Indonesia Butuh Belajar dari Amerika Soal Makna Agama dan Politik

0
67

Oleh: Sunandar Hemingway

Agama bukan suatu afinitas. Ia sesuatu yang di jalankan orang-orang secara publik maupun privat. Di Indonesia banyak orang bicara agama. Semenjak, pemerintahan Joko Widodo, semua media dakwah, khususnya agama Islam, tidak luput dari perbincangan mengenai agama. Hampir setiap majelis dakwah, semuanya bicara agama. Entah apa yang menarik dari agama, yang jelas, realita membuktikannya begitu. Agama dijadikan sebagai media untuk jalan politik kekuasaan.

Agama dijadikan alat untuk mempengaruhi orang-orang awam untuk kepentingan kekuasaan. Munculnya gerakan ormas Radikal seperti Hizbu Tahrir Indonesia (HTI) membuktikan, bahwa, betapa fanatiknya masyarakat terhadap agama. Namun, ormas yang bercita-cita mendirikan negara Khilafah itu tidak bertahan lama di Indonesia, dan berhasil di bubarkan. Akan tetapi serangan terhadap pemerintahan Jokowi, tidak hanya dari HTI saja, banyak ormas-ormas lain, semacam HTI mengecam sesat Jokowi. mereka menuding dengan beragam isu, ada yang menuding Jokowi PKI, Pro Asing, dll.

Tak heran, kalau banyak terjadi kekerasan di bangsa ini. Karena, pemerintah yang digadang-gadang hadir dalam melindungi masyarakat terhadap kasus intoleransi sering bersikap ambigu dalam merespon kasus-kasus kekerasan bernuansa agama. Negara seringkali terlambat dalam menangansi kasus tersebut. Maka dari itu, Indonesia perlu menata ulang konsep negara yang lebih baik. Harus bisa menempatkan posisi agama dan negara pada tempatnya masing-masing. Seperti yang di contohkan Amerika.

Mengapa begitu, perbincangan mengenai agama tidak hanya di Indonesia. Di Amerika misalnya, sekitar 29-39 persen orang menghadiri ceramah keagamaan. Untuk menyalurkan politiknya, Amerika menggunakan Gereja sebagai tatanan untuk menyampaikan sosial dan politiknya. Karena diyakini, gereja mempunyai peranan terhadap kesetabilan negara. Karena di dalamnya, Gereja juga berperan dalam menyangkut kebaikan dan kebejatan diri manusia. Gereja bisa memberikan banyak kesempatan untuk berinteraksi di luar pelayanan ibadat. Institusi keagamaan seringkali menutupi latar belakang etnis atau kedaerahan. Akan tetapi, bagi Amerika, agama tidak mendahului politik. Tetapi Politik lah yang mendahului agama. Itulah bedanya, antara Indonesia dan Amerika. Jadi wajar, kalau konflik atas nama agama jarang terjadi di Amerika.

Memang, agama penting bagi Amerika, karena, jika semua politik bersifat lokal, jelas banyak agama bersifat lokal. Budaya keagamaan Amerika bisa digambarkan sebagai sebuah pasar. Di tempat mana pun, seorang yang merasa terpanggil oleh Roh Kudus, disitu akan bisa mendirikan sebuah rumah untuk kebaktian dan layanan-layanan lainnya. Namun, selain pentinnya agama dalam pemerintahan. Ada yang jauh lebih penting daripada agama, yaitu politik. Bagi Amerika, asumsi bahwa manusia serakah akan kekuasaan, merupakan hal positif. Dengan begitu, akan mendorong orang untuk mencari kekuasaan dan kemudian menciptakan kapasitas untuk memerintah. Masyarakat bisa mencapai tujuan. Namun, itu semua dengan syarat, harus bisa dibatasi.

Oleh sebab itu, mengapa Amerika tidak banyak memberikan kepercayaan pada agama dalam interpretasi-interpretasi politik, karena agama dianggap membahayakan struktur masyarakat. Oleh sebab itu, para ilmuan politik awal, tidak senang dalam mempelajari agama. Karena ilmuan-ilmuan awal, dalam pembentukan disiplin ilmunya, di pengaruhi oleh ideal-ideal progresif. Sebuah bangsa yang sangat beragam, dan heterogen pun, dapat dipecah-belah dengan sangat mendalam oleh agama. Politisi populis mempunyai andil atas kebodohan rakyat melalui metafor-metafor keagamaan dalam kampanye mereka. Elite politik mengembangkan tema kampanye dan menggunakan citra keagamaan untuk membangun koalisi yang sebagian, didasarkan pada seruan-seruan keagamaan.

Fungsi Agama bagi Manusia

Pada dasarnya, semua misi agama, baik agama langit maupun agama bumi, untuk dapat berkembang luas memerlukan kekuatan untuk melindungi para pengikut setia yang menyebarl luaskannya. Adapaun negara mempunyai kewajiban untuk melindunginya. Karena negara itulah yang menjamin aktivitas dakwahnya.
Berdirinya sebuah negara bagi semua agama, tanpa kecuali, merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar. Negara mempunyai fungsi sebagai bentengnya agama. Sedangkan para penguasa itu berfungsi sebagai penyebar. Agama langit itu satu, yaitu agama Allah yang diturunkan kepada generasi terdahulu dan generasi yang datang kemudian. Sama saja, entah itu, Yahudi, Kristen, maupun Islam.
Di dalamnya, semua negara manapun, mencakup urusan agama dan dunia secara integral. Agama adalah penuntun spiritual dalam menjalin hubungan antara sesama individu. Oleh karena itu, misi perbaikan mental adalah bidang khusus agama. Semua agama pasti membutuhkan kekuasaan yang mampu memberikan perlindungan. Agama dan politik adalah dua hal yang integral. Oleh sebab itu, semua aturan hukum yang menyimpang dari syariat Allah, adalah termasuk serpihan hukum jahiliyah. Karena Allah telah memerintahkan pada orang-orang Yahudi dan Kristen agar menjalankan hukum yang telah diturunkan Allah pada mereka secara konsisten.

Kekuasaan merupakan kemungkinan dalam membatasi alternatif–alternatif tingkah laku orang-orang, atau kelompok lain sesuai dengan tujuan-tujuan seseorang. Namun pada dasarnya, kekuasaan ada yang bersifat positif dan kekuasaan negatif. Tergantung manusia sebagi objek dan subjek yang menggunakannya. Seperti kata Thomas Hobes, Pada dasarnya, manusia mementingkan diri sendiri, suka bertengkar, haus kekuasaan, kejam dan jahat. Namun itu semua, bukan menjadi persoalan terhadap agama.