Oleh: M. Rifqi Arifudin

Sandang, pangan, dan papan adalah kebutuhan mendasar bagi manusia yang harus dipenuhi. Sandang sebagai sarana untuk membatasi ranah privasi dan yang boleh dilihat publik. Pangan, di mana setiap manusia membutuhkan asupan guna menyambung kelangsungan hidup. Papan, dalam artian rumah untuk berlindung.

Dalam kondisi apapun manusia tidak akan pernah bisa terlepas dari ketiga komponen tersebut. Walaupun dalam kenyataannya ketiga komponen tersebut belum tentu bisa terpenuhi semuanya. Adakalanya seseorang bisa memenuhi kebutuhan sandang dan pangan, Namun tidak bisa memenuhi kebutuhan papannya. Berangkat dari hal yang demikianlah, mengapa acap kali kita menjumpai manusia gerobak. Nomaden, hidup mereka adalah sepanjang urat nadi. Selama masih ada yang bisa ditelan dan ada yang bisa diteguk, sungging senyum mereka akan tetap merekah.

Fenomena semacam ini subur sekali di kota-kota besar. Perbedaan strata sosial yang semakin menakutkan, rasa apatis yang semakin meradang, serta hedonism yang tiada berkesudahan. Tidak masalah tekor asal kesohor. Idiom tersebut memperlihatkan seolah tidak masalah kere di belakang asalkan dalam lingkup pergaulan terlihat kaya. Oleh sebab itu masyarakat perkotaan yang termarjinalkan akan semakin digilas zaman. Sebab hamba dari kebanyakan orang saat ini adalah pengakuan sosial.

Lihat saja kegiatan apa yang biasanya diakukan oleh kebanyakan orang saat menjelang akhir tahun. Jawabannya adalah belanja. Iya belanja, demi nafsu sesaat untuk mencapai pengakuan sosial yang tinggi. Padahal, konsumsi pada dasarnya adalah sebuah kegiatan yang hendak memenuhi hasrat dengan cara memanfaatkan nilai utilitas. Bukan pengakuan sosial yang hendak dicapai dari sebuah kegiatan konsumerisme. Namun dinamisnya zaman tidak dapat ditolak. Pesatnya kemajuan teknologi, semakin berkembangnya industri turut serta dalam melanggengkan pergeseran nilai ini.

Pusat perbelanjaan seolah menjadi dua mata pisau. Menjadi kantong bagi tuan-tuan kapitalis, dan menjadi kandang bagi masyarakat ekonomi pas-pasan untuk diperah sampai habis isi dompetnya. Belanja terus sampai mati. Seperti itulah ucap Efek Rumah Kaca, sebuah band Indie asal Jakarta. Kita sering kali terjebak akan peliknya kehidupan urban. Utilitas tidak ada gunanya ketimbang pujian. Diskon akhir tahun itu fana, menyesal membeli itu nyata.

Hedonisme yang semakin membudaya juga akan berdampak pada kemajuan bangsa. Bagaimana mau maju jika kita terus menjadi konsumen. Kapan kita ingin maju, jika hasrat untuk mencipta tidak ada. Kapan kita akan tenang jika kita tidak bersyukur atas apa yang ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here