GP Ansor dan Pemuda Muhammadiyah Angkat Bicara Masalah Papua

0
181
Lambang GP (Gerakan Pemuda) Ansor (kanan) dan Pemuda Muhammadiyah (kiri). Sumber: google/gambar

Semarang, Justisia.com – GP (Gerakan Pemuda) Ansor dan Pemuda Muhammadiyah ‘mengutuk’ penembakan yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua.

“Kita memang mengutuk segala tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siapapun berusaha memecah belah persatuan ini. Tegur Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Sunanto saat ditemui di Audit II Kampus 3 UIN Walisongo, Rabu (12/12/2018).

Hal serupa juga dinyatakan oleh Ketua GP Ansor Korwil Jateng-DIY, Mujiburrahman yang
menyampaikan, bahwa semua yang terkait dengan upaya untuk makar terhadap negara GP Ansor pasti tidak setuju dan mengutuk hal tersebut. Pasalnya, sejak berdirinya Ansor 11 tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, Ansor berdiri selalu berjuang untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI.

Mengenai jalan keluar terhadap permasalahan ini, Pemuda Muhammadiyah menyarankan untuk mengadakan banyak dialog antara seluruh elemen masyarakat dengan pemerintah agar masalah yang ada dapat diselesaikan dengan cara damai. Begitu pula dengan GP Ansor yang berpendapat agar mencontoh Gus Dur pada zaman dahulu yang datang ke Papua untuk melakukan dialog bersama masyarakat Papua untuk menemukan jalan keluar.

Saat ditanya mengenai hubungan kedua gerakan pemuda ormas Islam terbesar di Indonesia
dengan warga Papua sendiri menyatakan tetap menjalin hubungan sebagaimana tugas dan fungsi sebuah ormas. Hal ini senada dengan ungkapan Cak Nanto, panggilan akrab Sunanto, bahwa Pemuda Muhammadiyah sebagai ormas tetap menjalin hubungan melalui pendidikan dan pengajaran sebagai fokus utama upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lain halnya dengan GP Ansor. Gus Mujib, sapaan akrab ketua GP Ansor korwil Jateng-DIY mengatakan, “Ansor meneruskan perjuangan Gus Dur yang dulu dianggap sebagai Bapaknya orang Papua. Ruh perjuangan Gus Dur adalah menghargai budaya-budaya yang ada. Bendera-bendera kejora yang ada di Papua Gus Dur menganggap itu bendera budaya daerah, tetapi Merah Putih tetap bendera negara. Sampai sekerang seluruh banom NU terkhusus Ansor-Banser tetap menjalin hubungan baik dengan warga Papua.” (J/Sidik)