Mahasiswa FSH Keluhkan Sempitnya Lahan Parkir

0
146
Kru Justisia saat wawancara dengan Wakil Dekan II FSH, Agus Nurhadi di halaman Kantor Fakultas, Kamis (11/10)

Justisia.com – Rohmat Mustofa mahasiswa FSH mengeluhkan sempitnya lahan parkir. Kendaraan roda dua yang diparkir menjadi berhimpitan dan tidak teratur jalur antara motor yang masuk dan keluar.

“Jalur masuk dan keluarnya harusnya dibedakan, agar motor yang masuk dan keluar tidak bertabrakan,”kata mahasiswa asal Batang saat ditemui reporter justisia.com di depan Gedung G FSH, Kamis, (11/10) pagi.

Selain itu, Mustofa juga mengharapkan tempat parkir yang nyaman. Seperti yang ia kemukakan bahwa tempat parkir tak beratap membuat jok motornya akan terasa panas jika diduduki.

“Ya kalau mau di buat atap malah lebih bagus. Untuk menghindari motornya kepanasan,” ujar Rohmat Mustofa, mahasiswa Ilmu Falak semester 1.

Masalah yang tidak kalah menarik perhatian pria berpeci, satpam yang hanya berkeliling tanpa memeriksa keadaan parkiran. Petugas keamanan dianggap hanya mencari kendaraan yang parkir sembarangan. Sehingga mahasiswa hanya berusaha agar kendaraannya masuk ke lahan parkir resmi tanpa memedulikan tentang kendaraan mereka yang akan berhimpitan dengan kendaraan lain.

Wakil Dekan II, Agus Nurhadi, menjawab keluhan dari salah satu mahasiswa FSH terkait pembedaan jalur keluar masuk yang menyebabkan sempitnya lahan.

“Lho, kalau dibuat dua jalur jalannya menjadi lebar dan malah menjadi tidak muat,” ungkap pria yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Hukum.

Kurangnya lahan parkir memang diakui oleh Agus, karena setiap tahun mahasiswa UIN Walisongo pada umumnya semakin bertambah diikuti juga bertambahnya kendaraan mahasiswa. Umumnya, kendaraan yang digunakan adalah roda dua. Oleh karena itu, lahan parkir di depan Kantor Fakultas yang sebagian dikhususkan untuk dosen diberi toleransi jika digunakan juga oleh mahasiswa. Walaupun hal ini pasti akan terlihat kurang rapi jika dilihat.

Pria kelahiran Boyolali itu memapaparkan, tempat parkir FSH terbagi menjadi beberapa titik, yakni di belekang gedung G, di samping kanan gedung M, di depan, samping dan belakang Kantor Fakultfas Syariah dan Hukum, serta titik yaang belum banyak diketahui oleh mahasiswa, yaitu di lapangan depan gedung G.

“Tempat parkir yang kita punya itu ada di belakang gedung G, di samping gedung M, di depan, samping, serta belakang Kantor Fakultas, lalu ada lagi yaitu lapangan yang ada di depan gedung G, itu boleh digunakan,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Agus, menjelaskan jika area parkir di lapangan depan gedung G boleh di gunakan sebagai lahan parkir. Agus beranggapan jika perlu diadakan sebuah sosialisasi kepada mahasiswa. Karena lahan tersebut merupakan lahan pengganti setelah di tutupnya lahan parkir di belakang gedung M. Hal itu didukung dengan hasil pengamatan reporter justisia.com, banyak mahasiswa yang tidak tahu tentang hal tersebut.

Pihak dekanat, Agus, berpendapat bahwa, mengenai lahan parkir yang nyaman dan beratap. Menurutnya, pembangunan lahan parkir akan lebih dipikirkan lagi, dan jika sudah ada lahan parkir baru yang efektif, pasti lokasinya akan beratap.

“Keluhan tentang tugas satpam juga tak luput dari tanggapannya, Saya tidak mengetahui kontrak satpam sampai mana. Mereka adalah pekerja kontrak yang memiliki tugas sesuai kontrak, dan kontrak mereka di atur oleh kampus 1.

Central Park adalah salah satu yang diusulkan oleh pria berbaju batik tersebut, sebagai solusi atas semprawutnya parkiran di fakultas syari`ah. Banyak mahasiswa yang mengeluhkan tentang kurangnya lahan parkir bagi motor mahasiswa. Akibatnya, motor menjadi berdesakan dan memilih tempat parkir yang bukan seharusnya untuk parkir.

“Kalau saya, idealnya, kalau boleh, di UGM itu mahasiswa 57.000, parkiran rapi, karena apa? Adanya Central Park, jadi parkiran itu tersentral, contohnya coba semua parkiran di kampus 3, nanti dijadikan satu di Central Park itu,” ujarnya, dalam wawancara yang dilakukan di depan Kaantor FSH, Kamis (11/10).

Selain parkiran akan lebih tertata, ia menjelaskan juga tentang efek lain yang bisa didapatkan jika parkiran disentralkan. Yakni, mahasiswa dan dosen menjadi lebih sehat karena harus berjalan dari parkiran ke kelas. Namun proyek ini tidak serta merta bisa di laksanakan begitu saja, karena sebelum membangun Central Park pasti ada pepohonan yang harus di tebang dan hal itu perlu izin dari pihak lingkungan hidup.

Agus menambahkan, jika Central Park disetujui, beliau menduga jika lokasi yang akan dipakai adalah lapangan di dekat GSG, yang pasti Central Park tersebut memiliki penjaga.

“Saya menduga lokasi yang akan digunakan untuk Central Park adalah lapangan di samping GSG. Dan nanti akan ada yang menjaga,” pungkasnya. (UL,YN/R)