Jawa Timur, Justisia.com-Merintis Madrasah Diniyah seorang diri bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Begitulah gambaran yang saat ini dirasakan oleh Muhammad Yasin.

Selama 14 tahun berjuang, bangunan fisik Madrasah Diniyah yang bernama Roudhotus Sibyan tersebut belum juga bisa diwujudkan. Kegiatan belajar-mengajar pun dilakukan di teras-teras rumah penduduk yang bersedia memberikan tempat.

Selain itu di rumah kediaman beliau yang berlokasi di dusun Kayu Gedang RT. 03/Rw. 10 juga digunakan untul belajar agama termasuk belajar membaca Al-qur’an dan pengajian kitab kitab kecil, seperti Mabadi’ul Fiqih, Khulasoh Nurul Yakin, Akhlaqul Lil Banin, dan Al-hadist.

Menurut keterangan pria kelahiran Lumajang tersebut, kendala yang selama ini dihadapi yakni kurangnya tenaga pengajar dan tempat yang belum layak.

“Tetap jalan, walaupun dengan susah. Tapi kami tetap sabar dan telaten bagaimana sekiranya kegiatan tetap berjalan”, ujarnya.

Hingga saat ini, Pemerintah belum memberikan perhatian penuh dengan langkahnya. Upaya pun dilakukan dengan menggalang dana dari para donatur dan wali Santri.

“Pemerintah mau bantu, kalo ada bangunannya, dan berdiri di atas tanah waqof. Klo tidak ada ya zonk. Tidak bantu”, ujarnya.

Walau sampai dijuluki “Pesantren Alam Gaib”, tidak membuat semangatnya surut untuk terus memperjuangkan Madrasah Diniyah.

“Maksud alam gaib, ketika santri masuk, terlihat pesantrennya, tapi ketika santri pulang pesantren hilang karena yg di tempati rumah orang, jadi yg terlihat adalah rumah orang, bukan bangunan pesantren. Dihina seperti itu saya bersyukur”, tambahnya.

Sehari-hari, ia berprofesi sebagai penjual minyak wangi untuk menafkahi keluarga serta sebagai guru ngaji anak-anak dan masyarakat di sekitaran kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang.

“Alhamdulillah saya jalani perjuangan ini.
Berat sekali saya memikul. Tapi semua demi ridho Allah, tetap saya pikul”, ungkap pria yang akrab disapa Ustad Yasin tersebut.

Ia berharap dengan adanya bangunan madrasah, proses kegiatan belajar mengajar bisa berjalan dengan tertib sehingga penyampaian ilmu bisa lebih maksimal. (Lip:Hrl/Red:Sasti)

Reporter: Harli
Penulis: Harli
Editor: Sasti

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here