Mbah Yai II

0
83
ilustrasi/ sumber; tambakberas.com

Semula, Mbah Yai selalu pergi ke mana-mana sendiri. Mulai dari antarkota, antarprovinsi, sampai antarpulau pun beliau selalu menyetir mobil sendiri. Sebegitunya Mbah Yai karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Namun, karena belakangan ini kondisi kesehatan beliau menurun, beliau akhirnya mulai memerlukan seorang sopir jika hendak bepergian jauh. Mbah Yai pun meminta Kang Wahyu untuk belajar menyetir mobil. Beliau sendiri yang mengajari Kang Wahyu di lapangan dekat pondok saban sore bakda Asar. Kang Wahyu manut-manut saja sekalian menambah keahlian, biar tidak dikira santri itu cuma bisa mengaji dan berceramah.

Ternyata tak butuh waktu lama bagi Kang Wahyu untuk belajar menyetir, hanya sekitar tiga hari sampai dia mahir. Cara Mbah Yai mengajari tentu juga berpengaruh. Sejak saat itu, Kang Wahyu yang menyopiri Mbah Yai tiap beliau bepergian.

Hari ini Mbah Yai harus menghadiri undangan mengisi pengajian di kota R. Ada acara maulid nabi di salah satu pondok pesantren di sana. Kang Wahyu sudah memanasi mobil sejak tadi sembari menunggu kiainya bersiap-siap.

“Ayo, Kang, kita berangkat sekarang.” Ucap Mbah Yai yang baru keluar dari ndalem[1]. Beliau tampak rapi dan sangat berwibawa.

Nggih.” Jawab Kang Wahyu sambil segera masuk ke mobil sedan tahun 80-an milik Mbah Yai. Beliau memang lebih suka mobil klasik.

Di dalam mobil, Kang Wahyu menyetir sambil sesekali melirik ke arah Mbah Yai dan dia lihat bibir gurunya selalu basah dengan zikir. Kang Wahyu pun penasaran dan mencoba memberanikan diri untuk menanyakan apa yang Mbah Yai wiridkan.

“Maaf, Mbah Yai, …” Belum selesai ucapannya, Mbah Yai tiba-tiba berkata,

“Selawat itu penting, Kang. Fadhilah selawat juga banyak sekali. Paling tidak sehari itu seseorang diusahakan membaca selawat 315 kali; kalau bisa 1000 kali malah lebih bagus. Lafalnya terserah, yang penting selawat.”

Kang Wahyu terdiam sejenak. Dia agak bingung karena seolah-olah beliau sudah tahu apa yang akan dia tanyakan. “Nggih, Mbah Yai.” Jawabnya lirih lantas tetap fokus menyetir. Dadanya mulai berdebar-debar kali ini. “Nuwun Sewu, Kalau boleh, saya ingin tanya sesuatu, Mbah Yai.” Tambahnya.

“Bagaimana, Kang?”

“Cara supaya hati menjadi bersih itu bagaimana, nggih? Biar terbebas dari segala macam penyakit hati, Mbah Yai.” Tanyanya dengan nada rendah.

Mbah Yai tersenyum mendengar pertanyaan menarik dari santrinya itu. “Wudu, Kang, Wudu.” Jawab beliau singkat.

Kang Wahyu langsung mengerti sembari mengangguk mendengar jawaban sederhana dari kiainya itu. Dia bersyukur menjadi sopir pribadi beliau karena selain bisa berkhidmat kepada guru. Dia juga bisa menanyakan sesuatu yang belum dia tahu atau mempertebal ilmu yang sudah dia hafal.

Kejadian seperti ini terus berlangsung selama Kang Wahyu menjadi santri Mbah Yai hingga beberapa tahun dan akhirnya dia memutuskan untuk boyong dan kembali ke kampungnya.

***

Sehabis melaksanakan wazhifah zikir bakda subuh, Mbah Yai berbalik badan dan dengan sangat teliti mengamati para santri pelan-pelan satu per satu seperti sedang mencari seseorang. Setelah pandangan beliau tertuju pada salah seorang santri lama yang umurnya sudah cukup tua, beliau berucap,

“Kang Hilda setelah ini langsung ke ndalem, ya?”

Tidak tahu apa-apa, Kang Hilda yang berada di barisan tengah sontak terkejut dengan permintaan gurunya itu namun dia tetap berusaha meredakan dadanya lalu menjawab, “Nggih, Mbah Yai, ndherekaken.”

Mbah Yai berdiri kemudian berjalan pelan menuju ndalem sementara Kang Hilda mengikuti beliau dari belakang. Begitu sampai, Mbah Yai menawarkan santrinya itu ingin minum apa. Kang Hilda yang merasa sungkan hanya menyahut, “Tidak, Mbah Yai. Tidak perlu repot-repot.” Katanya dengan senyuman tipis dan tatapan menunduk ke bawah.

“Lho… Bukan begitu. Kamu memang muridku,  Kang. Tapi, sekarang kamu ini sebagai tamuku. Ayo, mau minum apa? Teh apa kopi?” Ucap Mbah Yai santai.

Mboten, Mbah Yai. Tidak apa-apa.”

“Ah, jangan begitu, Kang. Kalau begitu kopi saja, ya?”

Nggih, ndherekaken.”

Mbah Yai lalu memanggil santri ndalem, Kang Anas, untuk meminta dibuatkan kopi. Beliau kemudian masuk ke kamar entah untuk apa sementara Kang Hilda hanya menunggu di ruang tamu sendiri. Selang beberapa saat, Mbah Yai keluar dan membawa lembaran-lembaran yang tampaknya seperti ada tulisan Arabnya.

“Bacaan-bacaan ini dihafalkan, Kang. Kalau sudah hafal, nanti dibaca rutin, ya. Saya ijazah-kan padamu.” Ujar Mbah Yai tiba-tiba.

Kang Hilda kembali terkaget namun kali ini lebih lagi. “Qobiltu, Mbah Yai.” Katanya dengan menganggukkan kepala karena dia tidak mungkin berani menolak perintah kiainya. Bisa bahaya. Tapi yang membuatnya heran mengapa dari sekian banyak santri hanya dia yang dipanggil Mbah Yai. Dia pendam pertanyaan itu tanpa pernah dia tanyakan kepada siapa pun termasuk Mbah Yai sendiri.

Sejak saat itu, Kang Hilda selalu melazimkan zikir yang Mbah Yai amanahkan sambil tetap mengikuti kegiatan rutin di pesantren hingga bertahun-tahun sampai tiba waktunya Kang Hilda untuk boyong pulang ke kampungnya. Dia pun sowan ke ndalem untuk berpamitan. Mbah Yai serta-merta mengizinkan sambil berujar, “Mulai sekarang, kamu saya baiat jadi mursyid tarekat, Kang. Nanti kalau sudah sampai kampung, buka majelis zikir. Insya Allah jamaahnya gemruduk[2].”

Nggih, ndherekaken.” Jawab Kang Hilda dengan perasaan yang sangat lega. Pertanyaan yang dia simpan selama bertahun-tahun akhirnya terjawab sudah. Ternyata ini tujuan Mbah Yai memanggilnya malam itu. Dia juga diberitahu seluk-beluk tarekat yang diamalkan gurunya itu. Ternyata di kota itu, Mbah Yai adalah satu-satunya mursyid yang dipilih langsung oleh seorang kiai yang menjadi mursyid pusat dari tarekat ini. Beliau berasal dari kota Y. Kang Hilda sangat beruntung karena telah dipilih langsung oleh Mbah Yai sebagai penerus estafet tarekat ini.

Sesudah tiba di kampungnya, Kang Hilda melaksanakan perintah Mbah Yai dengan membuka majelis zikir. Kegiatan itu dilaksanakan tiap malam Rabu di musala kecil yang dia bangun dari kayu. Awalnya hanya 3-4 orang saja yang datang, itu pun tetangga dan kerabat dekatnya. Namun lama-kelamaan, jamaahnya menjadi sangat banyak dan dari berbagai pelosok daerah. Musala kayu itu sampai tidak muat hingga beberapa kali direnovasi dan sekarang menjadi gedung aula besar yang bisa ditempati 1000 orang. Ternyata betul apa yang diucapkan Mbah Yai, jamaahnya benar-benar gemruduk.

***

Pak Moksan selalu rutin sowan ke ndalem Mbah Yai setiap pekan entah untuk mengadukan keluhan hidupnya atau meminta didoakan atau memang hendak berkunjung sekadar memandang wajah Mbah Yai yang teduh. Tiap kali datang, Pak Moksan pun sering membawa sesuatu seperti buah-buahan, gula, kopi, teh, atau langsung berupa amplop. Meski pendapatannya sendiri tidak seberapa, pokoknya saat sowan harus ada yang dibawa untuk Mbah Yai. Mbah Yai sendiri setiap hari memang selalu menerima tamu dengan tangan terbuka, termasuk Pak Moksan.

Sehari-hari, Pak Moksan bekerja di pasar sebagai penjual barang-barang sembako. Kiosnya memang relatif besar karena dia memang sudah lama merintis usahanya. Meski begitu, dia tidak ingin mengambil keuntungan terlalu banyak. Niat Pak Moksan tulus untuk membantu memenuhi kebutuhan orang-orang. Sementara di rumahnya, dia memiliki tanggungan seorang istri dan tiga orang anak laki-laki yang masih dipondokkan di pesantren. Pak Moksan tidak memiliki pemahaman yang dalam perihal agama dan tidak mempunyai nasab pendahulu yang kiai atau seorang tokoh agama. Namun, dia ingin anak-anaknya kelak menjadi orang-orang alim dan saleh. Cukup aku saja yang bodoh, anak-anakku jangan, begitu harapan yang selalu dia simpan dalam dadanya.

Malam ini, Pak Moksan sowan ke ndalem Mbah Yai dengan membawa sekeranjang buah yang dia beli di toko dekat kiosnya di pasar.

Assalamu’alaikum, Mbah Yai.”

Wa’alaikumussalam. Monggo, silakan masuk, Pak Moksan.”

Pak Moksan menghampiri Mbah Yai lalu mencium tangan beliau dengan tawadu baru kemudian duduk di paling pojok belakang. Kebetulan ada beberapa tamu lain sehingga Pak Moksan hanya menyimak pembicaraan Mbah Yai dengan tamu-tamu beliau. Mbah Yai sesekali menghentikan percakapan untuk ganti mengobrol dengan Pak Moksan walau hanya sebentar.

“Pak Moksan bagaimana kabarnya? Sehat, nggih?”

Alhamdulillah sehat, Mbah Yai.” Jawab Pak Moksan sambil tetap menunduk tidak berani menatap mata beliau.

“Putra Pak Moksan itu ada tiga ya, Pak?”

Nggih.”

“Masih di pondok semua?” Tanya Mbah Yai lagi.

“Masih, Mbah Yai. Mohon doa restu Panjenengan jikalau berkenan.”

Alhamdulillah..” Seloroh Mbah Yai baru kemudian melanjutkan pembicaraan dengan tamu-tamu yang lain.

Pak Moksan masih duduk di tempat yang sama sambil tetap menyimak Mbah Yai berbincang dengan para tamu. Setelah beberapa lama dan dirasa cukup, Pak Moksan meminta izin untuk berpamitan. Yang agak berbeda—tiap kali Pak Moksan sowan dan hendak pulang, Mbah Yai selalu mengajak seluruh tamu berdoa bersama-sama untuk Pak Moksan. Doa yang dibaca Mbah Yai pun sangat panjang dan di sela banyaknya doa yang berbahasa Arab, ada sepotong doa pendek berbahasa Indonesia yang berbunyi, “Allahumma ya Allah, anugerahilah Pak Moksan putra-putra yang taat, alim, saleh, dan bermanfaat bagi orang banyak.” Begitu doa Mbah Yai. Pak Moksan sendiri selalu mengamini doa-doa beliau dengan mata berkaca-kaca dan tak jarang air matanya tidak dapat dia bendung. Selesai berdoa, Pak Moksan baru diperkenankan pulang. Begitu kira-kira yang terjadi saban Pak Usman sowan ke ndalem Mbah Yai. Bertahun-tahun rutinitas tersebut Pak Moksan lakukan hingga Mbah Yai wafat.

Sepulang dari pesantren, anak-anak Pak Moksan pun boyong. Benar saja, mereka bertiga sungguh menjadi orang-orang yang mumpuni dalam bidang keagamaan. Ketiganya menjadi kiai besar dan masing-masing memiliki pondok pesantren sendiri dengan santri yang banyak. [Ed. Syafrin/ Red. M2]


[1] Sebutan halus untuk rumah seorang tokoh agama.

[2] Berbondong-bondong, sangat banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here