Rakyat Yang Kecewa

0
103
Sumber gambar: https://media.istockphoto.com

“Mak, Mak, ada banyak anjing!”

Anak kecil itu berlari bersama ke-lima temannya menuju ibunya, sambil berteriak kalimat yang serupa. Terbirit-birit seperti melihat hantu disiang bolong. Ibunya yang masih berkumpul di depan warung, bingung dibuatnya.

“Ada apa Dek, kenapa kau berlari dan berteriak seperti itu? Lagi pula, mana ada anjing di desa ini,” tanya mamaknya bingung.

“Tidak mak, benar ada anjing, banyak juga jumlahnya.”

“Yang benar saja kamu, mana mungkin anjing itu datang kemari dengan sendirinya.”

“Aku tidak bilang jika anjing itu datang sendiri mak, mereka datang bersama orang-orang yang memakai baju hitam mak. Membawa pentung panjang, memakai bola hitam di kepala, memakai topeng seperti penjahat, dan ada mobil besar juga mak,” ujarku meyakinkan emak.

Ibu-ibu lainya yang berada di warung ikut melihat kearah anak itu. Pemilik warung sendiri membunyikan kentongan yang berada pada tiang bambu warung itu. Banyak yang berbisik-bisik. Tak lama beberapa warga datang ke warung itu.

“Deka, kamu melihat mereka di mana?,” aku tau siapa yang bertanya ini, emak sering memanggilnya bu RT.

“Kita melihatnya di jembatan masuk bu,” ujar teman anak itu.

“Ah, tapi mereka tidak masuk ke desa kita. Mereka hanya membuat barisan berjajar seperti tembok hitam mak.”

Salah satu warga ada yang berteriak geram “Mengapa mereka dengan kejinya melakukan ini semua, apakah tidak cukup dengan uang dan kekuasaan itu?.”

Ya, kejadian dua puluh tahun yang lalu. Anak kecil itu adalah aku, Gusty Deka. Di tanah yang ku injak kini adalah bekas tempat bermainku yang menyenangkan dengan udara sejuk yang menyapaku setiap pagi. Dulu memang sangat hijau tempat ini, bahkan Deka kecil pernah menghitung mungkin ada dua ribu pohon yang tertanam. “Anak kecil itu, selalu saja punya hal yang membuat orang lain terkejut,” senyumku mengingat tingkahnya dulu.

Sekarang, dihadapanku. Hanya tersisa bekas tambang yang dulu dilakukan oleh pemimpin negeri. “Mungkin lebih tepat sebagai suruhan, atau orang bayaran ya,” batinku. Kembali kusunggingkan senyumku. Enak sekali orang pemilik uang rakyat itu. Bisa menyuruh siapapun untuk menjalankan keinginannya. Bahkan dengan sangat mudah menyingkirkan dan menangkap tetanggaku dulu.

“Untuk apa pak, kalian menangkap kami,” teriak salah satu warga yang diseret paksa oleh orang berseragam hitam itu. Namun, orang itu hanya diam saja tidak menjawab.

Deka kecil berpikir bahwa orang berseragam hitam itu bisu, karena tidak mempunyai mulut. “Mereka sudah jahat dengan kami. Tapi tuhan baik, karena tuhan tidak memberikan mulut untuk orang-orang jahat seperti mereka. Terimakasih tuhan,” ucap anak itu.

Mulanya Deka kecil dan teman-temannya merasa senang ketika melihat robot kuning besar datang ke desanya. Mereka pikir itu merupakan bentuk nyata dari berbagai mainan yang mereka punya. Saat petang datang ketika pulang sekolah madrasah mereka bermain kesana. Sengaja mengambil waktu itu, agar tidak kena marah dengan bapak topi kuning yang menjaga. Masa kecil memang begitu menyenangkan, apalagi ditambah tempat tinggal dengan alam yang mendukung seperti Desa Wadas.

Aku kembali menaiki motorku, menuju Bendungan Bener yang telah berhasil dibuat tapi tidak berguna itu. Tentu saja, memang pemilik uang banyak yang menggunakan uangnya untuk membangun tanpa berpikir untuk keberlanjutan ekosistem, terkesan egois memang.  Suasana yang sangat berbeda ketika aku pertama kali bisa berjalan menapaki tanah desa ini. Gersang, buruk rupa, sepi, itulah yang aku rasakan kini. Jauh berbeda dengan dulu yang dikara.

Sampailah aku di Bendungan Bener, memang ya, seperti namanya yang Bener bendungan itu bener-bener menyusahkan rakyat. Tak kusangka orang yang telah menamai bendungan itu sangat pandai. Hingga ia bisa mendefinisikan nama itu dengan keadaan masyarakat sekitar bendungan.

Aku menepi, menuju pinggiran bendungan. “Hai,” sapa Bimo teman kecilku.

“Lama banget Dek, katanya udah jalan dari tadi,” lanjutnya.

“Ah itu, tadi aku mampir dulu di bekas tambang, kamu tahu kan? Sudah lima belas tahun saya tidak melihatnya,” ungkapku jujur.

“Ternyata kawanku ini belum juga move on dari masa lalunya.”

“Ya, kamu tahu sendiri lah bim, bagaimana masa kecil kita yang seronok itu berubah dengan kejamnya.”

“Iya dek, aku juga merasa sangat asing dengan desa kita. Padahal ya aku masih tinggal di sekitaran desa ya. Apalagi kamu, yang udah bertahun tahun menikmati salju di luar negeri.”

“Ah ingat kamu Bim, waktu kita malam-malam bersama Radit dan Satria pergi cari durian jatuh?.”

“Bagaimana aku bisa lupa Dek saat kita hampir digebukin bapak aku. Dikiranya pekerja tambang yang mau mencuri durian.”

“Satria sampai ngompol gara-gara ketahuan warga,” tawa kita pecah begitu saja mengingat kejadian itu.

“Lalu Dek, rencana kamu selanjutnya gimana? Apa kamu mau tinggal saja disini. Eh, apa jangan-jangan kamu sudah dapat tawaran kerja di kota sana ya Dek?.”

“Tidak Bim, aku tidak akan kerja di kota. Mungkin aku akan membangun rumah dekat denganmu. Emak dan bapak yang akan menempatinya. Kamu tau kan, tanah yang dijual dekat lapangan itu?.”

“Loh kalau kamu bangun rumah disini, kamu akan kerja disini juga dong?”

“Tidak juga, Bim.”

“Kalau tidak bekerja, terus kamu mau menganggur Dek? Sayang sekali dengan ijazah doktor mu Dek,” tanya Bimo dengan nada khas miliknya.

“Aku sudah bekerja Bim, bahkan sejak sebelum aku kuliah S3. Aku bekerja di Bayer AG bidang farmasi seperti itu Bim, di Jerman sana.”

“Kenapa juga kau jauh-jauh kuliah di luar negeri dan juga bekerja disana, kalau kau hanya ingin menjadi apoteker Dek?,” gemas Bima.

“Bukan apoteker Bim, aku disana meneliti. Menjadi peneliti. Toh, buat apa aku bekerja untuk negara yang sudah menyengsarakan rakyatnya sendiri Bim.”

Bima terdiam. Kami menikmati petang bersama. “Mari pulang Dek, mamaku sudah menyiapkan makanan untukmu.” [Ed. Alvin/Red. IrchamM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here