Muse dan Ingatan Masa Kecilku

0
109
Sumber foto: wikipedia

Oleh: M. Ainul Yaqin

Mungkin bagi generasi 90-an ke atas tak asing dengan band Muse, Nirvana, M.C.R (My Chemical Romance), Simple Plan, Paramore, Sex Pistols, Linkin Park, Blink, Greenday, dan lainnya. Yang kebanyakan dari mereka bergenre rock, atau lebih tepatnya alternative rock. Pernah suatu saat di mana band-band papan atas itu membiusku dengan perlahan tapi pasti, terkhusus Muse. Ahh, shit..!

Penamaan alternative rock sendiri merupakan salah satu bagian dari ganre musik rock yang muncul pada sekitaran tahun 1980-an dan menjadi sangat populer di tahun 1990-an. Pelabelan nama alternitive sendiri diperuntukkan bagi band-band punk rock untuk mendeskripsikan musik yang tidak sejalan dengan punk rock pada masanya. Namun perlu diketahui pula bahwa sebenarnya dalam genre alternative rock sendiri memiliki sub-sub aliran yang bervariasi, mulai dari musik indie seperti; indie rock, grunge, gothic rock, dan college rock. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya genre alternative rock sendiri merupakan perpaduan antara musik rock, pop, jazz yang beat-nya tidak keras juga tidak terlalu lembut. Jenis aliran musik bebas tanpa batas-batasan dalam mengaransemen.

Awal Perjumpaan
“Pernah dengar lagu Hysteria? Time is Running Out? Atau Starlight kah?”, tanya teman sepermainan yang juga kakak kelasku. Itu loh grup band Muse, masak kamu tidak tau sedikit pun! serngitnya dengan wajah jengkel. “Hehehe. Belum mas. Aku nggak tau lagu itu, apalagi bandnya”, jawabku dengan muka cengar-cengir sambil tanganku menggaruk kepala. “Ayo ikut aku ke warnet. Biar kamu tau apa itu Muse”, ajaknya dengan meyakinkanku.

Saat memasuki kelas 6 SD entah mengapa saya lebih suka bermain bukan dengan teman sejawat melainkan dengan kakak kelas yang terlampau agak jauh 2 tahunan dari bangku sekolah yang saya duduki saat itu. Memang tak dapat dipungkiri, bermain dengan orang-orang yang lebih dewasa menjadikan saya agak sedikit bandel. Dalam artiaan pulang sekolah tidak tepat waktu, karena JJGJ (jalan-jalan gak jelas). Namun terlepas dari itu, mereka sering memperkenalkan saya soal dunia baru yang belum saya temui di bangku SD. Salah satunya perkenalanku pada berbagai genre musik, terutama aliran alternative rock.

Dari kejadian itu saya mulai mengenal nama-nama band di atas dengan segudang lagunya. Dari kejadian itu pula, hampir setiap dua hari sekali saya pergi ke warnet. Maklum saat itu paket data internet masih mahal. Hanya untuk mengunduh 1 lagu di aplikasi 4shared.com atau di waptrick.com, butuh 6 sampai 8 Mb data internet yang dibutuhkan. Sementara saat itu untuk membeli kuota internet sebesar 10 MB saja setara dengan 25 ribu rupiah jika diuangkan. Alhasil, untuk pergi ke warnet saya harus menyisakan uang jajan selama 2 hari. Maklum, waktu itu saya masih SD jadi jatah uang saku pun sangat minimalis, jika dibandingkan dengan kawan saya sekaligus kakak kelas saya tadi yang sudah duduk di bangku SMP. Kontradiksi surplus pemasukan saku seragam sekolah kita pun terlihat begitu njomplang jika diperhatikan.

Tapi dia kadang begitu baik. Seorang dengan penampilan layaknya anggota grunge kawakan namun berhati Hello Kitty. Ya begitu jika saya deskripsikan. Pernah 3 hari berturut-turut mentraktir saya ke warnet dengan alasan suntuk karena banyak tugas sekolah. Saya yang masih polos ini pun mengiyakan untuk menemaninya ke warnet. Karena hampir saben hari kita bertemu, saya pun mulai dipengaruhinya. Terlihat dari wajah yang biasa sangar itu berubah menjadi senyuman khas ala Mattehew Bellamy saat di atas panggung menyapa para fansnya. Untung saja saya tidak muntah di tempat saat memandangnya.

Dari bilik warnet yang berukuran 1 kali 1 meter, ia tiba-tiba memanggil saya sambil menyodorkan headset sebelah kanannya sambil menggenggam hp yang sudah terlihat beberapa daftar lagu yang akan diputarnya. Nampaknya misinya sukses dalam mengunduh beberapa lagu yang dicarinya. Saat itu kali pertama saya mendengar lagu Starlight yang dibawakan Muse. Saya pun segera memintanya untuk mengirim ke hp saya via bluetooth. Maklum, aplikasi shareit saat itu masih menjadi buah pikiran yang belum terealisasikan oleh empunya.

Menjadi Muse Holic
Nampaknya kecanduan itu mulai menggerogoti relung hatiku. Merangsak masuk dalam jiwa-jiwaku. Menebar nafsu di setiap waktu kosongku untuk selalu memutar tangga lagu terus-menerus. Bagaikan seorang pecandu narkotika bukan? Tapi untungnya saya tidak sampai sakau dibuatnya.

Selang sehari kemudian dia memberiku flash disk yang berisikan album Absolution (2005) dan Black Holes and Revelations (2006). Aku mencobanya satu persatu. Ku putar dan resapi setiap lirik dan maknanya. Sambil ku buka jendela google translate untuk mengartikan setiap kata yang asing di telingaku. Hampir setiap hari terutama saat sepulang sekolah ku putar sebagi pengantar istirahat siangku, bahkan di waktu malam.

Keesokannya ganti saya yang mengajaknya pergi ke warnet. Hanya sekedar mendownload lagu-lagu Muse dari album-album sebelumnya yang belum ku miliki. Selesai dari warnet seperti biasa, memutar dan mencatat kata perkata yang belum pernah ku dengar. Sembari belajar bahasa Inggris. Halah sok-sokan…! Tak hanya sampai di situ saja, saking mendarah dagingnya saya sampai mengganti tema dan wallpaper handphone. Tak lupa membeli poster-poster Muse. Meskipun yang murahan seharga seribu lima ratus rupiah. Setidaknya ketika ada teman yang mampir ke rumah dan memantau isi kamarku, aku bisa pamer dan sesekali menyombongkan diri. Agar mereka mengakuiku sebagai Muse Holic (julukan bagi penggemar Muse). Hahaha licik sekali kau Fergusso…!

Progresif Sejak Dini
Muse adalah salah satu grup musik asal Inggris yang dibentuk pada tahun 1994 silam di Devon. Anggotanya sendiri berjumlahkan 3 orang, Matthew Bellamy (vokalis, gitaris, pianis), Dominic Howard (drummer), dan Chris Wolstenholme (basis). Mulai dari lagu Uprising, The Void, Butterfly and Hurricane, Resistance, Knight of Cydonia, Dead Insiden, Time Is Running Out. Hingga lagu di album terbaru mereka yang rilis beberapa bulan belakangan berjudul Propaganda. Semuanya berserakan setiap hari di kepalaku. Mulutku terus berkomat-kamit layaknya sebuah mantra sihir yang begitu mujarabnya.

Awalnya saat itu saya menyukai Muse hanya sekedar dari koreografi yang begitu memukau di setiap konsernya. Ditambah genre musik yang memadukan antara rock, rock progresif, musik klasik, dan elektronika. Berisikan musik yang lebih berat dan gelap, dengan suara bass yang dalam dan terdistorsi. Muse bereksperimen dengan alat-alat musik yang tidak biasa digunakan, seperti organ gereja, mellotron, dan peralatan drum tambahan. Dari situ saya mulai menggemarinya dan mengaku-ngaku sebagai Muse Holic. Apalagi ketika mendengar suara tinggi Bellamy, dengan alunan arpeggio gitar dan permainan piano yang terdengar jelas, yang terinspirasi dari gerakan romantisme khususnya musikus Rusia Sergei Rachmaninoff dan Tchaikovsky. Sungguh, saya selalu bermimpi bisa melihat adegan itu secara langsung di tengah kerumunan para Muse Holic saat konser.

Namun pandangan tersebut ditegur oleh teman sekaligus kakak kelas saya tadi. “Kamu itu jangan menyukai musik (Muse) hanya dari segi penampilannya saja. Mbok ya diresapi di setiap bait liriknya. Kalau hanya melihat gitu saja, lantas apa bedanya kamu mendengar lagunya Joshua yang ‘Diobok-obok Airnya'”, katanya dengan nada tinggi. Benar saja, setelah kucermati dan beberapa kali ku putar lagu-lagu Muse aku baru memahaminya dengan gamblang. Menyelami lirik-lirik nihilis dan depresif, kemuakan terhadap dunia, dan mendobrak nilai-nilai mapan. Mereka mencoba menggambarkan masyarakat yang tercerabut dari sistem sosial yang dimanifestasikan lewat lirik-lirik totalitas dalam menyelami musik.

Sebagai sebuah sub-kultur yang lantas menjadi budaya popular, grunge mewakili entitas yang mencerminkan sebuah sikap terhadap budaya itu sendiri. Grunge adalah anak kesayangan budaya pop terbaru saat fashion jeans dan flannel kucel asli grunge masuk ulasan Vanity Fair dan dipamerkan dalam Fashion Show 7th Avenue di New York. Atau saat anak-anak muda di Seattle kala itu melakukan kontra-hegemoni ketika musik-musik glam rock dan Michael Jackson telah menguasai Amerika. Namun, anti-tren yang dikumandangkan grunge lantas menjadi tren itu sendiri. Oh, ironi!