Perlindungan Pers Terhadap Korban Kekerasan Perempuan Masih Minim

0
174

Aktivis Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan HAM (SPEKHAM), Elizabet Yuliani Raharjo menyampaikan materi dalam acara seminar yang di selenggarakan dalam rangka Kongres Nasional PPMI ke-XIV. Foto: Aziz

Surakarta, justisia.com – Kongres Nasional PPMI ke-XIV menggelar seminar dengan mengangkat tema “Pendidikan Berbasis Gender di era Keterbukaan Informasi” di Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), Selasa (7/8).

Pada kesempatan tersebut aktivis Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan HAM (SPEKHAM), Elizabet Yuliani Raharjo menyampaikan bahwa perempuan masih menduduki peringkat teratas dalam kasus kekerasan terhadap korban.

“Fakta yang terjadi di era keterbukaan informasi saat ini adalah perempuan masih mendapat kekerasan saat menjadi korban,”ujarnya.

Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan yang paling banyak adalah pelanggaran kode etik jurnalistik yang secara blak-blakan menyebut identitas korban.

“Padahal pemberitaan semacam itulah yang sebenarnya memunculkan bias gender berupa justifikasi ini perempuan baik-baik dan itu perempuan buruk. Ini merupakan diskriminasi berat terhadap perempuan dan tentunya membuat korban mengalami double kekerasan,” ucap Elizabet.

Dia berpendapat bahwa penyebab utama pemberitaan semacam itu akibat media masih melihat korban sebagai objek yang dapat diperlakukan seenaknya saja. Dan hanya ingin terlihat booming saja tanpa mempertimbangkan hak-hak korban.

“Saya kira pemberitaan semacam itu disebabkan tiga hal; Pertama pers masih cenderung mengikuti budaya patriarki masyarakat. Kedua intuisi media yang hanya ingin sekedar tenar dan banyak dilihat orang. Ketiga, media masih mengikuti selera pasar,” bebernya.

Sudah seharusnya pers mahasiswa mulai berbenah dalam menata berita-berita yang akan dikonsumsi oleh khalayak umum. Media harus mulai melihat korban sebagai subjek bukan objek lagi.

“Berpihaklah kepada korban, media tidak harus netral dan cobalah melihat sisi-sisi korban,” tutup aktivis kesetaraan gender tersebut. (Aziz/Syaifur)