Mempertanyakan Kembali Kategori Abangan, Santri, dan Kyai di Muslim Jawa

0
42
ilustrasi sumber; republika.co.id

Oleh: M. Lutfi Nanang Setiawan (Alumni Ponpes Tebuireng Jombang)

Semarang, Justisia.com – Berbicara soal agama, maka berbicara pula soal privat. Artinya, itu adalah setiap insan memiliki kebebasan kehendak dan kebebasan memilih sesuai keyakinannya. Suatu agama yang dipahami dan dihayati oleh sesesorang sangat bergantung pada keseluruhan latar belakang dan kepribadiannya. Faktor itu yang kemudian menuntun kepada ranah agama sebagai urusan privat, bukan publik.

Meski agama adalah urusan setiap insan yang dihayati melalui perjalanan mencari jati diri kepribadian dan latar belakang, bukan berati ajaran yang dibawa juga bersifat privat. Kajian yang diperoleh melalui ajaran yang dibawa agama bisa bersifat universal. Sekali pun ini juga menjadi dalih atas entitas agama yang diatribusikan sebagai persoalan sosial, dus emosional.

Melalui pendekatan ajaran, setidaknya dalam sebuah agama memuat unsur-unsur berikut (Rizal 2020, 68-69); ritual, mistikal, ideologikal, intelektual, dan sosial. Dimensi-dimensi yang menyelimuti agama itu kemudian lebih jauh menyasar pada aspek kebudayaan dan peradaban. Kaitannya dengan konten sosial-emosional, lima dimensi itu saling melengkapi menjadi keseluruhan yang kompleks.

Selain agama sebagi ihwal primordial yang melekat pada setiap insan sebagai hamba Tuhan, juga tidak bisa lepas kaitannya dengan interaksi sosial. Karena agama bukanlah sekedar seonggok wahyu yang turun dari langit, membawa himpunan ayat dogmatik dan otoritik, atau kejadian-kejadian yang berujung kepada debat problematik, tetapi (idealnya) juga merespon kebutuhan praktik.

Desakan kepada entitas agama yang melayani kebutuhan praktikal tentunya tidak bisa dilepaskan dari berbagai faktor, salah satu yang kuat untuk dijadikan alasan adalah beragamnya interpretasi atas ajaran-ajaran agama terhadap manifestasi kehidupan keagamaan (Pranowo 2009, 2). Tidak kalah pentingnya dengan peran aktif masyarakat dalam memahami dan menjalankan ajaran agama.

Alasan terakhir ini yang kemudian menjadi sentral pembahasan menulurusi jejak munculnya kategori abangan, santri, dan kyai di Islam Jawa. Seakan menciptakan jarak, juga trikotomi yang berujung pada klasifikasi kasta terhadap masyarakat Islam Jawa. Selain interpretasi yang beragam, tendensi yang berasal dari luar melalui berbagai format dan corak; intervensi politik, penggiringan opini publik, dan sebagainya.

Dari Tradisi Menuju Trikotomi

Kembali menyisir sejarah lampau memperlihatkan kepada kita ada beberapa temuan teori yang dapat digunakan untuk menjabarkan asal muasal kategori abangan, santri, dan kyai. Teori itu adalah (Mulkhan 2003, 4-5), pertama, peran signifikan militer dalam perpolitikan nasional seperti terlihat pada kasus Amandemen UUD 1945 di dalam sidang Tahunan MPR 2002 dan; kedua, Tesis Geertz melalui pendekatan sosiologi agama yang didasarkan pada model keberagaman masyarakat Jawa.

Pertama, toeri peran signifikan yang muncul dari pergulatan kekuatan politik sektoral diruntuhkan karena barang kali kekuatan politik lain memiliki potensi muncul setiap saat – termasuk kekuatan politik ekstra parlementer atau kekuatan dari luar negeri – juga bisa mengubah realitas yang terjadi. Maka, teori ini bisa diuji melalui perjalanan sejarah yang sudah terjadi.

Kedua, teori Greetz melalui pendekatan sosiologi agama yang didasarkan pada model keberagaman masyarakat Jawa dianulir oleh hasil penelitian PPIM (Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat) Universitas Islam Negeri Jakarta yang diberitakan oleh Harian Republika tanggal 10 Oktober 2002. Melalui toeri kedua ini, uraian berikut hendak menelanjangi antitesis yang diluncurkan oleh PPIM atas tesis yang dibuat oleh Greetz.

Simpulan hasil penelitian itu menyatakan (Mulkhan 2003, 3), “… latar belakang seseorang tak menentukan sikap keberislamannya. Seseorang yang punya latar belakang keluarga abangan atau priyayi, ternyata kini menunjukkan sikap yang semakin santri. Fakta ini bukan klaim, melainkan berdasar kenyataan lapangan.” Meski penelitian PPIM tidak melibatkan variabel-variabel yang bersangkutan bukan berati tidak bisa menggugurkan tesis Greetz, justru memantapkan hasil laporan Greetz di Pare pada tahun 1950-an.

Toeri yang digunakan oleh Greetz dalam memetakan alamat identitas dan klasifikasi masyarakat muslim di Jawa bukanlah yang pertama, melainkan sebuah teori umum dalam pemikiran sosiologi, lebih khusus sosiologi agama tentang hubungan keberagaman dan realitas sosial. Greetz mendasarkan teorinya kepada sikap keberagaman atau keberislaman seseorang dengan pola kerja. Corak kehidupan sosial yang tercermin dalam pola kerja itu yang kemudian mempengaruhi identitas dan karakter seseorang.

Pembacaannya dalam kerangka analisis klasifikasi masyarakat Islam Jawa diasumsikan melalui varian keberagaman masyarakat Jawa yang dipengaruhi oleh tiga inti struktur sosial yaitu; desa, pasar, dan birokrasi pemerintah (Tago 2017, 83). Hal ini juga tidak bisa dipisahkan dari pandangan dunia Jawa yang dihadapkan pada sistem stratifikasi sosial di Jawa. Pendek kata, lingkungan yang berbeda berdampak pada identitas masyarakat Islam Jawa yang ada.

Kelompok abangan (Mulkhan 2003, 8) adalah mereka yang menekankan aspek animistik dengan dominan mata pencaharian petani. Hal ini didasarkan pada kehidupan petani yang rata-rata sarat dengan ajaran nenek moyang, seakan menggambarkan ajaran keislaman yang sinkretik. Tidak murni mengadopsi fundamentalisme Islam yang murni, namun menyisipkan kepercayaan magis. Dalam hal ini, kebenaran yang mereka anggap adalah kesucian kesadaran personal.

Kelompok santri (Pranowo 2009, 8) diasosiasikan dengan islam yang murni. Ciri tradisi beragama kaum santri adalah pelaksaaan ajaran dan perintah dasar-dasar agama Islam secara hati-hati, ketat, teratur dan juga displin dalam organisasi sosial dan amal. Meski demikian, sikap monoteisme murni, moralimse yang ketat, perhatian yang ketat terhadap doktrin, dan ekslusivisme yang tinggi adalah hal yang asing bagi masyarakat Islam Jawa. Dan ini yang menjadi alasan kelompok santri (tetap) menjadi minoritas.

Kelompok priyayi (Tago 2017, 85), oleh Greetz diasumsikan sebagai golongan bangsawan (ningrat) yang dekat dengan kekuasaan. Wilayah keraton atau kerajaan menjadi latar utama persebaran golongan itu. Sesekali, mereka menggunakan kuasa dan memanfaatkan kepemimpinan ideologis dan kultural terhadap seluruh masyarakat. Identitas priyayi adalah nrima, sabar, dan ikhlas.

Pengklasifikasian di atas kiranya tidak hanya muncul sepihak dari bagaimana dan di mana latar belakang seseorang; santri dengan desa, abangan dengan pasar, atau priyayi dengan birokrasi pemerintah, tetapi juga melihat kuasa hukum alam yang terfragmentasi melalui pandangan dunia Jawa terhadap stratifikasi masyarakat Islam di Jawa.

Sebuah Catatan

Secara objektif dapat ditarik konklusi bahwa termasuk hal yang mustahil seseorang beragama terlepas dari lingkungan adat dan kultur. Oleh karena itu sulit diterima jika ada pernyataan bahwa seseorang bisa beragama tanpa dibentuk oleh kulturnya. Melalui pembacaan fakta dan realitas di atas, terdapat ikatan yang kuat antara agama dan tradisi. Terlebih, posisi tradisi yang mengakar kuat pada suatu tatanan masyarakat dapat menjadi ‘penghalang’ dalam proses Islamisasi (Abdurrahman, n.d., 147).

Meski melahirkan kesenjangan dan ketimpangan antara trikotomi dalam keseharian masyarakat Islam di Jawa, semakin bergulirnya zaman dapat disimpulkan akan ‘latar belakang personal mempengaruhi citra sosial.’ Dalam arti, tidak melulu orang yang lahir dari abangan akan menjadi seorang abangan, dan seterusnya. Justru melalui pembacaan lebih suntuk terhadap proses Islamisasi Jawa, para Walisongo tidak segan mengintegrasikan tradisi nenek moyang dengan ajaran Islam untuk memudahkan.

Pun, beberapa cendekiawan kontemporer Indonesia seperti Abdurahman Wahid dengan proyek intelektualnya ‘Pribumisasi Islam’ (Damanhuri 2003) mencoba menghilangkan batas antara tradisi adat yang bersifat animistik dan sinkretik dengan ajaran agama yang dogmatik dan teoritik. Integrasi tidak hanya sebatas alam ide dan wacana, tetapi juga menapak realita seperti halnya perubahan tokoh wayang yang disesuaikan dengan tokoh Islam atau arsitektur bangunan rumah ibadah. [Red. M2]

Penulis merupakan alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang

Kepustakaan

Abdurrahman, Muslim. N.D. Islam Sebagai Kritik Sosial. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Damanhuri. 2003. “Mempertimbangkan Kembali Pemikiran Gus Dur Bagl Kontekstualisasi Ajaran Islam Di Indonesia.” Millah 3 (1).

Mulkhan, Abdul Munir. 2003. Moral Politik Santri: Agama Dan Pembelaan Kaum Tertindas. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Pranowo, M. Bambang. 2009. Memahami Islam Jawa. Tangerang Selatan: Pustaka Alvabet.

Rizal, Faisol. 2020. “Agama Dalam Pluralitas Budaya.” Tafaqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman

Tago, Mahli Zainudin. 2017. “Agama Dan Integrasi Sosial Dalam Pemikiran Clifford Geertz.” Kalam.

Konten Kolaborasi NU Jateng bersama Justisia.com dan PMII Kom. UIN Walisongo selama Ramadhan 1443 H.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here