Oleh : Arifan

Malam itu hujan masih turun dengan deras. Ketika kubaca surat darimu, dingin masih menyelimuti tubuhku. Apalagi ditambah dengan ceritamu tentang pegunungan yang sejuk itu. Bahkan bukan hanya sejuk, melainkan dingin. Aku semakin merasa kedinginan, dan menggigil. Hingga aku tak sempat selesaikan membaca surat yang kau kirim. Kutinggalkan surat itu lalu pergi tidur karena sudah tak tahan dengan kantuk dan dinginnya malam.

Pagi-pagi, waktu matahari menampakkan wajah, aku terbangun. Lalu aku gelagapan mencari surat yang belum selesai kubaca itu. Aku buka selimut, aku lempar ke lantai, lalu melihat kasurku. Tidak ada. Lagi, kulempar bantalku entah ke mana, dan tiada pula aku temukan surat itu. Aku sangat khawatir seandainya surat itu hilang, Cipto. Kembali aku mencarinya. Aku tengok kolong tempat tidurku, kuraba-raba, tetap saja tiada. Aku sangat ketakutan surat itu hilang. Tapi, kalau hilang, siapa yang mengambil?

Aku ketakutan setengah mati, apalagi aku belum selesai membaca. Lalu bagaimana aku harus membalas surat itu padamu?.

“Ya Tuhan, di mana surat dari Cipto itu?”, gumamku dengan kesedihan menyelimuti hati, disertai air mata yang sesekali menetes. Aku sudah pasrah dengan keadaan itu, Cipto. Pasrah dan menyerah mencari suratmu itu. Dan aku yakin, dia hilang, Cipto. Hilang!

Aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh mukaku yang masih kuyu karena bangun tidur. Lalu aku kembali ke kamar, merapikan tempat tidurku yang berantakan. Saat itu juga, aku masih ragu dengan keyakinanku tadi malam, tentang hilangnya surat darimu. Sesekali aku melihat-lihat di sekitar kamar, barangkali aku bisa menemukan suratmu itu.

Hingga tersisa meja belajarku yang belum kurapikan. Aku berjalan ke meja belajarku. Dan ketika kulihat sesuatu, aku langsung bergegas, mempercepat jalanku. Dengan cepat aku sampai di meja belajarku, kutarik kursi, lalu aku duduk, dan akhirnya…

Suratmu, Cipto, aku menemukannya. Luar biasa lega hati ini bisa menemukannya. Ya, mungkin aku kelupaan karena suasana tadi malam begitu membuatku linglung. Hujan deras disertai angin dan petir. Belum lagi pikiranku yang memikirkan tugas yang menumpuk, tagihan kos, dan telepon dari orang tuaku yang memintaku pulang. Maafkan aku, Cipto, karena keadaan itu aku tidak bisa menjaga surat darimu yang begitu berharga itu, yang kau tulis dengan susah payah, hingga kau harus pergi mendaki dahulu untuk menuliskannya padaku. Maafkan aku, Cipto.

Dan lagi, terima kasih atas bunga Edelweis yang kau petik untukku itu. Ya, bunga yang kau putus rohnya, yang mati meski dikenal abadi. Ia bilang padaku, katanya lebih baik hidup di atas gunung daripada di genggamanku yang lembut ini. Ia memang abadi, Cip, tapi ia mati. Rohnya kau putus, lalu ia tak bisa lagi berjumpa dengan keluarganya. Istrinya, anak-anaknya, dan calon anak-anaknya. Ia tak lagi bisa berkembang dan berbiak. Tak bisa lagi menghiasi Gunung Merbabu yang akan lebih indah dengannya.

Aku kecewa atas perlakuanmu pada Edelweis itu, Cip. Seperti itu yang kau namakan pecinta alam?

Pecinta alam itu, setahuku, adalah yang sesuai etika lingkungan hidup universal. Di gunung, tak mengambil apa pun kecuali gambar, tak meninggalkan apa pun kecuali jejak, dan tidak membunuh apa pun kecuali waktu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau menculik dan membunuh Edelweis itu, Cipto. Ku harap kau juga tak meninggalkan sampah di atas sana. Karena aku sering mendengar, di beberapa gunung banyak pendaki yang meninggalkan sampah bekas bekal mereka.

Sebentar, apakah para pecinta alam juga memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas oleh penguasa dan pengusaha, Cipto? Ya, di Kulonprogo, Jogja, para petani berjibaku mempertahankan tanah penghidupan mereka, hingga bentrok dengan aparat, dan dipaksa angkat kaki dari tanah itu. Di daerah Pegunungan Kendeng Utara, Rembang, warga menolak pembangunan pabrik semen yang dikhawatirkan akan merusak kawasan karst yang berdampak pada kekeringan. Warga sudah menolak dengan berbagai cara. Melalui pengadilan, hingga melakukan demonstrasi dengan mengecor kaki mereka di depan Istana Merdeka sampai menelan korban jiwa. Lalu, di Gunungpati Semarang, yang juga mengalami kesulitan air. Dan masih banyak lagi permasalahan lingkungan atau pun alam di negeri ini. Apakah para pecinta alam juga tahu dan membantu mereka memperjuangkan hak-haknya, Cipto? Ya, aku memang tidak begitu tahu tentang masalah-masalah itu, tapi setidaknya aku tidak menamai diriku pecinta alam.

Aku akui kau memang membakar semangatmu dengan begitu besar saat mendaki. Dan semangat yang kau lakukan itu, mungkin karena kau baru pertama mendaki, mungkin. Kuharap suatu saat nanti, ketika kau kembali mendaki, tak perlu kau sebut dirimu sebagai pecinta alam, jika kau masih belum buka mata dengan permasalahan-permasalahan lingkungan dan alam di negeri kita. Nikmatilah dulu alam yang indah itu, Cipto.

Bukan aku tak menyukai usahamu untuk mengajakku mendaki. Aku begitu tertarik dengan ceritamu itu. Senja yang kau lihat hanya sekejap saja, tentang awan putih bersih yang berlarian ke sana-kemari bagai ombak pantai yang tiada henti, dan fajar pagi yang kuning cerah, berlapis kuning kemerah-merahan, dan langit biru yang semakin cerah itu yang tak sempat kaulihat karena kabut tebal menghalangimu berpandangan dengannya.

Ketika aku membaca bagaimana susah payahmu mendaki dan bagaimana kau menggambarkan keindahan alam di sana, aku begitu terpesona, Cipto. Hingga keinginanku untuk pergi mendaki mulai aku dapati. Kau berhasil mengajakku. Tapi. Ya, ada tapinya. Bunga Edelweis itu, Cipto, yang mati karena kau petik. Masih saja membuatku kecewa denganmu. Sudahlah, kuharap kau tak melakukannya lagi di gunung lain atau di mana pun.

Daripada kau bersusah-susah membawakan Edelweis untukku, lebih baik kau ajak aku ke sana saja, ke gunung itu. Aku akan lebih senang melihat keindahan bunga abadi itu dari tempat hidupnya secara langsung, bukan dalam kematiannya yang abadi ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here