang-buang waktu mbak, dan kami juga sudah terlanjur masuk ke kamar ini, gimana kalau mbak menemani kami bicara saja? Dan tenang saja kami tetap akan membayar,” kata Rais meyakinkan perempuan itu.

Sebenarnya janji Rais untuk membayar hanyalah akal-akalan saja. Bagaimana mau bayar, di kantongnya cuma ada dua lembar ribuan begitupun denganku, itu hanya cukup untuk ongkos pulang. 

Baru teringat di kepalaku ketidaksadaran ini bermula ketika aku dan Rais menikmati dua gelas teh hangat yang kami pesan di sebuah warung di gang yang kami jelajahi.

Tiba-tiba pelacur itu tertawa kencang seraya berkata, “Ha… ha… ha… mas ini lucu. Mana ada orang ke tempat seperti ini hanya untuk bicara saja. Ha… ha… ha…”.

“Jika mbak tak ingin diajak bicara, jadi pendengar saja juga boleh. Kami juga tetap akan bayar”.
Pelacur itu tertawa lagi, hingga dadanya terguncang-guncang. ini terlihat jelas dari celah baju, yang dua kancing atasnya terlepas.

Walaupun kelelakianku sempat menegang juga, namun aku berusaha meredamnya. Sejak pertama aku menyadari, begitu berada di tempat mesum itu, hatiku sudah bersikukuh agar tak terpikat pelacur di depanku ini. Walaupun dalam hati kecil ini kuakui pelacur yang bertubuh montok ini, cukup menggairahkan.

“Sebenarnya kalian pada ngapain sih kesini?” tanya pelacur itu, setelah tawanya reda.
“Sebenarnya kami berdua tadi sedang menikmati teh hangat di sebuah warung, tiba-tiba saja kami secara tak sadar berada di kamar ini,” jelasku. 
Dengan tersenyum tipis pelacur itu berkata, “Oh aku yakin di dalam teh yang kalian minum itu telah dicampurkan obat tidur oleh pemilik warung.”

“Loh untuk apa?” sahut Rais.
“Ya karena pemilik warung itu juga merupakan pemilik lokalisasi ini, makanya dia menaruh obat tidur di minuman kalian dengan harapan nantinya mau menggunakan jasaku,” jelas pelacur itu.

Kemudian Rais mengajakku keluar kamar. Ketika menyentuh gagang pintu dengan segera si pelacur itu mendekati Rais lalu memegang tangannya.

Pelacur itu mulai mencumbu leher Rais semakin lama semakin turun ke bagian dada terlihat dari tatapan sang pelacur nafsu birahinya mulai meningkat. Cumbuannya pun diarahkan menuju bawah pusar Rais. Dengan mata terbelalak Rais mendorong wanita itu, “Dasar kau wanita jalang, hina, cuihhh (meludah) apakah kau tidak malu menjadi pelacurrrr! Pemuas nafsu laki-laki hidung belang, pasti di tubuhmu sudah banyak penyakit berbahaya,” ucap Rais dengan nada tinggi.

Aku pun hanya bisa terdiam melihat apa yang sedang terjadi di depanku barusan. Kupandangi perempuan yang baru saja didorong temanku hingga tersungkur ke dinding kamar. Kulihat wanita itu berlinang air mata, ia menangis dengan nafas tersendat-sendat.

Setelah 3 menit berlalu suasana terasa hening di antara kami bertiga tidak ada yang mengucap sepatah katapun. Tiba-tiba pelacur itu bangkit lalu menuju ke arahku, ia pun duduk di atas ranjang tepat di sampingku. 

“Sebuah kesan negatif pasti sulit terhindarkan ketika kalian mendengar kata pelacur. Pekerjaan yang dilakukan dengan jalan ‘menjual diri’ ini jelas tak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. Namun di balik profesi yang dianggap kebanyakan orang negatif itu, pernahkah kalian sekedar menengok dan memikirkan apa sebenarnya yang menjadi latar belakang keputusan mereka menjadi seorang pelacur?” cerita pelacur itu kepada kami.

“Menurutku tidak mungkin ada wanita yang mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang penghibur lelaki hidung belang. Banyak faktor dalam hidup yang ‘memaksa’ kami untuk ‘jatuh’ ke dalam profesi tersebut. Sebelum kalian menghakimi profesi yang dianggap negatif ini coba dengarkan isi hatiku ini,” sambung wanita montok tersebut.

“Bayangkan kalian memiliki lima saudara yang semuanya berjenis kelamin perempuan. lalu, kedua orang tua kalian meninggal dunia dengan meninggalkan hutang yang jumlahnya ratusan juta. Sedangkan kalian dan saudara kalian tidak memiliki keahlian khusus yang dapat menghasilkan banyak uang. Lalu apa yang akan kalian lakukan? Kasus seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali dalam kehidupan wanita-wanita Indonesia. Keputusan menjadi pelacur akhirnya terpaksa diambil karena pekerjaan inilah yang dapat memberikan mereka uang dengan jumlah banyak hanya dalam waktu sekejap saja. Mereka harus menempuh hidup dengan jalan prostitusi untuk tetap menjalani hidup. Ironis bukan?” tambahnya.

Kulihat Rais ingin memotong curahan hati wanita itu. Lalu, kuangkat jari telunjukku ku arahkan ke bibir isyarat bahwa kuminta temanku ini untuk diam dulu sampai si pelacur selesai bercerita.

“Tidak semua wanita dengan sengaja menjadi seorang pelacur. Kalian mungkin belum pernah mengetahui bahwa perjualbelian anak, khususnya remaja wanita, banyak terjadi di Indonesia. Perdagangan ini bisa menjerat seorang wanita masuk ke dalam dunia prostitusi. Kalian tidak akan pernah mengerti betapa kejamnya dunia prostitusi. Sekali seorang wanita masuk ke dalamnya akan sulit bagi wanita untuk keluar dari jeratannya. Seorang wanita yang ingin kabur dari sebuah lingkungan prostitusi pasti akan menghadapi banyak pihak yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwanya. Inilah salah satu hal yang menyebabkan para wanita itu kemudian tetap melakukan profesi tersebut tanpa bisa merasakan apa yang disebut dengan kebebasan,” ungkap pelacur dengan nafas sedikit tersendat.

Rais yang sedari tadi berada di dekat pintu kemudian mendekati kami lalu duduk di samping wanita itu. Kemudian menepuk-nepuk punggung si pelacur dengan perlahan. Isyarat untuk bersabar. 

“Mana ada seorang wanita di dunia ini yang ingin memiliki profesi sebagai seorang pelacur. Tolong Jangan hakimi profesi ini tanpa mengetahui latar belakang mereka mengambil jalan yang menimbulkan banyak kontroversi ini. Janji negara untuk melindungi fakir miskin dan anak terlantar nampaknya belum dapat terpenuhi. Bila negara mampu menghidupi setiap wanita yang miskin, tidak memiliki keahlian, dan tidak mampu memperoleh pekerjaan, saya yakin tidak akan ada seorang wanita pun yang akan memilih menjadi seorang pelacur. Profesi ini tidak dapat begitu saja disalahkan karena banyak faktor mempengaruhi munculnya profesi ini, termasuk faktor pemerintah,” pungkasnya.

Setelah selesai bercerita air matanya kembali berlinang. Aku dan Rais hanya bisa terdiam tanpa tau apa yang harus kami lakukan. 

“Terimakasih kalian mau mendengarkan curahan hati ini, sekarang kalian boleh pergi meninggalkanku, maaf telah mengganggu kalian,” kata pelacur dengan nada bicara terputus-putus.

“Mendengar cerita mbak, sejujurnya hati kami tersentuh, tetapi kami tidak tau apa yang harus kami lakukan saat ini untuk membantu mbak, kami hanya bisa berdoa semoga selalu diberikan yang terbaik untuk mbak,” pungkasku.

Lalu kuajak Rais untuk keluar kamar, dan kami pun segera meninggalkan wanita itu.

***

*) Cerita ini tidak serta merta membenarkan tindakan pelacuran akan tetapi penulis berharap agar kita dapat lebih buka mata dan hati. Bahwa di dunia ini bukan saja tentang hitam dan putih. Selalu ada sisi abu-abu yang sulit dihindari. Seorang pelacur dengan segala kontroversinya adalah satu hal yang terlalu pelik untuk sekedar diletakkan di sisi hitam saja. Jangan hakimi mereka karena sebenarnya mereka juga punya cita-cita yang sama dengan kita. yaitu hidup tenang dan damai. Hanya saja mungkin jalannya yang berbeda.

Penulis: Yusuf Nur Qolbi
Editor: Afif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here