Semarang, Justisia.com – Suko Rianto, mahasiswa jurusan Hukum Keluarga Islam sekaligus nyambi jualan buah pepaya dan melon menulis keresahannya di papan pengumuman gedung M kampus III UIN Walisongo.

Ketika diwawancarai kru Justisia rabu (24/10) ia bercerita keresahan pada jualannya ketika tidak menemukan uang pembayaran di kotak jualan miliknya.”Tidak semua orang itu jujur pas mau beli. Toh juga namanya kantin kejujuran. Jadi adakalanya mereka yang tidak mau membayar entah itu salah masukin kotak atau memang nggak mau bayar”, ujar mahasiswa asal Kediri, Jawa Timur tersebut.

Ia juga menambahkan terkadang uang yang dibayarkan ada yang sudah kusut hingga yang sudah rusak tetapi tetap saja ada yang masih tega ngambil kembalian. “Trus yang kedua (ada mahasiswa) mau bayar tapi uangnya udah lecek (kusut). Kalau lecek utuh tidak dipermasalahkan tapi ada yang lecek-nya sampai terbelah, ada uang yang sampai belahannya hilang, trus ada juga yang uangnya gede tapi rusak sobek-sobek gitu tapi masih tega ngambil kembalian”, tambahnya.

Karena itu, terkadang ia tidak mendapatkan keuntungan seperti yang telah diperhitungkannya.

Ke depannya, ia berharap ada yang bisa memberikan fasilitas agar kantin kejujuran ini bisa terkelola dengan baik. “Cukup difasilitasinlah nanti (supaya) kita bisa me-manage jadwal jaganya ketika anggota tak ada yang kuliah”, ungkap pria yang kerap disapa Suko tersebut.

Untuk para mahasiswa ia sangat mengharapkan kejujuran ketika berbelanja di kantin kejujuran, membayar dengan uang yang layak, cermat memasukkan uang ke kotak pembayaran, dan seandainya ketika membeli belum ada kembalian, bisa menuliskan nominal kembaliannya di secarik kertas. (J/Harly)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here