Menawan dengan Kesederhanaan

0
213
Sumber foto: elshinta.com

Oleh: Ayu Rahma Faramadila

Pendekar sarung sekarang bisa berbangga. Tanggal 22 Oktober sudah disahkan menjadi hari pengakuan bagi perjuangan mereka dan menghilangkan paradigma kampungan pada para santri. Jika dahulu para pendekar sarung hanya bisa menundukkan kepala jika di tengah-tengah kaum bercelana necis, sekarang bisa sedikit meneggakkan kepala tanpa menghilangkan kerendahan hati dan kesederhanaan diri. Sekarang para pendekar sarung itu bisa berjalan beriringan dengan kaum bercelana necis tanpa ada sekat.

Jika ditelisik ke belakang, adanya kemerdekaan Indonesia banyak campur tangan dan darah para santri. Para santri zaman dahulu di bawah komando kyai mereka meperjuangkan tanah Indonesia dengan segenap jiwa, mereka tak kenal takut walau malaikat Izrail di depan mata. Berangkat ke medan perang hanya dengan senjata seadanya serta doa yang mengalir deras dari kyai dan orang tua. Niat berjihad di jalan Allah dalam membela negara, mereka dengan tekad baja melangkahkan kaki tanpa lupa melantunkan doa pada Sang Maha Kuasa.

Lihatlah sekarang! Apakah para santri berjuang untuk negara? Cobalah amati sekitar, santri telat sekolah dengan mengatas namakan ngaji, santri telat ngaji dengan mengatas namakan tugas sekolah, santri melupakan tugas hafalan dengan mengatas namakan lupa, dan masih banyak lagi. Apakah itu bisa disebut berjuang untuk negara? Jika berjuang untuk kemaslahatan diri sendiri saja tak punya daya, apalagi untuk negara.

Bukannya niat apa-apa. Saya juga bisa digambarkan seperti itu, santri yang sangat jauh dari kata sempurna. Kadang saya juga berpikir, jika terus seperti ini, apakah kejayaan santri bisa terulang di zaman yang serba canggih ini? kemalasan yang dipupuk, kemunduran yang diciptakan dan diri yang diperbudak setan gepeng alias handphone. Santri yang dahulunya membawa kitab kuning sekarang membawa setan gepeng kemana-mana, sampai mencuci pun dibawa. Santri yang dahulunya ingin pulang karena kangen keluarga, sekarang ingin pulang karena kangen handphonenya, ada juga yang diselip-selipkan di antara tumpukan buku dan kitabnya.

Masih banyak yang masih kurang mendalami apa arti hari santri, termasuk saya. Kita menganggap hari santri adalah hari penghormatan kepada para santri, melakukan upacara atau pawai di balai kota dan menyebarkan kata-kata ataupun gambar berbau Hari Santri Nasional (HSN) di sosial media. Padahal bukan sereceh itu artinya, saya juga masih mencari apakah arti HSN untuk kita? Karena arti HSN berbeda-beda di setiap mata, Jika dari sudut pandang saya saat ini mungkin arti HSN adalah hari untuk menghapus kemalasan, melangkahkan kaki ke depan dalam kebaikan, dan meneruskan perjuangan para santri terdahulu untuk memperjuangkan negara dan agama (semudah-mudahnya berjuang untuk diri sendiri terbebas dari rantai setan gepeng).

Kita semua masih belajar, belajar untuk berdiri dari kemalasan, belajar melangkahkan kaki ke depan, belajar berjalan menuju tujuan, belajar berlali mengejar impian, dan belajar berjuang demi masa depan. Santri bukanlah sekedar murid pengejar prestasi dan materi, santri itu murid pengejar ridha Ilahi, orang tua dan kyai. Santri bukan hanya sekedar pendekar sarung, santri juga pendekar penumpas kebatilan.

Di era milenial ini semakin banyak isu-isu dan konflik yang mengatas namakan agama islam. Salah satunya terorisme yang dilakukan dengan alasan berjihad di jalan Allah. Karena kejadian terorisme itu santri dilabeli sebagai bibit teroris yang haru diwaspadai. Padahal para kyai tidak pernah sekalipun berceramah bahwa membunuh orang yang tidak bersalah itu benar, para santri pun tidak pernah mendapatkan ilmu tentang perakitan kembang api apalagi bom.

Dengan paradigma itu, tugas para santri bertambah. Para santri harus berjuang menghapus anggapan itu sampai bersih, bukan menghapusnya dengan sarung, tapi menghapusnya dengan tingkah laku yang baik di setiap mata. Seperti menegakkan keadilan, membela rakyat yang tertindas, mengulurkan tangan ke setiap orang yang membutuhkan dan masih banyak lagi. Jika itu terlalu berat, setidaknya lemparkan senyum kepada siapa pun, sekalipun kepada orang yang benci (haters).

Santri harus kembali kepada jalannya. Berjuang untuk kemaslahatan diri, umat, bangsa, dan agama. Bukan berjuang untuk menjadi selebgram atau youtuber ternama, apalagi berjuang untuk menimbun diri dengan rupiah sebanyak-banyaknya.

Santri itu sederhana dan merakyat. Tidak perlu intan, emas, dan berlian. Cukup dengan sarung yang tidak kucel dan tidak bau pun sudah dianggap menawan. Santri tidak perlu makan steak, burger, dan pizza. Cukup dengan seperempat telor dadar pun sudah dianggap mewah. Santri tidak perlu spring-bed yang empuk dan mahal. Tidur dengan alas karpet pun sudah dianggap megah.

Di hari santri yang kesekian ini. Jika masih ada yang menganggap santri itu kampungan, tunjukkan kepada para netizen seberapa hebat santri mengukir di atas sandal. Jika masih ada yang bilang santri bibit teroris, tunjukkan kepada para haters bahwa santri tidak pernah belajar membuat bom tapi sering membuat guyon-guyon penyejuk pikiran. Santri itu manusia terkeren dengan kesederhanaan yang mempesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here