Justisia.com Apakah sekolah pembunuh kreativitas? Benarkah?

Setiap orang yang lahir di dunia ini dilahirkan dengan jenius, tetapi jeniusnya berbeda-beda. Setiap orang memiliki kemampuan dan bakatnya masing-masing. Ada yang pandai matematika, ada yang pintar ekonomi, ada yang suka menyanyi dan seni, dan ada juga yang tertarik dalam bidang olahraga. Tetapi tahukah anda realita apa yang terjadi sekarang?

Banyak orang yang beranggapan bahwa anak IPA adalah anak/murid yang paling pintar dan top di sekolah, anak pilihan, dan IQ nya paling tinggi. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa anak IPS sebagai anak buangan, tidak memiliki masa depan, urakan dan ikatan pelajar santai. Tentu, itu tidak lepas dari pola hasil didikan Indonesia saat ini.

Ingatkah kalian saat kita kecil dulu kita sering menggambar sebuah gunung dengan sawah ditambah matahari yang berada diantara gunung? Hampir setiap anak pasti pernah menggambarnya, padahal tidak semua anak tinggal didekat area pegunungan itu. Entah mengapa tapi rasanya kita wajib untuk menggambar gambar itu. Mungkin, itu secara tidak langsung kita dituntut untuk merasa malu saat ingin melakukan hal yang berbeda dari teman-temannya. Sedangkan untuk anak yang berbeda pasti selalu mendapat stigma negatif dari orang lain.

Di sisi lain seiring berjalannya waktu, entah suatu barang atau sistim pasti akan berubah menjadi lebih baik. Contohnya dari dulu yang tidak ada internet dan sekarang kita bebas mengaksesnya tanpa batas dan sangat membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Realita pendidikan di Indonesia sekarang ini adalah selalu mendewakan ujian dan ulangan, dimana siswa akan mati-matian berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dan nasib mereka akan ditentukan oleh soal-soal pilihan ganda dan essay. Lalu hasilnya apa? justru banyak siswa yang merasa stress dan tertekan dengan adanya ujian itu.

Mereka beranggapan jika gagal dalam ujian maka hidupnya akan gagal pula. Dan jika gagal kita tidak diajarkan untuk belajar dari kegagalan, padahal orang yang sukses adalah orang yang mau belajar dari kegagalan dan mengevaluasi dirinya sendiri. Sekolah dan orang tua sering kali lupa bahwa hasil adalah bukan segalanya.

Namun yang terpenting adalah proses belajar dari yang tidak bisa menjadi bisa. Setiap anak memiliki latar belakang yang berbeda-beda, kemampuan yang berbeda, kepintaran yang berbeda pula. Dan sistem pendidikan di Indonesia seakan-akan memberikan obat yang sama kepada mereka. Padahal setiap anak memiliki bakat minatnya sendiri-sendiri dan memiliki kemampuan yang berbeda-beda pula.

Mungkin masalah ini menjadi masalah yang kompleks di negara kita, karena butuh peran dari banyak orang bukan hanya dari guru, siswa, dan orang tua siswa saja. Namun mungkin solusi simplenya adalah Pemerintah dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru. Dengan demikian, minat menjadi guru akan meningkat dan rasio guru dan siswa tidak akan berbanding jauh.

Pengajaran yang lebih dekat dan personal maka kebutuhan dan kemampuan siswa dapat lebih terfokus. Jika siswa berprestasi maka akan membanggakan negeri ini dan edukasi masyarakat juga akan semakin meningkat. (Lina/ Red: Syaifur)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here