Konflik Kekuasaaan Penyebab Mundurnya Dunia Islam

0
98
sumber ilustrasi : http://www.suaraislam.co

Judul : Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Penulis : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Cetakan : Maret, 2018

Tebal : xviii + 222; 20,5 cm

ISBN : 978-602-291-438-9

Resentator : Adetya Pramandira

Ahmad Syafii Maarif, dengan lugas dan bernas mampu menjabarkan keadaan Islam di masa lampau, masa kini dan gambaran di masa yang akan datang. Rangkaian kata Syafii Maarif, seorang cendekiawan dan guru bangsa, mampu menggugah kesadaran akan situasi pelik yang berhasil meninabobokan kaum muslim. Pasca masa kejayaan Islam belasan abad yang lalu “The Golden Ages of Islam”.

Perhatian dan kegelisahan Buya Syafii Maarif terhadap masa depan Islam semakin menguat, terlebih melihat situasi umat Islam yang porak-poranda dan terpecah belah. Dalam usiannya yang sudah ranum, Buya Syafii Maarif terus mengamati fenomena-fenomena perubahan Islam dari masa ke-masa dan menganalisa dengan sangat kritis.

Dalam pandangannya, dunia Arab sebagai tempat lahirnya Islam tengah mengalami kekacauan. Berbagai konflik dan peperangan terus terjadi hingga saat ini. Libia, Irak, Mesir, Yaman dan yang paling menggemparkan terjadi di Syuriah yang menumpahkan darah manusia ratusan ribu jiwa. Kelahiran ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria) pada tahun 2015 silam dengan Abu Bakar al-Baghdadi yang mendeklarasikan diri sebagai khalifah memperparah kondisi Arab saat ini.

Buya Syafii Maarif menyebut ISIS ini sebagai rongsokan peradaban Arab yang kalah terkapar. Namun anehnya, ISIS yang bobrok ini justru diminati oleh sebagian orang Indonesia. Ini terbukti dengan adanya beberapa kelompok yang membaiatkan diri mereka kepada kekhalifahan al-Baghdadi. Mirisnya, mereka tidak hanya sekedar memabiatkan diri, atas nama “Jihad” , mereka rela berjuang, berperang di bawah panji Negara Boneka ISIS.

Badi Buya menjadi kesalahan ketika bangsa Arab tengah dilanda malapetaka konflik, peperangan antar sesama, kekerasan dan keboborkan peradaban, justru sebagian umat Islam di Indonesia turut terlibat dan bahkan berkiblat kepada sistem yang rapuh dan tengah sekarat itu. Ironisnya, konflik yang berkepanjangan yang menimbulkan darah manusia tercecer dimana-mana dan menjadikan umatnya mengungsi terkatung-katung tidak membuat elite politik Arab terbangun dari mimpi buruknya. Konflik yang terjadi justru menjadi bahan kepentingan jangka pendek elite politik tersebut.

Islam dalam Krisis

Sebagai seorang sejarawan, Buya sangat kritis dalam menelaah sejarah di masa lampau yang kemudian dianalisa dengan kehidupan saat ini. Baginya, perkembangan Islam secara historis telah jauh dari nilai-nilai ideal yang dibawa oleh Islam itu sendiri. Al-Quran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. yang berisi petunjuk-petunjuk kehidupan ditinggalkan begitu saja demi memperoleh kekuasaan dalam perlombaan pembentukan peradaban. Alhasil, kualitas umat Islam saat ini sedang terkapar di perlombaan peradaban yang semakin sengit.

Dalam analisis Buya, berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia Arab saat ini disebabkan oleh berbagai konflik yang muncul pada masa-masa awal Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW. Perebutan kekuasaan, bukanlah sekedar konflik keagamaan, namun lebih dari itu, ini merupakan konflik antara elite-elite Arab yang jauh dari petunjuk Al-Quran.

Krisis politik perebutan kekuasaan pertama dalam sejarah Islam adalah ditandai dengan terjadinya Perang Unta atau perang Jamal, yang tak tangung-tanggung pemerannya adalah janda Rasulullah, Aisyah bersama dengan Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam berhadapan dengan paman sekaligus menantu yaitu Khalifah Ali bin Abi Thalib bersama pendukungnya.

Krisis ini terus berlanjut hingga meletusnya perang yang lebih dahsyat pada tahun 657 M yang disebut perang Shiffin, antara Khalifah Ali dan Muawiyah bin Abu Sufyan. Dari perang Shiffin inilah muncul tiga puak besar, yang tidak hanya melahirkan pertikaian politik melainkan pertikaian ideologis, yakni Syiah, Sunni dan Khawarij yang keberadaanya dan interaksinnya telah mengoyak persatuan internal umat Islam.

Sejak perang Shiffin berkecamuk, kemudian menciptakan kotak-kotak polarisasi umat Islam sampai saat ini, telah memasung umat Islam dalam kotak-kotak politik akibat ulah perseteruan elite Arab Muslim itu. Sunisme, Syiahisme, plus Khawarijisme seolah telah menjadi sesembahan baru bagi dunia Islam dengan memaksa Tuhan berpihak pada golongan-golongan tertentu…Umat Islam sedunia selama puluhan abad telah terseret oleh sengketa elite Arab itu, (hlm. 33).

Malapetaka yang telah dan sedang menimpa bangsa Arab Muslim semestinya menginsyafkan kita semua untuk berfikir sangat kritis dalam menilai warisan bangsa Islam yang bercorak serba-Arab yang masih saja menjadi kiblat oleh sebagian kita. Tulisan Buya yang menyegarkan ini mengisyartkan jika umat Islam mau menata kehidupan kolektifnya secara benar berdasarkan agama, tidak ada jalan lain, kecuali kotak-kotak pemicu perbelahan itu harus ditinggalkan sekali dan untuk selama-lamanya.

Arah Masa Depan Peradaban Islam

Dalam lintasan sejarahnya, peradaban Islam telah mengalami pasang surut kemajuan peradabannya. Jungkir balik peradaban Islam selama beberapa dekade terakhir ini, menimbulkan bentuk pertanyaan “Mau dibawa kemana arah peradaban Islam?” Di era modernisasi ini, dunia Islam yang mengaku percaya kepada adanya wahyu sebagai landasan dan jangkar spiritual yang menancap kedalam relung hati mulai tersingkir dalam ketidakberdayaan dan keterputusasaan. Munculnya fenomena ISIS yang berkoar-koar atas nama wahyu dan agama yang menggoda sebagian anak muda yang jenuh dengan kebobrokan adalah bentuk ekstrem dari ketidakberdayaan dan kehilangan orientasi masa depan.

Kaum Zionis bersorak-sorak melihat pertunjukan manusia Muslim yang tunggang langgang kehilangan arah. Semakin rapuh dunia Islam, semakin menguatkan posisi zionisme, sekalipun ideologi ini adalah rasialis yang antikemanusiaan. Didukung dengan dolar dan senjata oleh Amerika Serikat, Israel Zionis sebenarnya adalah kanker politik di kawasan Asia Barat daya dan Afrika Utara.

Aneh bin Ajaib, bangsa kanker sebagai penyakit akut ini justru didekati oleh bangsa-bangsa muslim yang sering bersengketa di daerah itu. Iran dan Arab Saudi yang sedang berebut hegemoni disana secara bergantian telah dan sedang melakukan melakukan perkawanan itu demi kelancaran pragmatisme politik jangka pendek untuk keuntungan sesaat. Taktik busuk ini, berkali-kali berlaku dalam berbagai periode sejarah Islam, tetapi di ulang lagi dan lagi.

Adapun bayangan kelumpuhan masa depan akibat pragmatisme ini tidak lagi singgah di benak para elite muslim kawasan itu. Tidak hanya di sekitar lingkaran itu, namun di negeri nun jauh dari pusat tersebut, juga terlihat praktik semacam ini. Sungguh sulit menyadarkan elite umat tentang bahaya perilaku sesaat ini.

Politik kekuasaan juga diciptakan berdasar pada ambisi untuk berdiri dengan kemenangan di atas tengkorak-tengkorak manusia yang bahkan itu adalah tengkorak saudara se muslim sendiri. Perhelatan politik jauh dari tuntunan wahyu yang jelas benderang. Kerusakan moral dan sakit mental para elite juga menjadi penyumbang gergaji untuk meruntuhkan tiang-tiang peradaban Islam.