Jemari lentik dan Gitar kecil (Bag -1)

0
469
Sumber ilustrasi : Locita

Justisia.com Langkah kakiku masih menyusuri jalan. Terik matahari sudah menjadi penerang alami kehidupanku. Keringat sudah menjadi teman terbaik yang menemani perjalananku. Tak lupa dengan gitar kecil pemberian ibuku saat aku berumur tiga tahun. Saat itu ibuku berada pada posisi yang sama denganku, menyusuri kerasnya hidup demi sesuap nasi. Gitar itu yang mrngajarkan bahwa masih banyak orang yang lebih susah dibanding kehidupanku. Masih banyak orang yang belum tentu hari itu dapat makan nasi atau tidak.

“Tapi jangan sebut kami orang miskin Kak!”

Kami kaya sebenarnya. Namun aku simpan semua kekayaanku dan akan aku dapatkan kelak saat aku sudah dewasa. Di umur sepuluh tahun ini aku hanya bisa mengamen dari satu bis ke bis yang lain, semua ini demi dapat bersekolah seperti teman-teman.

Aku hanya bermimpi suatu saat aku bisa membuat Ibu tersenyum, dan kemudian bisa memeluk ibu. Namun itu hanya khayalan semata. Terakhir aku memeluk ibu, saat banyak darah berceceran di kepala ibu. Aku takut ibu tertidur di tengah jalan dengan banyak darah di kepala ibu.

Baca juga:  Kau Luluh Lantakkan Sajakku

Aku tak menangis. Karena semalam ibu pernah berkata kepadaku bahwa ibu selalu ada di sampingku. Entah ada wujudnya atau tidak.

“Jangan pernah menangis Nak! Ketika ibu tidak bisa menemani perjalanan hidupmu, bantu ibu untuk menaklukkan kehidupan yang keras,” kata ibu sambil mengelus kepalaku sampai aku tertidur.

Kali ini aku menaiki bis berwarna hijau. Bus besar jurusan Semarang-Surabaya ini melaju dengan kencangnya. Aku mulai memposisikan badanku agar tidak jatuh dan mulai memainkan senar gitar yang menghasilkan suara yang amat merdu bagiku.

Ketika sampai pada nada yang pas aku mulai menyanyikan lagu yang sering dinyanyikan di televisi atau yang sering di setel di bis-bis.

Bunda…. Kau lah buaian kasih dan sayang… “

Satu lagu sudah kunyanyikan. Orang-orang di sekelilingku memerhatikanku. Walau begitu aku hanya bisa tersenyum tipis pada mereka. Ibu pernah bilang bahwa jangan pernah menangis ketika mengingat ibu, doakan ibu, karena ibu selalu ada.

Saat bis mulai menepi, aku bersiap meloncat dan kembali menyusuri jalanan penuh debu dan silau mentari yang membuat kulit tambah hitam dan memerahkan rambut hitam panjangku. Aku memang berbeda dari perempuan pada umumnya. Mereka selalu memerhatikan kesehatan kulit dan kecantikan, sedangkan aku hanya fokus dengan nada irama suaraku. Kata ibuku, kecantikan sejati ada pada hati.

Baca juga:  Indahnya Malam Ini

“Kamu tak usah memikirkan kecantikan. Kamu sudah paling cantik diantara wanita yang melalaikan agamanya.”

Ditengah perjalanan aku menemukan kursi besi kosong tak ada yang mendudukinya. Reflek aku langsung menghampiri bangku tersebut kemudian meluruskan kaki-kakiku dan merelakskan badan sejenak. Aku menatap gitar kecil yang mulai usang. Sedikit aku menyentil senar gitar sehingga menimbulkan suara sedikit getar. Maklum senar ini masih awet semenjak ibu meninggal ketika umurku sepuluh tahun. Aku pun belajar dari kekuatan senar ini. Bahwa kehidupan harus tahan dari berbagai ujian.

Aku menutup mataku sejenak. Megingat apa saja yang telah aku lalui selama hidupku. Terlintas wajah ibu, wajah teduhnya masih sama, wajah menenangkan itupun masih ada, aku ingin memeluknya, namun bayangan itu sedikit demi sedikit memudar, perlahan mulai hilang.

Aku memang seperti rumput liar, yang kuat berdiri meski angin kencang menerpa. Tapi perasanku tetap perempuan, lemah ketika tergores kenangan, apalagi ini ibu, orang yang melahirkn, membesarkan dan mendidikku menjadi wanita tangguh.

Baca juga:  Trem

Aku mulai tersadar dari mimpi siang bolong ini. Kuseka air mata yang keluar membahasi pipi kusamku. Lalu aku mulai memetik senar gitar hingga terdengar alunan irama merdu memenuhi telinga, otak hingga hatiku. (Avecenna Asjad/ Red: Fadli dan Mufti)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here