Justisia.com Isu yang berkembang bahwa masyarakat Indonesia susah mendapatkan pekerjaan yang layak. Menurut data Badan Pusat Statistik pengangguran di Indonesia masih tinggi. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menyumbang pengangguran terbanyak. Selain itu lulusan dari Perguruan Tinggi setingkat Strata 1 (S1) juga masih kesulitan dalam menemukan lapangan pekerjaan. Membludaknya yang mendaftar (CPNS) kemarin bukti nyata kalau negara ini kekurangan lapangan pekerjaan.

Menurut Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri bahwa tenaga kerja Indonesia sudah baik, dari segi kualitas negara kita tidak kalah. Di zaman yang sudah modern ini tenaga kerja di tuntut memilki keahlian-keahlian khusus yang menunjang kualitas tenaga kerja. Selain itu Indonesia juga bermasalah dalam segi sebarannya. Sebaran tenaga kerja di Indonesia terpusat di kota-kota besar saja. Tenaga kerja di Indonesia adalah kebanyakan yang berpendidikan SD dan SMP saja.

Permasalahan ini mengakibatkan pengusaha dan para investor kesusahan dalam mencari tenaga kerja. Secara tidak langsung banyak tenaga kerja Indonesia siap secara fisik, namun tidak dengan keahliannya. Berhubungan dengan keahlian ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendi mengatakan akan membuat kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan ini berbasis industri. Hal ini di lakukan untuk selain meningkatkan keahlian para siswa, juga akan memenuhi kebutuhan industri dengan tenaga kerja siap pakai. Menurutnya 70% kurikulum akan diserahkan ke industri.

Permasalahan ini pemerintah berupaya keras untuk melakukan pendidikan advokasi bagi tenaga kerja Indonesia. Pertama skilling (pendidikan keahlian), yang kedua up skilling (meningkatkan keahlian), dan yang ketiga re-skilling (memberikan keahlian yang baru).

Tenaga Kerja Zaman Now

Berbicara tentang tenaga kerja juga akan mengenal zamannya. Beda zaman, juga berbeda cara kita bekerja. Di zaman yang sudah sangat modern ini, akses kemudahan komunikasi dan teknologi sangat membantu kita dalam beraktifitas sehari-hari. Pemerintah membuat kebijakan pendidikan harus selaras dengan kebutuhan industri yang ada. Dari kebijakan ini diharapkan banyak bibit-bibit baru yang siap kerja setelah diwisuda. Presiden juga banyak mengusulakan beberapa fakultas baru demi mengikuti perkembangan dunia sekarang untuk kesejahteraan rakyatnya. Sebut saja fakultas kopi, dan kelapa sawit, diharapkan perguruan tinggi bisa mengaplikasikan hal itu. Pendidikan di Indonesia akan terintegrasi dengan dunia kerja dan industri. Kebijakan ini saya rasa akan berdampak beberapa tahun kedepan bila memang pemerintah serius mengurangi pengangguran di Indonesia.

Ada beberapa yang harus dimiliki oleh tenaga kerja zaman now untuk bisa bersaing. Pertama teknologi saving (menguasai teknologi), kedua soft skill (keahlian), ketiga management waktu, keempat pinter komunikasi, kelima kolaborasi. Menguasai teknologi itu berarti bisa mempunyai followers yang banyak, untuk bisa menjadi pengusaha minimal followers tiga ratus. Soft skill disini adalah keahlian dalam mengolah emosi, attitude, dan bukti keseriusan dalam bekerja. Manajemen waktu karena sekarang banyak kebiasaan yang buruk dalam hal mengatur waktu dari zaman ke zaman.

Pintar dalam berkomunikasi ialah harus bisa menempatkan sedang berbicara dengan siapa, dan bagaimana cara komunikasinya. Kolaborasi di zaman sekarang tidak bisa menyuruh orang seenaknya, tapi sekarang adalah zamannya kesetaraan dalam hal apapun begitupun dalam dunia kerja.

Menurut trainer Jamil Azzaini menjadi tenaga kerja zaman now juga harus mempunyai tiga karakteristik, yang pertama agile, kedua digital mindset, dan yang ketiga be present. Agile adalah sikap yang tangkas, cepat, siap menerima keritik dari orang lain, dan tidak mudah menyerah. Digital mindset adalah sikap dimana kita sebagai tenaga kerja harus melihat apa yang bisa dikerjakan melalui teknologi atau tidak. Bila bisa di buat sederhana buatlah dengan sederhana .

Be present adalah sikap yang selalu hadir ketika sedang rapat atau evaluasi. Hadir disini diartikan ialah siap mendengarkan apa yang sedang dibicarakan, tidak sibuk sendiri dengan gawainya.

Untuk teman-teman yang masa perkuliahannya sudah hampir habis, persiapkan diri kamu sebaik mungkin. Sebelum lulus pilih fokus kamu untuk masa depan yang lebih baik. Ikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang ketertarikan kamu pada bidang yang disukai. Ingat pesan dosen KH. Muhyidin M.Ag yang juga ketua MUI Jawa Tengah dalam sambutan di acara wisuda UIN Walisongo 6 september lalu. Beliau mengatakan banyak mahasiswa yang lulus langsung ingin bekerja di intasi.

Padahal peluang kita banyak dalam bidang keilmuan, maka kejar jenjang karir, dengan melnjutkan pendidikan yang lebih tinggi, atau sekolah keprofesian. Bila memang ingin bekerja di instansi tertentu ikuti petunjuk-petunjuk diatas. Namun bila ingin menjadi pengusaha maka kuncinya creative dan berinovasi. Sudah banyak lapangan pekerjaan yang dibuka namun produknya sama. Itulah tugas kita untuk membuat inovasi-inovasi produk yang lebih baik dari sebelumnya. (Yakub/Red: Fadli dan Mufti)

(Yakub, penulis adalah penggemar layar kaca Liverpool)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here