Nasib Sang Pedestriadan

0
81
sumber ilustrasi: https://andoyoanny.com

Oleh: M Yaqub

Era globalisasi ini memang baik untuk generasi milineal. Generasi yang sudah akrab dengan gadget (gawai), dan smartphone (ponsel pintar). Generasi dimana segala sesuatu dimudahkan oleh majunya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), yang tidak di rasakan oleh generasi sebelumnya. Sungguh mengasyikan hidup dengan kemajuan ini bila memang sanggup mengikutinya.

Terkadang hidup di zaman ini kita di tuntut untuk mengikuti pola mobilisasi yang cepat dan tanggap, tidak lambat dan susah. Zaman yang sangat menuntut manusia mengikuti perkembangan cepatnya teknologi, padahal teknologi dibuat olehnya sendiri. Kesal juga dengan pendapat seperti ini. Seperti manusia menyembah apa yang juga di buatnya.

Aplikasi sosial media whatsaap contohnya, ini begitu terkenal di semua kalangan usia. Baik anak-anak, remaja, pemuda, dan orang tua memilikinya. Entah itu yang sekolah, kuliah, kerja, bahkan pengangguran pun mempunyainya. Tak ubahnya orang yang sudah kecanduan nikotin.

Ketergantungan whatsaap ini di karenakan begitu mudahnya mengakses aplikasi ini dari pada sosial media yang lain seperti BBM, LINE, dan sebagainya. mobilisasi manusia sekarang bisa disebut virtual komunikasi. Apa-apa serba whatsaap, tugas sekolah, kuliah, pekerjaan dan lain-lain lewat whatsaap. Bahkan seminar sekarang pakai whatsaap. Sungguh aneh tapi nyata itulah keadaan dunia sekarang.

Efek dari kemajuan ini yang maunya semua instan paling berdampak pada para pedestrian (pejalan kaki). Pedestrian ini populasinya sudah langka, apalagi hidup di kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Hidup memang kejam bagi para pedestrian. Layaknya film Susah Sinyal sampai-sampai listrik pun hanya dua belas jam berfungsinya.

Dimulai dari banyaknya produsen kendaraan bermotor meng-update produknya lebih canggih dan simple. Dari motor scooter hingga injeksi, di permudah dengan penjualan sistem kredit. Down payment yang murah membuat masyarakat kebawah tertarik memilikinya walaupun angsuran yang mencekiknya. Inilah nasib pedestrian dimulai. Jalan raya pun penuh dengan motor, dan mobil. Trotoar yang harusnya buat pedestrian malah di penuhi oleh pengendara.

Sekarang di tambah dengan dunia bisnis online semakin memperkeruh suasana saja seperti Go-jek, Grab. Mereka memang mempermudah untuk kemana-mana dan membeli apa. Tetapi dengan adanya mereka, pedestrian tertekan. Mau memakai jasanya pun tak mampu dan piki-pikir lagi karena keuangan yang menipis. Apalagi mahasiswa dan pelajar lebih banyak menggunakannya. Hal ini membuat pedestrian makin berkurang dan malas kemana-mana untuk berjalan kaki.

Data yang pernah di keluarkan oleh dosen UIN Walisongo Semarang, setiap kelas yang berisi 40-50 mahasiswa mayoritas pengguna kendaraan bermotor, sisanya para pedestrian. Hal ini menunjukan di kalangan mahasiswa pun pedestrian berkurang, bahkan tidak ada akses khusus buat para pedestrian di kampus hijau ini.

Sudah banyak penderitaan pedestrian sekarang di tambah oleh wanita yang membuat kaum pedestrian ciut. Wanita zaman sekarang sangat menuntut kecepatan dalam hal apapun, terutama berkencan, dan tidak mau capek. Ada yang mau capek tapi tidak banyak, bahkan sekarang mungkin langka. Entah salah apa para pedestrian baru mau pendekatan saja sudah ditolak karena tidak mempunyai kendaraan yang bisa di ajak cepat. Pertanyaanya masih adakah wanita yang mau berkencan sama pedestrian.

Inilah zaman sekarang yang tidak meng-upgrade dirinya akan tersingkir oleh yang lain. Zaman sekarang benar-benar kejam untuk orang yang tidak memiliki kekuatan ekonomi yang mapan. Akan susah hidup dengan keadaan seperti ini. para pedestrian dituntut mengikuti perkembangan teknologi yang luar biasa tapi tidak di dukung oleh finansial.