“orang baik bukan ia yang tidak pernah berbuat salah, melainkan orang baik ialah ia yang pernah berbuat salah tapi berjanji tidak akan mengulangi kesalahanya” berikut sepintas kata terpampang di tembok dalam ruang tahanan Pengadilan Negeri Semarang.

Judul : Kubah

Penulis : Ahmad Tohari

Tahun Terbit : 2016

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 211 halaman

ISBN : 9789792287745

Resentator : Hasan Ainul Yaqin

Selepas bebas dari penjara akibat tindakan Pidana yang dilakukan oleh narapidana bukan berarti perkara selesai sudah. Mantan narapidana seakan merasakan berada dalam kesempitan hidup meski secara fisik ia merdeka, bisa kesana kemari dan dapat menghirup udara segar dengan leluasa dibanding saat berada di balik jeruji besi yang dibatasi tembok besar dan tinggi. Apalagi kejahatan yang menyangkut kepentingan umum, kebanyakan masyarakat secara tidak langsung menganggapnya sampah tidak berguna yang harus dibuang jauh-jauh.

Keluarnya narapidana dari jeruji besi masih mendapat stigma buruk oleh masyarakat. pandangan masyarakat ibarat tinta hitam yang menguasai seluruh kertas putih seakan tidak ada setitik berkas kebaikan di hati masyarakat sekitarnya dari mantan narapidana tersebut. ketika seseorang menjadi narapidana stempel buruk melekat padanya yang belum tentu hilang meskipun ia bebas dari tahanan.

Melalui novel berjudul “KUBAH” Ahmad Tohari menceritakan soal mantan narapidana Tahanan politik eks PKI yang diasingkan di tengah kehidupan masyarakat sekitarnya. Bukan saja kehilangan kepercayaan masyarakat. tetapi kekasih hatinya yang menemani hidup bertahun-tahun lamanya hilang menikah dengan lelaki lain.

Ahmad Tohari memiliki kekhasan khusus dalam setiap karya yang mengalir melalui penanya. latar tempat pedesaan dalam setiap novel maupun cerpenya salah satu kekhasanya. Ketika kita membaca karyanya tubuh dan angan seolah digiring ke desa. desa digambarkan Tohari sebagai tempat yang tentram, sejuk, harmonis dan masyarakatnya lebih bersifat kolektif dalam menjalani kehidupan dibanding di kota yang lebih bercorak individualistik.

Demikian pula pembagian masyarakat olah emil Durkheim yang terdiri dari mekanik dan organik. Namun di balik keayeman sebuah desa terdapat kepiluan dan kebodohan yang tak disadari oleh masyarakat desa itu sendiri. pada giliranya penduduk desa seolah tidak tahu menahu atas kejadian yang menimpa tempat tinggalnya. Suasana desa yang dilukiskan penulisnya tentu tidak lepas dari latar belakang penulisnya yang berasal dari desa.Tokoh utama dalam novel ini bernama Karman. Ia divonis 12 tahun penjara lantaran terlibat sebagai kader partai Komonis yang berkecamuk dalam pristiwa tragedi sejarah 1965 sebagai puncaknya. Awalnya Karman adalah orang biasa seperti pada umumnya masyarakat desa Pagetan. Seperti biasa ia menjalani ibadah keagamaan atau ibadah sosial bersama masyarakat di kampungnya.

Merasuknya Faham Komunis

Semenjak bergabung dengan partai komunis dari pengaruh Triman dan Margo seneornya. perlahan-lahan ia meninggalkan kebiasaan yang dijalaninya, bahkan ia mengaku menjadi seorang Ateis/orang yang tak percaya akan adanya tuhan. di seluruh sekujur tubunya tertimbun paham komunis seperti revolusi ajaran Lenin dan Stalin pemikir asal uni Soviet/Rusia kalau saat ini, melawan kelas penindas, ketimpangan sosial dalam ajaran Karl Marx dan menganggap agama sebuah candu yang meninabobokkan kaum tertindas dari cengkraman kaum penindas.

Dengan faham sedemikian, keberadaan agama seolah memberikan legitimasi terjadinya penindasan dimana-mana. Oleh sebab itulah pemuka agama di masyarakat setempat bernama Haji Baqir yang juga menjadi tuan tanah sudah seharusnya dilawan. kaum kapitalis dan tuan tanah adalah musuh abadinya. karena keserakahan mereka terhadap harta, orang miskin dan rakyat jelata menjadi korbanya dari ketidakadilan yang merata.

Dalam analisis Karl Marx hal ini disebut ketimpangan sosial dalam kelas masyarakat. Terjadi ketimpangan sangat signifikan antara tuan tanah dengan kaum miskin yang tidak memiliki tanah,. Dengan faham tersebut orang komunis berusaha mendobrak pintu ketidakadilan itu. Dentuman revolusi yang dilawankan merupakan tindakan nyata hingga mengakibatkan pristiwa amat pilu menimpa negeri ini.

Tidak hanya orang komunis yang diburu, diculik bahkan ditembak mati oleh aparatur negara masyarakat yang tidak tergolong bagian dari komunispun turut menanggung derita. Seperti diceritakan dalam novel lain karya Ahmad Tohari berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” yang begitu populer mengamat peristiwa sejarah masa lalu. Kaderisasi seneor Margo terhadap Karman berhasil merubah karman sekian derajat. Doktrin perlawanan terhadap tuan tanah Haji baqir merasuki jiwa Karman.

Hegemoni melalui Doktrinasi

Akibat doktrin itu Karman tidak lagi menaruh hormat kepada haji Baqir seperti dilakukan sebelum-sebelumya. Di benak Karman haji Baqir adalah kaum penindas yang bersembunyi di balik kedok agama. tidak ada penghormatan secuipun bagi Karman terhadap orang penghisab kekayaan yang mengakibatkan ketimpangan sosial maupun ekonomi di masyarakat.

Saat Karman melamar putri Baqir bernama Syarifah, Karman ditolak entah apa alasannya. Kemudian Margo memberikan alasan yang cukup mempengaruhi fikiran karman yakni karena karman adalah golongan rakyat jelata. sebab itulah karman ditolak. sementara Syarifah putri tuan tanah yang kaya raya pantasnya apabila orang kaya menikah dengan orang kaya pula.

“Tuan tanah memang jahat dan tidak berprikemanusiaan” (hal 102) kata Margo saat membeberkan alasan lantaran Karman ditolak lamaranya oleh Haji Baqir. Mendengar seruan Margo itu, api amarah dalam dada Karman semakin membara. Kebencian terhadap tuan tanah semakin menjadi-jadi. Pada akhirnya Karman menjadi kader militan kaum komunis yang melakukan perlawanan terhadap penindasan yang berkelindan.

Karena cekokan paham berikut itulah membuat Karman berbalik arah menjadi Karman yang baru yaitu sebagai kader militan partai komunis yang gerak-geriknya selalu diwanti-wanti oleh negara. bergabungnya Karman dengan partai itu membawa konsekuensi menimpa dirinya. Ia ditangkap dan dijebloskan dalam Penjara dengan vonis 12 tahun.

Hukuman yang cukup lama itu orang sekitar termasuk keluarganya menganggapnya hilang. tidak mengerti entah kemana, bahkan seiring perjalanan waktu bertahun-tahun orang pun menduga bahwa Karman sudah meninggal dunia bersamaan dengan tragedi berdarah G30S 65. Selepas kepergian Karman yang meninggalkan ketiga anak dan istrinya, si Marni istri karman dinikahi oleh orang lain bernama Parta. Ibarat jatuh lalu ketiban tangga begitulah posisi Karman dalam novel ini.

Pada giliran bebas dari penjara yang menjeratnya 12 tahun lamanya, Karman kehilangan arah. Di dadanya diluapi rasa kehampaan yang begitu berat apakah orang sekitar memandangnya sampah yang sudah tidak layak dihargai dan dipenuhi rasa kekecewaan yang sulit diterima karena istrinya sudah dimiliki orang lain. Jalan seakan sudah buntu kemana ia harus melangkahkan kakinya.

Lalu kemudian ia menemukan tempat hunaian baru di rumah saudarnya sebagai tempat sementara waktu. Hingga akhirnya ia insaf kembali pada kondisi yang lalu. Menjalin baik dengan masyarakat, terkhusus kepada haji baqir yang dahulu dibencinya itu. Spritualitas yang sudah lama gersang ia berusaha membasahinya kembali dengan cara menuju jalan tuhan sebagai pemberi hidayah yang saat menjadi kader komunis ia tak mempercayainya. Tokoh Karman dalam novel ini yang dahulu diasingkan kini kembali melebur dengan masyarakat walau dengan jalan berlika-liku ditempuhnya agar diterima.

Dari novel berjudul “Kubah” ini, dapat diambil kisah yang mengulas tentang bagaimana perjalanan mantan narapidana merasakan pahit getirnya hidup setelah bebas. Meski dinyatakan bebas dari penjara. Ia tidak lagi dipandang baik kelakuanya oleh masyarakat. kehadiran narapidana seolah sudah menjadi sampah yang harus dimusnahkan jauh-jauh.

Lapangan pekerjaan pun enggan menampung mantan narapidana. Dunia dan seisinya seperti mengutuk bahwa mantan narapidana adalah manusia yang sudah tidak ada artinya lagi alias tidak dianggap. akan tetapi walaupun ia mantan narapidana, iapun juga manusia yang masih mempunyai kesempatan berbenah diri menjadi insan yang lebih baik. Tugas kita bukan mengungkit kejelekan masa lalu seorang mantan narapidana, akan tetapi bagaimana kita memperlakukan seorang mantan narapidana seperti manusia pada umumnya. Dihormati, dihargai, dan diberi hak sebagaimana mestinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here