“Mlempem” Ditelan Zaman

0
97
Sumber foto: pojoksatu.id

Oleh: M. Rifqi Arifudin

Perayaaan tahun baru 2019 tinggal menghitung beberapa hari saja. Banyak orang mulai sibuk mempersiapkan acaranya masing-masing untuk menyambut tahun baru. Mengundang keluarga besar untuk kumpul bersama, sekadar bercengkrama atau membuat pesta bakar-bakar. Di Indonesia, lazimnya dalam menyambut tahun baru dengan tiga komponen yaitu; terompet, kembang api dan kumpul bersama. Menyambut tahun baru dengan cara demikian bukan hanya di kota-kota besar saja, hampir menyeluruh. Entah sejak kapan tradisi menyambut tahun baru di Indonesia demikian.

Di lain sisi banyak pula masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu untuk menyambut tahun baru dengan menonton konser atau berkunjung ke pusat kota. Jadi jangan heran jika kota-kota besar saat pergantian tahun baru akan menjadi lautan manusia.

Terompet, berbicara mengenai salah satu alat tiup ini pastinya bayangan yang muncul dalam otak adalah tahun baru. Memang di Indonesia hal yang lumrah jika dalam menyambut tahun baru, orang akan membeli terompet dan meniupnya saat waktu tepat menunjukan 00.01. Namun di balik suara nyaring yang dihasilkan terompet banyak yang tidak tahu makna filosofis dari budaya tersebut. Kembali lagi, hanya ikut trend semata. Sebenarnya tradisi meniup terompet pada malam pergantian tahun baru adalah ajakan bagi warga sekitar untuk berkumpul menuju tempat ibadah seraya melakukan doa bersama, bukan untuk berhura-hura. Tentunya ini adalah budaya asing dan bukan asli Indonesia. Sisi lain dari terompet hanyalah kebisingan saja. Tiup sana tiup sini melengking memecah gendang telinga.

Pada masanya memang terompet identik akan tahuan baru. Bahkan sering kali jika sudah ada pedagang di pinggir jalan yang menjajakan terompet dipastikan tahun baru tidak akan lama lagi. Namun, saat ini pemandangan di pinggir jalan entah mendekati tahun baru atau tidak sama saja. Lebih banyak diisi oleh pedagang kaki lima dan penjual bensin eceran. Jelas, kini terompet mulai tidak diminati lagi. Suaranya tidak nyaring seperti dulu, di telinga kini sudah mulai bersahabat. Tidak memecah gendang telinga lagi. Di sisi lain, nasib penjual terompet juga ikut tidak senyaring dahulu lagi.

Terompet kini mlempem dimakan modernnya zaman. Sama mlempem-nya dengan ucapan resolusi akan menjadi lebih baik pada tahun mendatang yang diucapkan kebanyakan orang. Pergantian tahun hanyalah semu belaka. Digit angka pada kalender yang berubah, kita tetap sama saja. Ya, sama-sama ingin menjadi serigala bagi yang lain. Tak ubahnya terompet, kita hanya terpaku pada momentum saja namun buta akan akibat yang niscaya abadi. Melengking memecah gendang telinga, dan kini hanya kenangan saja. Bumi semakin tua, jangan dikagetkan dengan suara terompet tidak merdu itu. Jangan buat wajah bumi tua semakin dekil dengan sampah yang ditinggalkan atas perayaan hura-hura tahun baru. Jangan pula biarkan bumi tua menghirup karbon dari nyala kembang api itu. Masih banyak hal positif lain yang bisa dilakukan untuk menyambut pergantian tahun baru. Misalnya meminta maaf pada mantan pacar yang dulu pernah diberi janji akan dinikahi. Misalnya…