Justisia.com “Syukuri apa yang ada… hidup adalah anugrah… tetap jalani hidup ini… melakukan yang terbaik… Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasanya… bagi hambanya yang sabar… dan tak kenal putus asa…”

Setelah aku menyanyi setengah lagu, tak sadar bahwa dari tadi sudah banyak orang yang berdiri di depanku dan mendengarkan aku menyanyi. Suar tepuk tangan aku dengar saling bersautan menandakan memberikan pujian kepada diriku yang belum punya bakat apa-apa. Aku pun langsung berdiri dan membungkukkan badanku sebagai tanda hormatku kepada mereka.

Aku pun kembali duduk dan memeluk gitar kecilku. Aku tak menyangka bahwa banyak orang yang menikmati suara sumbangku ini. Disaat aku menikmati kebahagiaanku pada siang menjelang sore ini, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik mendekatiku. Aku pun membenahi posisi dudukku sedikit menegakkan punggungku. Wanita cantik ini tersenyum tipis dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.

Aku sedikit memincingkan mata menatap wajah teduh dihadapanku, “baru ini aku berhadapan langsung dengan wanita secantik ini,” ramalku dalam hati.

“halo dek, maaf ya menggangu waktumu, bolehkah kita berbincang sebentar ?” Aku hanya bisa mengangguk, mengiyakan pertanyaan kakak cantik di depanku.

“saya sangat menyukai suaramu, sedari tadi saya melihatmu penuh dengan rasa haru, saya sudah berniat ingin berkenalan denganmu dek, boleh kan?” pinta halus kakak di depanku.

Sekali lagi, aku hanya mengangguk

“terima kasih dek, oh ya, boleh gak kakak mendengarkan suaramu dari dekat? Pasti lebih bagus dari yang kudengarkan dari belakang tadi.”

“boleh kak,” jawabku akhirnya

“Oh ibuku…

Engkau lah wanita

Yang ku cinta selama hidupku

Maafkan anakku

Bila ada salah

Pengorbananmu tanpa balas jasa….”

Aku melihat air mata menetes dari mata indah kakak cantik di depanku. Aku masih tak mengerti mengapa dia menangis, apakah suaraku sangat jelek sehingga kakak cantik ini menangis? Apakah permainan gitarku tak selaras dengan lagunya? Ingin hati menanyakannya, namun aku hanya bisa terdiam menunggu kakak berhijab di depaanku berkata kembali.

“maafkan kakak dek sudah menangis di depanmu, kakak hanya teringat dengan ibu kakak di alam sana. Beliau berpesan dengan kakak untuk mencari anak perempuan kecil yang suka mengamen di bus-bus. Saat itu aku bingung kenapa ibu meminta permintaan aneh semacam itu, namun aku paham, suaramu lah yang membuat ibu ingin mengadopsi kamu namun apa daya keesokkan harinya tak menemukan kamu lagi.” Kakak berbulu mata lentik itu mulai menyeka air matanya.

“kakak harap kamu mau tinggal bersama kakak, ibu pasti bahagia kalo kakak bisa menemukanmu dan merawatmu,” ujar kakak sambil mengelus rambutku.

“tapi aku tak mengenalmu kak”

“mulai saat ini kita kenalan ya, panggil saja kak Indah, sekarang kakak sudah kerja di perindustrian musik,” sapa kak Indah sambil menjulurkan tangannya.

“aku Saila kak, ibu sangat menyukai namaku kak ujarku,” membalas juluran tangan kak Indah

“apakah mau kamu bersama kakak dek Saila ?”

“apakah boleh kak? Kita baru kenal?”

“biar kamu percaya ayo ikut kakak ke rumah kakak ya, gak jauh kok dari sini”

Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju rumah sederhana namun rindang dengan suasana yang amat meneduhkan hati. Aku mulai berjalan pelan mengiringi langkah Kak Indah. Dia mulai membuka pintu rumah dan mempersilahkan aku duduk. Dia mulai menuju dapur untuk mengambilkan air minum untukku.

Aku pun mengedarkan pandanganku ke penjuru rumah. Banyak sekali foto dan mendali yang aku lihat. Tanpa ku sadari kak Indah mulai tersenyum melihat tingkahku yang super norak. Maklum dari anak jalanan, tak pernah melihat ketenangan dalam suatu tempat yang dinamakan rumah.

“apa kamu percaya kakak? Kakak hanya mau kamu membantu kakak memenuhi perminntaan ibu, tapi di lain sisi kakak memang mencari adik untuk menemani kakak di rumah ini, kamu mau kan?”

Aku tak mampu berbicara, apa ini jawaban dari doaku selama ini, bisa berjumpa dengan orang baik yang mau berteman dan mengajaknya bermain. “Aku hanya bisa mengangguk ketika teringat kata-kata ibu ketika ada rezeki jangan ditolak, syukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan,” kata ibu kala itu.

Seketika Kak Indah memelukku dan tak henti-hentinya mengatakan terima kasih padaku. Aku yang masih anak kecil hanya bisa merasakan kebahagiaan besar di benaknya tanpa bisa menafsirkan apa sebenarnya kebahagiaan yang telah aku berikan.(Avecenna Asjad/ Red: Fadli dan Mufti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here