Pancasila Itu Kiri atau Kiri Itu Pancasilais ?

0
467
sumber ilustrasi : alineatv.com

Oleh :Erlangga Danny Rimba Pradana

Apa yang terjadi dengan Pancasila saat ini semakin terpinggirkan ke lorong yang sempit. Sejak sang penggalinya sendiri, Bung Karno meninggal, dibawah rezim militeristik Orde Baru dilakukan upaya de-Soekarnoisasi sebagai upaya untuk melanggengkan kekuasaannya. Sejak zaman Orde Baru, kaum penindas dan oportunis mengejar pengikut ajaran Bung Karno, menyebarkan kampanye kebencian dan kedengkian yang jahat sehingga yang tampak saat ini, Pancasila ibarat a sheet of a loose sand saja. Jadi ajaran Bung Karno yang kiri dianggap sebagai musuh negara.

Ironisnya mereka yang anti-kiri menganggap diri mereka sebagai penyelamat Pancasila. Saat ini di Indonesia terbagi dalam tiga kelompok Pancasila. Pertama, kelompok yang mengklaim sebagai pembela Pancasila tetapi mereka tidak memahami esensi Pancasila itu sendiri. Kedua, kelompok yang menganggap Pancasila sebagai slogan-slogan kosong saja. Ketiga, kelompok yang benar-benar memahami Pancasila dari esensinya secara menyeluruh.

Pada tanggal 6 November 1965, dihadapan Sidang Kabinet Dwikora, Bung Karno berpidato dengan marah-marah atas upaya menyelewengkan Pancasila menjadi ke kanan,

Pancasila adalah kiri? Oleh karena apa? Terutama sekali karena di dalam Pancasila adalah unsur keadilan sosial. Pancasila adalah anti-kapitalisme. Pancasiala adalah anti-exploitation de l’homme par l’homme. Karena itulah Pancasila kiri. Jangan kira kiri is allen maar anti-imperialisme. Jangan kira kiri hanya anti-imperialisme, tetapi kira juga anti uitbuiting. Kiri juga menghendaki satu masyarakat yang adil dan makmur, di dalam arti tiada kapitalisme, tiada exploitation exploitation de l’homme par l’homme. Ja, als jullie mij nog lusten, behoudt mij ! Als jullie mij nit luste, gooi mij maar weg als. (Ya, kalau kalian masih suka saya, pertahankanlah saya! Kalau kalian tidak suka lagi, buanglah saya !)

Unsur utama Pancasila ialah keadilan sosial. Kiri adalah sikap politik yang menghendaki adanya suatu keadilan sosial tanpa adanya praktik imperialisme, kapitalisme, dan penghisapan atas manusia dengan manusia. Dalam konsep pemikiran Islam progresif pun sebenarnya terkandung substansi politik kiri. Lalu mengapa tidak memakai istilah Kiri Islam?Karena istilah kiri lebih identik dengan Marxisme yang dalam praktiknya telah tercemar oleh eksperimen yang salah. Islam progresif, Islam yang kiri menghendaki Islam yang sesuai dengan kemajuan zaman, tidak ortodoks. Islam yang menolak segala tindakan yang tidak mencerminkan perikemanusiaan, penghisapan atas manusia dengan manusia, segala perbuatan yang taqlid buta terhadap ilmu yang dipelajari.

Dalam pidato Bung Karno sidang BPUPK tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno mengajukan lima prinsip: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, Mufakat atau demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan yang Berkebudayaan. Kelima prinsip itu lalu diperas menjadi tiga prinsip yakni, Ketuhanan Yang Maha Esa, sosio-nasionalisme, dan sosio-demokrasi. Dari ketiga prinsip itu diperas menjadi gotong royong. Inilah prinsip yang mewakili keseluruhan refleksi masyarakat indonesia yang berlandaskan gotong royong. Semua bekerja membanting tulang buat bersama, keringat bersama, dan perjuangan saling membantu buat bersama, sama rasa sama rata. Inilah sosialisme Indonesia. Prinsip-prinsip ini lalu dirumuskan kembali oleh para pendiri bangsa kita.