Dilema Menghadapi Pendidikan Lebih Tinggi

0
232
sumber foto: kompasiana.com

Oleh: Salwa Nida

Beberapa pekan,calon mahasiswa baruberbondong-bondong mendatangi kampus. Entah untuk registrasi ulang ataupun mengikuti ujian masuk perguruan tinggi jalur mandiri. Hmm,nampaknya pemandangan segar bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke kampus atau pemandangan baru bagi kakak tingkatnya yang bakal melihat wajah-wajah baru di kampus.

Bagi calon mahasiswa baru,dunia kampus adalah dunia mendewasakan diri. Bagaimana tidak? Mayoritas siswa lulusan SMA/sederajat mendambakan kampus-kampus yang memiliki topbranddan letaknya berada di kota besar, seperti: DKI Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Malang, Surakarta. Tunggu dulu, kali ini saya tidak mengesampingkan PTN/PTS yang ada dilain kota tersebut. Sebab penyebutan kota tersebut berdasarkan data pemeringkatan 100 universitas terbaik versi kementerian riset dan teknologi (kemenristekdikti) yang dilansir oleh tribunnews.com(Rabu, 18/4/2018). Sekitar 15 terbaik universitas yang disebutkan tersebar di kota-kota besar. Tentu banyak sekali yang mengincar masuk di universitas-universitas tersebut. Menjalani kehidupan di kota besar adalah tantangan yang berskala besar pula. Maka tak heran jika sudah menceburkan diri disana harus siap dengan segala problemnya. Anak rantau banyak ranjau!

Pendidikan Lebih Tinggi Diiringi Biaya Melambung Tinggi

Penerimaan mahasiswa di PTN/PTS memiliki banyak jalur, jalur masuk PTN yang telah fenomenal seantero khatuliswa diantaranya:SNMPTN,SBMPTN, SPAN-PTKIN, UM-PTKIN, dan yang terakhir Ujian Mandiri oleh perguruan tinggi setempat. Semakin mendekati jalur mandiri maka semakin banyak pula uang yang harus digelontorkan. Mendarftarkan saja sudah perlu menyiapkan sejumlah uang, apalagi jika sudah diterima. Tentu harus merogoh sakulebih dalam. Jika hitung-hitungan nominal, maka keluarga yang hanya memiliki nol sedikit tidak akan sanggup membayar mahalnya perkuliahan. Keterpurukan batin bagi pemuda Indonesia kian mendalam.

Keluh kesah masyarakat terhadap pendidikan rupanya kian menjulang tinggi. Cari uang susah, menyekolahkan anak setinggi-tingginya makin susah. Belum lagi persaingan kerja setelah wisuda, seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Biaya kuliah yang mahal dan tidak bisa nego kadangkala membuat orang tua was-was menyekolahkan anaknya dibangku kuliah. Mengutip data dari laman tirto.id(Jumat, 26/5/2017), menyebutkan biaya perkuliahan di sejumlah universitas negeri di Yogyakarta meningkat setelah diterapkannya sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) pada 2013. Mulai tahun 2014, biaya kuliah termurah dan termahal di UGM antara Rp. 5,5 juta dan Rp. 22,5 juta. UNY antara Rp. 3,85 juta dan Rp. 4,95 juta. Pada tahun 2015, UPN (Universitas Pembangunan) turut serta dalam sistem UKT dan biaya kuliah termurah dan termahal antara Rp. 6,4 juta dan Rp. 11,6 juta. Beda lagi di kampus swasta seperti UII (Universitas Isam Indonesia), pada tahun 2017 prodi yang menempati biaya termahal adalah pendidikan kedokteran yaitu Rp. 185-235 juta untuk uang pangkal, sedangkan SPP selama empat tahun adalah Rp. 111,48 juta. Sedangkan biaya termurah ada pada prodi hukum islam, biayanya Rp. 2-4 juta (uang pangkal) belum SPP selama empat tahun yaitu Rp. 35,48 juta.

Penerapan sistem UKT berlaku pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Rumusan UKT sendiri berdasarkan biaya kuliah tunggal dikurangi bantuan operasional dari pemerintah. Biaya kuliah tunggal sendiri kaitannya dengan biaya kebutuhan operasional masing-masing mahasiswa di jurusan. Jadi ada perbedaan antara PTN dengan PTS yaitu berlakunya sistem UKT maupun non UKT. Namun mengutip tulisan Sumarno, dkk dalam jurnal manajemen pendidikan volume: 4, No. 2, Juli-Desember 2017 menyatakan, besaran biaya kuliah sistem UKT relatiftidak berbeda dengan biaya kuliah non-UKT. Mahasiswa yang membayar dengan sistem UKT merasa lebih besar biayanya karena mengeluarkan uang di awal semester, sedangkan mahasiswa non-UKT membayar secara berangsur sesuai jenis biayanya selama satu semester.

Masyarakat cenderung menilai perbedaan biaya kuliah dari kategori negeri atau swasta. Seringkali swasta dianggap lebih mahal ketimbang negeri, namun ternyata penerimaan mahasiwa di PTN jalur mandiri juga menimbulkan lebih tingginya biaya kuliah daripada jalur sebelumnya. Keresahan orang tua terhadap tingginya biaya pendidikan yang lebih tinggi kerap kali menggugurkan cita-citaanaknya untuk mendapat gelar. Alhasil, mereka bersitegang berebut lapangan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bersyukur saja bagi yang sudah resmi menjadi mahasiswa, jangan terlalu risau dengan lifestyle yang berubah-ubah. Merantau sangat memungkinkan bertukarnya gaya hidup dari berbagai daerah, ketahui saja bahwa tergiurnya manusia terhadap gaya hidup yang beragam tak lepas dari peranan uang. Terlebih melihat realita bahwa biaya kuliah yang mahal dan membutuhkan kerja keras maupun kerja cerdas.

Tidak Kuliah Jangan Resah!

Generasi milenial memang dikenal mudah menyerap hal baru dan ramah dengan teknologi. Peran teknologi dalam bagian hidup manusia semestinya tidak hanya menjadi daya konsumsi, melainkan juga produksi. Masyakat Indonesia jangan sampai ternina bobokkan oleh kecanggihan teknologi, melek teknologi sudah pasti barangkali bisa lebih menjadi founder daripada penikmat. Disamping teknologi, globalisasi juga menutut manusia untuk berkemampuan lebih. Tantangan setip generasi akan berubah dari masa ke masa, gigih serta kemampuan membaca zaman harus diperhatikan.

Masih ingat Bill Gates, atau yang memiliki nama lengkap William Henry Bill Gates (CEO Microsoft)?, Gates tergolong orang genius yang diakui kemahirannya oleh dunia namun dia memutuskan drop out dari Harvard University. Selanjutnya yaitu Jack Ma, pendiri serta pemilik Alibaba.com yang disebut-sebut menjadi orang terkaya di negara China. Kisah hidupnya pun tak mulus seperti jalan tol. Ia beberapa kali ditolak di sekolah-sekolah, bahkan ketika nilai ujian matematikanya buruk dia sudah ditolak di Sekolah Dasar. Nah, mungkin kisah dari dua tokoh tersebut memberi nilai kehidupan disisi yang lain.

Senada dengan Gates dan Jack Ma, Indonesia sendiri punya sosok yang terkenal dengan model berpakaiannya selalu bercelana pendek. Dialah Bob Sadino, pengusaha asal Indonesia pemilik kemfood dan kemrich, pendidikan terakhirnya SMA.Kata bijak Bob Sadino bahwa sekolah terbaik adalah sekolah jalanan yang memberikan kebebasan kepada muridnya supaya kreatif. Maka ungkapan tersebut sangat mengamini apa yang terjadi dengan Bill Gates, Jack Ma, Dan Bob Sadino sendiri.

Sekelumit kisah diatas sekiranya mampu mengajarkan untuk melihat kehidupan dari segi yang nyleneh. Sukses tidak harus dari jebolan universitas, tapi selalu belajar dari berbagai keadaan adalah penanda adanya kehidupan yang bertaraf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here