Politik dan Agama Miliki Dimensi yang Berbeda

0
153
Politis dari PKB, Moh. Asrofi saat ditemui reporter justisia.com setelah acara bedah buku di American Corner, Kamis (25/10). Foto: Fida

Justisia.com Sistem politik agama mulai menjamur di partai-partai Indonesia. Politik agama itu mungkin akan terus digunakan partai politik di Indonesia karena latar belakang masyarakat yang mayoritasnya beragama islam.

Politisi dari Partai PKB, Moh Asrofi mengatakan politik dan agama memiliki dimensi yang berbeda. Meski begitu hanya nilai-nilainya yang bisa bertemu.

Dia menjelaskan politik berbau agama ini perlu diwaspadai. Karena realitanya informasi dan konflik-konflik politik yang disangkut pautkan dengan agama lebih ditanggapi secara serius oleh masyarakat. Padahal persoalan politik berbeda dengan persoalan agama. Sering kali para politisi beragama hanya untuk kepentingan politik, bukan untuk landasan dalam menjalani kehidupan.

Mereka mencampur adukkan agama dan politik. Sisi negatifnya kemudian agama menjadi alat kepentingan bagi politik untuk meraih kekuasaan, tambahnya saat ditemui reporter justisia.com setelah acara bedah buku di American Corner, Kamis (25/10)

Asrofi menghimbau sebetulnya tidak masalah jika politik dan agama berjalan secara bersama, tetapi ada porsi yang harus disendirikan.Agama sebagai pijakan dalam nilai nilai kehidupan, sedangkan politik mengatur kehidupan sosial bernegara.

Memang tidak perlu dipisahkan kalau orang sudah beragama tidak berpolitik tidak seperti itu. Artinya (yang benar) adalah dua-duanya tetap bisa berjalan pada porsinya masing-masing, ujarnya.

Agama seharusnya menjadi suatu nilai-nilai baik yang kemudian menjadi satu inspirasi dan satu pijakan bagai partai untuk memperjuangkan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Nilai keagmaan itu menjadi pijakan untuk jadi inspirasi memperjuangkan indonesia, imbuh pria yang sekaligus Wakil Sekretaris PKB Jawa Tengah.

Dilain sisi, politisi dari Partai Nasdem, Anom B. Prasetyo menceritakan negara yang memiliki konflik-konflik bernuansa agama, hoax dan isu sara adalah negara-negara dengan pendapatan rendah.

Dia melanjutkan sebenarnya itu bukan faktor satu-satunya. Tingkat pendidikan juga bisa menjadi faktor pertumbuhan konflik berbau agama. Maka sebagai kalangan terdidik atau kalangan sarjana yang oleh Wasisto Raharjo Jati digolongkan menjadi golongan menengah (secara intelektual atau orang-orang terdidik) harus membudayakan literasi.

Kita seharusnya juga terus-menerus menggelorakan pentingya literasi media, pesannya. (J/Ayu dan Fida)