Judul : Perempuan yang Dihancurkan

Penulis : Simon de Beauvoir

Penerbit : Narasi

Tahun Terbit : 2018

Halaman : 342 hlm + vi

ISBN : (13) 978-979-168-506-1

Resentator : Adetya Pramandira

 

Kisah cerdas dan luar biasa akan perjuangan perempuan mengarungi derasanya alur kehidupan,membuatnya berkali-kali menabrak tajamnya karang. Namun ia harus kembali bangkit melanjutkan perjalanan, bukan hanya untuk dirinya sendiri melainkan, untuk semua yang berada di sekitarnya. Novel karya Simone de Beauvior ini mengisahkan gairah hidup perempuan yang dihancurkan. Perempuan yang harus tercabik-cabik karena pilunya perselingkuhan, perempuan yang harus termarginalkan karena stereotipe jahat yang menganggapnya lemah, perempuan yang harus menanggung beban karena kemolekan tubuhnya yang dijadikan objek pemenuhankepuasan, bahkan perempuan yang harus menahan luka oleh perlakuan buah hatinya.

Dengan penuh empati, Simone de Beauvior menguraikan berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan dengan bahasa yang menarik dan mudah dipahami. Kisah-kisah perjalanan perempuan dikemas dalam tiga cerita yang berbeda. Dalam bagian pertama Masa Penuh Pilihan, Simone berhasil menggambarkan sebuah gairah hidup seorang wanita tua yang ingin tetap bebas berkarir dan berkarya ditumpas oleh keangkuhan lingkungan, anaknya dan suaminya yang memaksa dirinya berhenti berimajinasi.

Dalam cerita ini, tokoh aku (sebagai perempuan) digadang-gadang oleh masyarakat sebagai ibu yang berhasil mengantarkan anaknya menjadi seorang petinggi Negara dan sebagi seorang istri yang berhasil mendampingi suaminya. Namun, dibalik itu semua ia tak bahagia. Suaminya yang semakin tua menumpas harapanya untuk terus meneliti dan menulis. Sementara anaknya mengingkari janjinya untuk menjadi seorang peneliti pula. Tokoh aku yang kemudian memberontak, marah, tidak terima dengan semua perlakuan dipandang menjadi manusia bodoh yang paling tidak rasionalis dan keras kepala. Semangat untuk terus meniti hidup dengan berkarir kandas di tengah jalan.

Cerita ini mengingatkan kepada statement Khalid Abou Fadl (2005:308), pemikir muslim paling progresi ini menyebutkan: Kendati masyarakat memuji dan mengakui peran perempuan sebagai ibu, tetapi perempuan dipotret sebagai entitas yang tidak sempurna dan tidak patuh. Maka seorang istri harus sepenuhnya melayani dan di bawah kontrol suami. Sebagai anak, ia di bawah pengawasan ayahnya, dan sebagai anggota masyarakat ia berada di bawah kontrol semua laki-laki. Pendeknya dalam cerita ini, perempuan digambarkan sebagai manusia yang tidak mempunyai otoritas atas dirinya sendiri. Ia tidak pernah bisa menjadi makhluk yang independen dan otonom, selama ia masih terkungkung dalam budaya yang menganggapnya sebagai manusia kelas dua, setelah laki-laki (budaya patriarki).

Dalam bab selanjutnya Monolog, kisah pilu yang dialami oleh perempuan yang memiliki kemolekan tubuh yang luar biasa indah, kemudian dihadapkan dengan sebuah kehidupan yang sama sekali tidak ia inginkan. Keindahan tubuh yang di elu-elu sebagai sumber kenikmatan justru membawa petaka bagi dirinya sebagai perempuan. Selama tubuhnya masih indah laki-laki akan datang menghampirinya, menggigit jari-jemarinya dan dengan rakus akan melumat bibir indahnya. Namun ketika ia telah berbadan dua, rapuh dan renta termakan usia perlahan semua akan menjauhinya, perselingkuhan terjadi.

Sosok aku yang dilukiskan dalam cerita Monolog, berusaha menerjang badai kehidupan dengan keluar dari zona pura-pura. Berhenti merasa biasa saja, berhenti berpura-pura suka dengan hidup menjadi manusia pemenuh hasrat kepuasan. Menerjang berbagai budaya yang melilit wanita sebagai objek seks. Namun sayang, semuanya tidak semudah mengedipkan mata.

Kumpulan cerita Beauvoir ini mengisyaratkan kepada kita bahwa selama manusia masih menyembah patriarki dan selama perempuan masih diam membisu di bawah payung ketertindasan maka penderitaan akan terus berjalan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here