Gus Dur Bapak Masyarakat yang Tertindas

0
96
Sumber gambar: https://pbs.twimg.com/media/DkTVbZSU4AAHUVm.jpg

Justisia.com – Alissa Qotrunnada Munawarah Wahid mengatakan Gus Dur bukan hanya bapaknya. Melainkan bapak bagi semua masyarakat Indonesia yang sedang tertindas, tak mendapatkan keadilan, kelompok lembah, dan tidak punya lagi harapan.

“Kesadaran ini tumbuh ketika saya dihubungi oleh masyarakat Ahmadiyah di Manis Lor Kuningan sambil menangis karena dikepung oleh ormas. Salah satu mubalighnya mengatakan, jikalau Gus Dur masih ada beliau akan datang ke tempat kami,”. Ungkap Koordinator Jaringan Gusdurian Nasional pada Pidato Kebangasaan di Temu Nasional (Tunas) Gusdurian di Asrama Haji Yogyakarta, (11/08) pagi.

Kiprah K.H Abdurahman Wahid menyelamatkan TKI asal Lombok, Abdulah bin Umar dianggap bersalah karena membunuh majikannya. Hukuman pancung akan diperoolehnya dari Pemerintah Malaysia.

Ketika di dalam lembaga pemasyarakat Malaysia, TKI asal NTB itu tidak tahu jikalau di tolong oleh Mantan Presiden ke 4 Republik Indonesia. Setelah dipulangkan dari Negeri Jiran, ia berniat langsung mengunjungi kediamanan di Ciganjur untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun, Gus Dur telah berpulang

“Kalau saya tidak ditolong beliau, saya yang duluan pergi,” Tiru putri sulung K.H Abdurrahman Wahid.

Dua cerita kejadian itu menggambarkan bahwa pria lulusan Mesir itu melakukan kegiatan kemanusiaanya melampaui sekat-sekat politik.

Perempuan yang akrab di sapa Alissa, mengingatkan bahwa Gusdurian bukan untuk memuja-muja sosok Gus Dur. Melainkan jaringan yang mengambil inspirasi melalui nilian-nilai dan keteladanan untuk merawat Indonesia.

Jaringan Gusdurian bukan jaringan yang tak lazim guna menjahit murid murid ideologis. Pasalnya, ia pernah berkunjung ke dua negara, Bapak HAM Amerika Serikat Martin Luther King dan Mahatma Gandhi, berbeda dengan Gusdurian.

“Keduanya besar melalui institut bukan melalui jaringan seperti kita,” Terangnya.

Menggerakkan Gusdurian menerapkan tradisi Gus Dur untuk memuliakan manusia, menegakkan keadilan, membangun kesetaran keadilan, menjauhkan kehidupan jauh dari penindasa, membangun kesederhanaa, menjadi kesatria perjuangan rakyat yang tetap memnjaga kearifan tradisi bangsa.

“Dari 106 kota yang memiliki komunitas Gusdurian adalah panggilan sejarah mewarisi tradisi Gus Dur. Mereka harus hadir jika ketidakadilan dan penindasan berada disekitarnya,” Imbuhnya lagi.

Kehadiran jaringan Gusdurian berguna bagi masyarakat yang terdampak ketidakadilan secara struktur karena teguh untuk terbeli oleh apapun.

Alumnus Magister Psikolog UGM itu menekankan, ketika politik menjadi alat permainan untuk memperebutkan kekuasaan sementara krisis sumber daya negara untuk umat tak dipikirkan . Agama mememcah belah masyarakat kelompok. Sekaligus pemuka agam tergiur kekuasaan dan perihal duniawi.

“Disitulah Gusdurian adalah menggerakkan bahwa kemanusian lebih penting ketimbang politik,”. katanya.

Kasus petani di Surokonto, Kendal menjadi contoh nyata rakyat menjadi subjek penindasan oleh cara lama dan aktor yang sama.

“Aktor-aktor berbeda dengan namun caranya sama artinya model penindasannya sama. Gusdurian tidak sendiri dalam membangun masyarkat sipil. Ia bersama gerakan sipil lainnya. Bangsa ini butuh dijahit untuk memadukan kekuatan yang lebih baik dari berbagai kelompok,”. Ungkasnya. (rep: Rais)