Cinta Tulus Lelaki Tua

0
245

Oleh : Hasan Ainul Yaqin

Sudah tiga minggu Abah Muqowwam belum bisa menjalani aktivitas mengajar di Madrasah Aliyah Raudhatul Fikr desa Purwosari. Ingatan tentang istrinya yang sudah ditelan tanah masih membekas dipikiranya. Menjalani kegiatan rutinitas perlahan-lahan ia tinggalkan, Tidak seistiqomah sebagaimana ketika sang istri setia berada di sampingnya. Hanya ibadah kepada tuhanlah lelaki tua itu tidak berhenti, terus ia panjatkan.

Acara perkawinan yang digelar 55 tahun lalu masih terkenang di benak lelaki yang usianya sudah melebihi batas usia nabi Muhammad SAW. Istrinya bukan lagi sebatas perempuan biasa bagi lelaki tua yang sudah memiliki 4 cucu dari 3 anak, bukan pula pelayan layaknya pelayan penghormat tuan, tapi Ruqoyyah istrinya itu, sudah menjadi teman hidup yang tidak ada bandingnya di banding perempuan manapun. Menurut lelaki tua itu kala menjalani roda kehidupan di dunia ini.

Jika kesulitan tiba istrinya datang menghibur, jika susah melanda si Ruqoyyah menjadi api penyemangat ketika daya dan segenap raga mulai meredup, dan ketika senang istrinya pula yang menasehati untuk tidak melampaui batas dalam mengekspresikan euforia kesenangan. Pantas saja, kepergian sang istri menemui tuhannya yang sudah hampir 1 bulan lamanya masih sulit diikhlaskan bagi lelaki tua itu. Tidur gelisah, makan tidak punya selera, berangkat ke madrasah mengajar muridnya masih belum bisa dipastikan kapan bisanya. Di tangan lelaki tua itu, perempuan bernama Ruqoyyah seakan masih hidup, belum juga ditelan tanah.

Bayangan tentang istrinya terus mengintai di hadapanya di setiap waktu, seolah Ruqoyyah masih belum pergi untuk selama lamanya. Hilang dari dunia, meninggalkan anak cucu, dan tak lupa meninggalkan lelaki yang sudah menjadi bagian tulang rusuknya, tidak lain yaitu abah Muqowwam suami tercintanya.

Senin jam kedua, adalah bagian Abah Muqowwam mengajar pelajaran Fathul Qorib di kelas 9A, namun semenjak Istrinya wafat, lelaki tua itu mengirim surat yang ditunjukkan pada ketua kelas 9A, Fatimah. Ia memohon izin belum bisa mengajar di kelas yang berisikan 35 siswa itu.

Assalamualaikum anakanakku, mohon maaf minggu ini abah belum bisa mengajar, belum bisa ke sekolah belajar bersama kalian. Karena fikiran abah belum bisa fokus setelah umi meninggal mendadak beberapa minggu yang lalu, insyaallah minggu depan sudah mengajar. Abah mohon pada kalian, minta tolong doakan almarhumah Umi Ruqoyyah semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah, dan segala kesalahan serta kekhilafannya diampuni, mendapat rahmat dan syafaat daripada nabi Muhammad berikut untaian kata isi surat yang ditulis Abah Muqowwam dalam lembaran kertas putih.

Nada suratnya menggambarkan betapa merasa kehilangan lelaki tua itu, pesannya mengisyaratkan cintanya tak lapuk oleh waktu, tak lekang oleh panas dan tak basah karena hujan. Di usia yang menginjak sekitar 70-an cintanya pun menggiring bersamaan setua usianya.

Umi Ruqoyyah, engkau masih ada kan? tapi engkau dimana,? sehari, dua hari, tiga hari, bahkan sampai detik ini ku tak menjumpai wajahmu. Aku merasa tak lagi makan masakan enak hasil olahanmu. tumpukan kerudung masih tertata rapi di lemari, gaun dan gamis warna hitam dan putih yang kita beli di Makkah al-Mukorromah tempat terakhir kita menunaikan haji tiga bulan yang lalu masih bergantung pada hanger-nya, satu gamis putih masih utuh dalam plastik belum pula kau kenakan. Tapi pemakainya tidak kunjung ku dapati rintihnya di sepertiga malam ketika ingat sang Istri Ruqoyyah. Tidak henti-hentinya Lelaki tua itu berdoa meminta kepada tuhan agar dijumpakan walau sekedar dalam mimpi.

Malam dini hari, umi Ruqoyyah wafat meninggalkan keluarga selama-lamanya. Berita dari mulut ke mulut tersampaikan kepada tetangga kalau istri Abah Muqowwam pemuka agama setempat itu, wafat. Tidak ada tanda-tanda sakit sedikit pun. Tubuhnya segar, tanganya halus, wajahnya bersinar terang, senyumnya merekah saat ia memejamkan mata terakhir kalinya. Lelaki tua yang menemani di sampingnya tidak percaya kalau sang istri pulang menuju keharibaan sang ilahi secepat itu.

Air mata lelaki tua itu perlahan-lahan menetes, membasahi pipinya yang sudah keriput karena faktor usia. Tubuhnya lemas karena urat di sekujur tubuhnya kendor tak berdaya akibat sang Istri yang sudah setia menemani bertahun-tahun lamanya sampai dikaruniai keturunan sudah tiada di pelukannya. Tidak lagi di sampingnya untuk selamalamanya.

Masyarakat desa setempat berbondong-bondong melayat ke rumah abah Muqowwam sebelum Umi Ruqoyyah dihantar ke pemakaman. Bacaan surah Yasin disertai isak tangis dari para masyarakat tergema di rumah berpondasikan bambu itu. Jam 3 dini hari, masyarakat tidak pulang ke rumah masing masing, menunggu sampai jenazah disholatkan hingga disemayamkan di pemakaman umum yang terletak di perbatasan desa Purwosari dan Mangonsari

Abah Muqowwam duduk bersila di samping umi Ruqoyyah yang sudah ditutupi kain kafan. Sembari mamandang wajahnya, Lelaki tua itu melantunkan bacaan al-qurannya ditunjukkan untuk almarhumah istri tercinta. Tasbih yang terbuat dari pelapah kayu terus ia putar di jemarinya. Bacaan tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar tidak pernah berhenti di lisan lelaki tua itu, hingga bibirnya basah. Sekali berhenti, ia meneteskan air matanya, tidak kuat menahan rasa sedih yang begitu mengoyak-ngoyak batinya.

Pelayat menyalami tangannya, menciumnya sembari berkata yang sabar, Bah. Semoga umi tenang di alam sana. Diberikan tempat yang layak dan dikumpulkan bersama orangorang sholih, dengan rendah hati, lelaki itu mengamini atas doa para pelayat itu, namun hati kecilnya seolah berkata, masih belum menerima takdir tuhan yang begitu cepat menjemput istri tercintanya. Perempuan yang sudah menjadi belahan jiwanya itu.

Adzan subuh mulai berkumandang di musholla yang bersebelahan dengan rumah lelaki tua itu, bangunan yang dijadikan sarana oleh lelaki tua menyampaikan ilmu kepada masyarakat waktu itu pula dikerumuni banyak orang menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah kemudian dilanjutkan sholat jenazah istrinya. Abah Muqowwam menjadi imam, kala membaca surah al-Fatihah, suaranya cekat-cekat, bibirnya terasa ngilu, tanpa disengaja air matanya pun menetes, sehingga bacaan setiap ayat terpaksa harus diulang ulang sampai sempurna bacaanya.

Alhamdulillah, alhamdulillahi, alhamdulillahi robbil, hi robbil alamin,

Arrohman, arrohman, arrohmanir, nirrohim

Lisan lelaki tua itu terasa sulit melafalkan ayat demi ayat saat menjadi imam sholat jenazah istrinya. Sampai salam tiba, tubuh lelaki tua itu lemas tidak berdaya, lunglai hampir pingsan. Tapi saudara kandungnya menenangkan dada lelaki tua itu. Karena bagi lelaki tua itu, Ruqoyyah salah satu perempuan yang sudah bertahun-tahun dalam sandigannya. Menemani tidak hanya dalam keadaan suka ria tapi rela bersama dalam duka lara.