Membaui Bencana, Menyelami Petaka

0
34

Judul : Aroma Karsa

Penulis : Dewi Dee Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka (Cetak)

Tahun Terbit : 2018

Halaman : xiv + 710 hlm; 20 cm

Genre : Fiksi, Romansa, Petualangan, Fantasi

Resentator : Aminatun Rofingatus Sangadah

Membaca Aroma Karsa serupa menyelami pengetahuan Dee yang tidak ada habisnya. Pembaca diajak berkenalan sekaligus berkelana dengan dunia perfumer yang banyak menampilkan istilah-istilah kimiawi untuk menamai sebuah bau.

Sebelum ini saya belum pernah membaca cerita yang menggambarkan seorang nose, tetapi saya pernah sesekali menemukan seliweran cerita tentang aroma pembusukan mayat di buku kedua Serial Cormoran Strike karya Robert Galbraith. Jadi ketika membaca beberapa deskripsi soal bau mayat atau sampah di novel ini, saya tidak begitu kaget lagi.

Novel ini menyuguhkan 61 bab sebagai keseluruhan isi cerita. Aroma Karsa juga telah diterbitkan dalam versi digital melalui penerbit Bookslife dengan format cerbung sebanyak 18 bab. Aroma Karsa telah melalui berbagai proses riset sebelum dilahirkan, sehingga dapat menyuguhkan cerita yang unik serta edukatif dengan matang dan apik.

Cerita

Secara garis besar, cerita ini memuat bagaimana ambisi dapat mendorong seseorang untuk melegalkan segala cara demi meraih tujuannya. Selaras dengan judulnya, tujuan dari segala ambisi ini terletak pada Puspa Karsa. Bunga yang aromanya dianggap dapat mengubah dunia bagi siapapun yang dapat membebaskannya dari belenggu kegelapan hutan. Keluarga Prayagung dalam cerita ini adalah subjek yang diceritakan memiliki ambisi besar tersebut. Hal ini bermula dengan dongeng yang disampaikan Janirah kepada cucunya, Raras Prayagung, bahwa Raras harus menemukan sumber Puspa Karsa sebagai wasiat terakhirnya. Perburuan tiga generasi dimulai dari dongeng itu.

Selain Raras yang digambarkan sebagai seorang eksekutif dengan watak keras kepala dan ambisius, ada Jati Wesi dan Tanaya Suma. Keduanya merupakan tokoh utama dalam cerita yang memiliki kekuatan indra penciuman yang luar biasa. Sementara Suma hanya mampu membaui aroma yang bisa ia toleransi, Jati bahkan bisa memilah dan mengklasifikasi semua jenis bau, baik yang sedap maupun tidak. Hal ini dikarenakan Jati yang semasa 26 tahun hidupnya besar di TPA Bantar Gebang dan berhadapan dengan bukit sampah setiap harinya. Ia bisa melacak bahkan mengidentifikasi berapa lama usia mayat saat ditemukan.

Menurut saya, awal cerita ini masih disajikan dengan konflik atau misteri ringan. Walau membutuhkan beberapa bab untuk dapat menyambungkan benang satu kepada benang yang lain hingga memperoleh jawaban atas teka-tekinya. Namun semakin ke tengah, pembaca mulai diberi pemahaman bahwa semua jalinan konflik antara Jati-Suma-Anung-Ambrik semuanya adalah buah rekaan Raras Prayagung. Konflik makin menjadi manakala Jati merasa hanya dimanfaatkan untuk mencari dimana Puspa Karsa berada melalui hidungnya.

Cerita ini menggunakan alur maju mundur namun tidak merusak jalinan cerita. Justru pembaca dibawa menghayati isi cerita secara perlahan sembari terkuaknya satu per satu misteri. Tidak melulu diceritakan soal dunia bau, perfumer, atau misteri, cerita ini juga diselipi kisah roman antara Jati dan Suma. Kisah cinta tersebut memang masih mengandung konflik sekaligus inti cerita, namun setidaknya pembaca dapat merasa beristirahat dari teka-teki yang ada.

Memasuki bab Anggota Terakhir adalah awal yang membawa kita kepada klimaks cerita. Seolah pengalaman kegagalan ekpedisi pertama yang telah menghabisi tiga nyawa, tidak membuat Raras Prayagung gentar dan kini kembali menggelar ekspedisi kedua. Pembaca benar-benar dibuat gemas dengan ambisi Prayagung yang terlalu berlebihan. Di lain sisi, Jati mendapat petunjuk bahwa ia berasal dari Dwarapala, tempat dimana Puspa Karsa berada.

Misteri dan kejanggalan mulai terkuak sekaligus membuat berdebar bagi siapapun yang membacanya. Setelah sebelumnya dibawa meresapi aroma Bantar Gebang di awal cerita, selanjutnya Ibu Suri Dee membawa kita menelusuri aroma Gunung Lawu. Kita akan dipertemukan dengan makhluk astral penghuni Gunung Lawu, raksasa berbentuk kelabang yang disebut kiongkong, harimau penjaga hutan yang kepalanya sebesar empat kepala manusia, serta makhluk-makhluk lain yang hanya bisa dilihat manusia berkemampuan khusus. Klimaks ini sangat imajinatif dan terlalu membuat berdebar sepanjang Bab 47 sampai Bab 58.

Yang Terkenang

Semua watak tokoh berhasil digambarkan dengan kuat. Namun di antara itu, menurut saya yang paling menarik adalah Jati. Ia digambarkan terlalu sempurna secara watak, terlepas dari masa lalunya. Pria yang polos namun matanya memancar rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus kegigihan mencari asal-usulnya. Secara tidak langsung sifat Jati inilah yang mengantarkan Puspa Karsa kembali pada kebebasan sekaligus membuka bencana. Figuran yang walau muncul sekejap juga mampu membantu penegasan cerita dengan baik.

Ada banyak nilai yang bisa diambil dari cerita ini. Perihal ambisi yang tidak sebaiknya dipaksakan, tentang kejujuran, tentang menghargai orang lain. Namun yang cukup mengganggu adalah pada beberapa halaman yang tintanya tidak tercetak sempurna. Beberapa terlihat tinta mengambang di atas kertas dan tulisan tercetak miring. Namun lebih dari itu, isi cerita yang apik telah membayar sesuai, bahkan lebih dari harga.

Secara keseluruhan cerita ini cukup sempurna sebagaimana cerita-cerita Dee yang lain. Sisi imajinasi dalam cerita ini hampir sama nilainya dengan serial Supernova. Namun penggambaran konfliknya tidak serumit serial tersebut, walau masih lebih berat dari Perahu Kertas. Tetapi menemui ending yang tidak sesuai ekspektasi berikut plot twist-nya, saya kira semua pembaca dibawa terkaget-kaget dan sepakat protes, kenapa bisa seperti itu?