Surat untuk Calon Pemimpinku

0
294
sumber ilustrasi: c.pxhere.com

Oleh: Calon Rakyatmu

Assalamualaikum Wr. Wb

Salam sejahtera untuk kita semua

Sekitar beberapa hari yang lalu, ketika saya berangkat ke kampus, kulihat wajah tampanmu dan wajah cantikmu terpampang di jalanan. Mulai gerbang utama kampus dua maupun kampus tiga, bahkan disetiap tempat umum, tempat pergumulan mahasiswa berkumpul, fotomu beredar disana, tampilan mimik wajah yang meyaqinkan, ditambah pakaian Jas membalut ditubuhmu agar terlihat gagah perkasa, juga terdapat visimisi yang siap diiklankan untuk memantapkan pemilihnya.

Visi-misimu rupanya sedikit menghiasibackground gambarmu agar tampak semakin indah, tentu terlihat begitu serius bahwa kamu adalah orang yang layak dan pantas untuk menjadi seorang pemimpin kampus yang siap siaga akan membawa perubahan pada dunia kampus yang semakin lama menjenuhkan dan menyesakkan dada ini.

Kamulah calon pemimpinku wahai para calon Ketua DEMA-U, DEMA Tingkat Fakultas, SEMA-U maupun SEMA-F, tak lupa calon Ketua HMJ tingkat jurusan di seluruh Fakultas. Di manapun kamu berada, dari latar belakang manapun kamu berangkat, serta dari partai apapun kamu diusung, ku harap kamu membaca surat ini, surat yang datang dari calon rakyatmu. Ingat..!!! calon rakyatmu.

Setelah sekian lama ku menatapmu serta mengamati visi-misimu, detik ini pula, aku tidak melihatnya lagi kemana gambarmu yang meyakinkan itu, ternyata saya baru sadar, bahwa hari esok (19/12) gambarmu yang menandakan ajakan terhadap mahasiswa untuk memilih, bukan lagi dipajang di MMT dengan ukuran lebar dan tinggi setinggi visi misimu, dan luas membenteng seluas harapan rakyatmu, akan tetapi gambarmu akan berada di atas kertas untuk siap dicoblos guna menentukan pimpinan Intra kampus priode 2017-2018.

Saya berharap bahwa kepempinanmu lebih baik dan maju dari pada tahun sebelumnya, kalau memang mereka yakin baik, kalau tidak, maka kamulah yang bertugas membenahi. Jangan sampai memperparah keadaan, kalau memang ini yang terjadi, maka sikap kepemimpinanmu tak ubahnya seperti sebagian pemimpin negeri ini, pemimpin yang diwarisi oleh Founding Fathers untuk meneruskan cita-cita Indonesia, tapi yang ada justru sebaliknya, pemimpin rakus yang telah memakan uang rakyat sudah tak terhitung jumlahnya, menipu negara melalui jurus muslihat tipu daya, menghianati konstitusi yang mengatasnamakan rakyat tetapi mementingkan urusan pribadi maupun kelompoknya, dan menelanjangi asas demokrasi sebagai tonggak pemerintahan negeri ini.

Kamu ingat kalau sang Pemimpin Revolusi Ir. Soekarno pernah berkata, kalau pemuda mampu mengguncangkan dunia? Masih ingatkah kamu, sebuah pepatah yang menyatakan bahwa pemuda saat ini adalah generasi masa depan? Kalau kamu ingat, apakah sikap itu sudah kamu tanamkan di benakmu sebelum namamu terdaftar di kotak suara? Kalau memang iya, apakah kamu meyakinkan dirimu sendiri bahwa kamu termasuk pemuda yang dimaksud Soekarno dan disebut dalam pepatah tersebut? Dan pertanyaan terakhir, untuk siapakah dirimu sebenarnya, apakah untuk kepentingan rakyat keseluruhan dalam hal ini adalah mahasiswa? Pertanyaan ini tidaklah membutuhkan jawaban melalui rangkain kata untuk kau balas calon pemimpinku, tetapi dibalas melalui tindakan nyata sesuai visi-misimu yang telah meyakinkan rakyat memilihmu.

Pertarungan politik dan menjadi pemimpin di ranah kampus, hendaknya dijadikan sebagai ajang langkah awal belajar berpolitik, jika dalam ranah yang sempit saja kamu masih belum bisa berproses dengan cara sehat dan juga dewasa, maka jangan harap suatu saat nanti dikala engkau memimpin bangsa yang lebih besar, akan terbebas dari penyakit kronis yang menakutkan masyarakat. Sebab suatu yang tinggi berasal dari yang rendah, suatu yang besar berawal dari yang kecil. Itulah yang harus dilakukan bagimu calon pemimpinku saat kamu menduduki kursi kekuasan sekaligus kehormatan.

Mewakili masyarakat kampus (Mahasiswa), Surat ini ditulis dengan kelapangan dada dan penuh harapan kepadamu calon pemimpinku. Tunjukkan bahwa kamu adalah seorang pemimpin yang mempunyai tanggung jawab atas apa yang dipimpin, bukanlah seorang pemimpi yang tidur pulas seakan tak ada masalah yang harus diselesaikan.